Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Organikkan Jogja Bukan Sekadar Gerakan tapi Jadikan Warga Peduli Penyelesaian Sampah, Dimulai dari Pemilahan Sampah Rumah Tangga

Heru Pratomo • Kamis, 5 September 2024 | 06:45 WIB
Inisiator Bank Sampah ‘Lintas Winongo’ Joko Sularno saat memanen hasil dari lubang biopori
Inisiator Bank Sampah ‘Lintas Winongo’ Joko Sularno saat memanen hasil dari lubang biopori

RADAR JOGJA - Organikkan Jogja menjadi upaya Pemkot Jogja untuk pengelolaan sampah di Kota Jogja. Melibatkan warga dan forum bank sampah. Diajak untuk mulai dari memilah sampah hingga memanfaatkan sampah organik. Apa saja yang dilakukan?

Emilia Mustiati punya kebiasaan baru sejak tak bisa lagi membuang sampah. Dia mulai memilah dan memilih sampah rumah tangga. Saat dimulai dengan gerakan zero sampah anorganik, warga RW 11 Badran, Bumijo, Jetis, Kota Jogja itu mulai mengumpulkan sampah kertas hingga plastic. Kemudian disetorkan ke Bank Sampah ‘Lintas Winongo’ yang ada di wilayahnya. “Seperti plastik bekas bakso itu dikumpulkan, dicuci kemudian seminggu sekali disetorkan ke Bank Sampah,” ujarnya, Selasa (3/9).

Kebiasaanya itu berlanjut. Tak hanya sampah anorganik, dia pun mulai mengolah sampah organik. Yang biasa ditemuinya, sebagai ibu rumah tangga, adalah sampah dapur. Di rumahnya sudah disiapkan ember tumpuk untuk sampah organik seperti buah atau sayur yang belum dimasak. “Untuk bekas makanan saya masukkan ke lubang biopori di depan rumah,” jelasnya sambil menunjukkan lima titik lubang biopori di halaman rumahnya.

Baca Juga: Kekerasan Terhadap Perempuan Terus Meningkat, Bagaimana Solusi yang Dapat Diterapkan di Kehidupan Sehari-hari?

Baca Juga: 3.500 Mustahik di Magelang dan Temanggung Terima Bantuan Modal Usaha dari Pemprov Jateng dan Baznas

Kebetulan, setelah beberapa bulan waktunya salah satu lubang biopori dipanen. Inisiator Bank Sampah ‘Lintas Winongo’ Joko Sularno pun meminjamkan alat untuk mengambil tanah di lubang biopori tersebut. Tak ada lagi bentuk bekas makanan. Hanya berupa tanah. Sudah menjadi kompos. “Wah cocok untuk media tanam ini, bisa tanam cabai,” ujar Joko kepada Emilia.

Berada di kawasan padat penduduk, lubang biopori di wilayah Badran memang tak harus berada di pekarangan rumah. Ada beberapa yang memanfaatkan paving block di depan rumah. Dengan satu paving block yang diberi lubang di atasnya untuk memasukkan sampah organik. Joko yang juga ketua forum bank sampah Kemantren Jetis ini menambahkan, di wilayahnya pengolahan sampah organik tak hanya dengan menggunakan lubang biopori.

Di dekat posko Bank Sampah ‘Lintas Winongo’ juga memanfaatkan bus beton. “Ada lima bus beton, di sebelah ini ada warung, sisa lalapan bisa dimasukkan ke sana,” ungkapnya. Esoknya akan disemprot dengan cairan ecoenzym. Menariknya ecoenzym juga dihasilkan sendiri oleh warga. Yaitu memanfaatkan kulit dan sisa buah-buahan. Prosesnya tiga ons kulit dan sisa buah tersebut dicampur dengan 10 liter air dan molase. “Dalam dua sampai tiga bulan jadi ecoenzym,” jelasnya.

Baca Juga: Datangi Kantor DPRD DIY, Puluhan Warga Bong Suwung Tuntut Penundaan Sterilisasi oleh PT KAI

Baca Juga: Menelusuri Destinasi Wisata Kabupaten Bantul: Ada Wahana Air di Embung Potorono

Upaya Organikkan Jogja, lanjut Joko, tak hanya dilakukan di wilayahnya. Dia mengaku barusan juga diundang untuk menjadi pembicara dalam pengolahan sampah organik di sekolah-sekolah. “Kuncinya dimulai dari kemauan memilah sampah organik dan anorganik,” paparnya.

Gerakan Organikkan Jogja sendiri dicanangkan pada 25 Juni 2024 saat peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, tingkat Kota Jogja di Embung Langensari. Hal itu didasari data, setiap orang menghasilkan sampah dari kegiatannya sehari-hari 0,6 - 0,8 kg/hari. Tanpa pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan, sampah yang ditimbulkan setiap hari akan terus menumpuk dan menghasilkan dampak buruk.

Penjabat Wali Kota Jogja Sugeng Purwanto mengatakan, permasalahan sampah memang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja. Namun membutuhkan peran aktif dari masyarakat. Khususnya dalam upaya untuk mengurangi sampah organik yang selama ini dihasilkan masyarakat. Terlebih sampah organik merupakan jenis sampah mayoritas di Kota Jogja. Dari total produksi sampah di wilayah tersebut yang sebesar 200 ton, 60 persen merupakan jenis sampah organik. “Hingga saat ini pengolahan sampah di Kota Jogja masih butuh dukungan masyarakat,” ujar Sugeng.

Baca Juga: Kementan Gaungkan Program PAT di Jambore Penyuluh Klaten

Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Lebih Dekat Lebih Hangat di Hari Pelanggan Nasional

Sehingga, kata dia, dalam program Organikkan Jogja yang digadang-gadang sebagai bentuk upaya pemerintah dalam mengurangi sampah organik. Sugeng menyatakan, ada lima hal yang ditekankan dalam program tersebut.

Yakni harus bisa membatasi timbulan sampah, menggunakan kembali apa yg bisa digunakan kembali, mendaur ulang sampah, memilah sampah, dan menyalurkan sampah sesuai kemanfaatannya. Dia menegaskan, program tersebut bukan berarti pemerintah membebankan tugas penanganan sampah kepada masyarakat. Namun, lebih kepada memohon agar produksi sampah di Kota Jogja bisa seminimal mungkin. “Pemkot tidak mungkin menyelesaikan sampah sendiri tanpa peran serta masyarakat,” tegas Sugeng.

Sekretaris Daerah Kota Jogja yang juga merupakan Ketua Bank Sampah Kota Jogja Aman Yuriadijaya menambahkan, dengan Organikkan Jogja ditargetkan bisa mengurangi sampah hingga 30 ton per hari. Menurut dia, pengelolaan sampah melalui Organikan Jogja bukan hanya gerakan saja, tetapi menjadikan warga Kota Jogja yang peduli dengan penyelesaian persampahan.

Baca Juga: Akhirnya Marten Paes Sudah Bisa Ikut Latihan Timnas Indonesia

Baca Juga: Hasil Otopsi Anggota Polisi Polsek Girimulyo di RS Bhayangkara Belum Keluar, Libatkan Labfor Mabes Polri

Selain mendukung kegiatan forum bank sampah seperti melaksanakan pelatihan pembuatan dan pemanfaatan biopori melalui kelurahan dengan Dana Keistimewaan, Aman juga berharap para anggota forum bank sampah juga memaksimalkan sosialisasi gerakan Organikkan Jogja kepada warga dengan berkolaborasi bersama TP PKK dan pengurus Bank Sampah yang ada di Kota Jogja.

Tak hanya itu, Aman juga menyampaikan, setiap lembaga diwajibkan memiliki data yang konkrit di setiap wilayah. Menurutnya, dengan memiliki data by name by address melalui pendekatan di wilayah, gerakan Organikkan Jogja dapat berjalan dengan maksimal melalui forum bank sampah Kota Jogja. “Saya berharap dapat memberikan informasi mengenai pengelolaan sampah baik organik maupun anorganik secara personal di setiap wilayah, bukan melalui whatsapp grup,”jelas Aman.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Sugeng Darmanto menyampaikan, program Organikkan Jogja akan bekerjasama dengan 678 bank sampah yang ada di Kota Jogja. Selain itu, di Kota Jogja ada sekitar 23.750 Kartu Keluarga (KK) di 2.532 Rumah Tangga (RT) yang dapat membantu pemerintah dalam pengelolaan sampah secara maksimal.

Menurut dia, untuk skala rumah tangga gerakan tersebut sudah dimulai. Di antaranya dengan pemanfaatan berbagai metode. Mulai dari biopori, komposter, losida hingga ember tumpuk. Untuk pengelolaan sampah organik skala komunal juga bekerjasama dengan kelompok tani setempat. “Karena hasilnya bisa dimanfaatkan untuk pertanian,” katanya

Editor : Heru Pratomo
#bank sampah #Sugeng purwanto #bumijo #Pemkot Jogja #Sampah #DLH #Aman Yuriadijaya #organik #Penjabat Wali Kota Jogja #Jogja