Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Produk Fashion Jadi Komoditas Ekspor Potensial DIY, Didominasi ke Ameriksa Serikat, Jepang, dan Jerman

Gregorius Bramantyo • Senin, 26 Agustus 2024 | 14:00 WIB

 

PROSPEK CERAH: Sejumlah karya produk fashion dari para desainer DIJ yang dipamerkan dalam gelaran Jogja Fashion Week di Jogja Expo Center (JEC). (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)
PROSPEK CERAH: Sejumlah karya produk fashion dari para desainer DIJ yang dipamerkan dalam gelaran Jogja Fashion Week di Jogja Expo Center (JEC). (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)

RADAR JOGJA - Produk fashion saat ini menjadi komoditas ekspor dari DIJ yang cukup potensial. Produk fashion dari provinsi ini yang diekspor berupa pakaian jadi non rajutan, rajutan, dan kulit. Persentase ekspor dari dari ketiga produk itu lebih dari 50 persen.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIJ Syam Arjayanti mengatakan, negara tujuan utama ekspor DIJ untuk produk fashion didominasi ke Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman. Menurutnya, produk pakaian jadi masih menempati urutan teratas.

"Ini berarti bahwa ekspor produk pakaian jadi masih sangat diminati dan punya prospek yang baik ke depan,” katanya kemarin (25/8).

Pada Januari hingga Juni 2024, nilai ekspor DIJ sendiri mencapai 246,03 juta dolar AS. Nilai ini meningkat bila dibandingkan tahun sebelumnya pada kurun waktu yang sama. Di mana nilai ekspor DIJ sampai Juni 2023 senilai 232,6 juta dolar AS.

Hal, itu, kata Syam, menjadi pemicu dan optimisme DIJ untuk bisa lebih meningkatkan lagi nilai ekspor pada 2024 ini. “Ekspor DIJ selama beberapa tahun ini juga masih didominasi oleh pakaian jadi bukan rajutan, perabot dan penerangan rumah, barang dari kulit, anyaman dan juga rajutan,” jelasnya.

Ia menuturkan, tujuan Pemprov DIJ menjadikan Jogja sebagai pusat fashion dunia adalah dengan membangun identitasnya sendiri di panggung fashion global. Yakni dengan menggabungkan warisan budaya yang kaya dengan keahlian lokal dan inovasi. Tidak hanya sekadar bersaing dengan daerah lain. “Jogja siap untuk memukau dunia dengan craft fashion yang unik dan inspiratif,” ujarnya.

Syam menyebut, jika Paris dikenal sebagai pusat mode haute couture, lalu Milan sebagai pusat tren fashion high end, dan New York sebagai pusat melting pot fashion metropolis, maka Jogja dengan craft fashion-nya yang kaya bercita-cita untuk menjadi pusat fashion berkelanjutan dan berjati diri.

Pihaknya terus mendukung dan memfasilitasi pengembangan produk-produk fashion agar dapat menjadi bagian dari ekosistem fashion yang lebih baik. Harapannya, produk-produk fashion DIJ bisa menjadi tren, bahkan menjadi kiblat fashion di masa mendatang.

Untuk mencapai tujuan itu, berbagai kegiatan promosi telah dilakukan. Termasuk pameran dan business matching. Kegiatan promosi ini bertujuan membantu para pelaku usaha mendapatkan pembeli potensial serta memperluas jaringan bisnis mereka.

“Kami berupaya memfasilitasi IKM (industri kecil menengah) fashion agar lebih berkembang dan diminati di pasar nasional maupun internasional,” kata Syam. (tyo/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#Syam Arjayanti #komoditas ekspor #fashion