Kepala BPS Kota Jogja Mainil Asni mengatakan, kopi bubuk menyumbang inflasi sebesar 0,05 persen. Komoditas itu memberikan andil inflasi cukup besar untuk kategori makanan, minuman, dan tembakau. Meskipun angkanya masih jauh di bawah beras dengan tingkat inflasi 0,45 persen.
Mainil menyebut, tingginya angka inflasi pada komoditas kopi bubuk disebabkan beragam faktor. Misalnya, dikarenakan harga kopi di dunia internasional yang semakin berkembang seiring tingginya permintaan pasar.
“Kalau di Jogja salah satu penyebabnya mungkin karena banyak cafe, secara umum berpengaruh (terhadap harga kopi) karena cafe menjamur,” ujar Mainil saat ditemui, Senin (2/9).
Mainil melanjutkan, bahwa di bulan Agustus ini secara umum Kota Jogja mengalami inflasi sebesar 0,04 persen. Adapun komoditas yang dominan memberikan andil inflasi month to month (m-to-m) pada di antaranya beras, ketimun, cabai rawit, kopi bubuk, mobil, sepeda motor.
Kemudian bensin, kendaraan carter/rental, tarif angkutan udara, fitnes center, gado-gado, dan emas perhiasan.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m di antaranya daging ayam ras, telur ayam ras, jeruk, kol kubis, sawi putih, labu siam, nangka muda, terong, tomat, cabai merah, kacang panjang, daun bawang, wortel, dan bawang merah.
Menurut Mainil, bensin atau BBM juga menjadi penyumbang inflasi namun angkanya tidak terlalu besar. Hal tersebut dipengaruhi karena kebiasaan masyarakat di Kota Jogja yang jarang menggunakan angkutan umum. Namun cenderung lebih memilih menggunakan angkutan online.
“Peningkatan (inflasi BBM) baru di Agustus pertengahan, itu juga yang non subsidi kalau subsidi tetap sama,” bebernya.
Upaya untuk mengendalikan inflasi bahan pokok juga dilakukan oleh pemerintah kota (Pemkot) Jogja. Salah satunya melalui program Warung Mrantasi yang merupakan akronim dari Masyarakat Lan Pedagang Tanggap Inflasi.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kota Jogja Kadri Renggono mengatakan, program Warung Mrantasi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengendalikan laju inflasi dengan menggandeng pedagang. Sebab, pedagang dinilai memiliki peran strategis karena memiliki jaringan dengan distributor dan konsumen.
Kadri menyebut, pengendalian inflasi merupakan salah satu permasalahan yang harus diatasi karena dapat menekan daya beli masyarakat. Sehingga perlu upaya kolaborasi dengan berbagai sektor. Oleh karena itu, dalam Warung Mrantasi pihaknya menggandeng 25 pedagang bahan pokok seperti beras, telur, minyak goreng, gula, hingga bumbu dapur.
“Inflasi merupakan penggerus daya beli masyarakat, sehingga diperlukan upaya kolektif dan terstruktur dari berbagai pihak termasuk pedagang,” ungkap Kadri. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin