Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tiga Faktor Jadi Pemicu Munculnya Ide Bunuh Diri,  Selain Dukungan Psikologis Keluarga Punya Peran Signifikan untuk Mencegah

Gunawan RaJa • Senin, 26 Agustus 2024 | 13:00 WIB

 

Faiz Hayaza (Psikolog klinis) Dok Pribadi
Faiz Hayaza (Psikolog klinis) Dok Pribadi

RADAR JOGJA - Maraknya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa menjadi perhatian banyak pihak. Psikolog klinis Faiz Hayaza menyebut, sedikitnya ada tiga faktor pemicu munculnya ide untuk mengakhiri hidup.

Menurut Faiz, terdapat beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka bunuh diri di kalangan mahasiswa. "Yakni kurangnya pengenalan dan penerimaan diri, rendahnya pemahaman kesehatan mental, dan keterbatasan dukungan sosial," katanya.

Diakui, tekanan akademik dan sosial juga dapat memperburuk gangguan kesehatan mental. Mahasiswa sering kali mengalami tekanan terus-menerus dan tidak diimbangi dengan dukungan memadai.

"Jika mahasiswa tidak mendapatkan dukungan dari lingkungan seperti teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental, mereka mungkin merasa tertekan tanpa jalan keluar. Berpotensi meningkatkan risiko bunuh diri," ungkapnya.

Beberapa tanda atau peringatan terhadap orang dengan indikasi ingin bunuh diri perlu diperhatikan. Terpantau mengalami penurunan prestasi akademis secara tiba-tiba. Perubahan mood drastis, serta mengabaikan penampilan.

"Kemudian memberikan barang-barang berharga kepada orang lain dapat menjadi sinyal peringatan," terangnya.

Kemudian warning awal berupa berbicara atau bertanya tentang ide dan cara bunuh diri merupakan tanda yang sangat penting untuk dikawal.

Untuk mengurangi risiko bunuh diri, institusi pendidikan dapat mengambil langkah-langkah integrasi kesehatan mental dalam kurikulum. Menambahkan materi tentang kesehatan mental dalam kurikulum atau mata kuliah.

"Fakultas perlu menyediakan tenaga psikolog klinis dan ruang konseling," terangnya.

Selain dukungan psikologis, keluarga memiliki peran signifikan. Keluarga memainkan peran kunci dalam memberikan dukungan emosional yang diperlukan. "Menjaga agar mahasiswa merasa diterima dan didukung tanpa syarat," bebernya.

Dikatakan, kesehatan mental mahasiswa merupakan isu yang kompleks. Memerlukan perhatian dari berbagai pihak agar risiko bunuh diri dapat dicegah. (gun/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#Mahasiswa #Faiz Hayaza #bunuh diri #akademik