Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Peduli Kesehatan Mental, UGM Skrining Rutin Mahasiswa saat Mengisi KRS

Fahmi Fahriza • Senin, 26 Agustus 2024 | 05:18 WIB

 

Prof Dra Yayi Suryo Prabandari (Ketua Health Promoting University UGM) Dok Pribadi
Prof Dra Yayi Suryo Prabandari (Ketua Health Promoting University UGM) Dok Pribadi

RADAR JOGJA - Isu kesehatan mental belakangan jadi hal yang kompleks dan terus digaungkan, termasuk di lingkup kampus. Sebab, mahasiswa diduga jadi salah satu pihak yang rentan untuk mengalami permasalahan mental.

Dalam upaya preventif penanganan kesehatan mental, Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan inovasi. Salah satunya melalui kuisioner berisi pertanyaan seputar kesehatan mental mahasiswa.

"Skrining kesehatan mental ini dilakukan sejak tahun lalu, dilakukan saat mahasiswa mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) di awal semester," ungkap Ketua Health Promoting University (HPU) UGM Prof Dra Yayi Suryo Prabandari kemarin (25/8).

Yayi menyadari betul kesehatan mental bukan persoalan remeh. UGM sendiri memiliki komitmen untuk terus memfasilitasi para civitas akademika agar kesehatannya terjamin, baik sehat secara fisik maupun mental.

Dalam prosesnya ia juga aktif saat penggodokan kuisioner kesehatan mental tersebut. Setelah mahasiswa mengisi kuisioner, lalu dilakukan tabulasi data. UGM akan melakukan tindakan terhadap mahasiswa yang hasil kuisionernya menunjukkan kerentanan dalam kesehatan mentalnya.

"Data itu diberi ke tiap fakultas. Mahasiswa yang terindikasi punya kerentanan mental, diupayakan mendapat dosen pembimbing akademik (DPA) yang punya waktu,"  bebernya.

Dikatakan, DPA itu berpengaruh. Banyak mahasiswa yang bermasalah mental. "Salah satunya karena DPA yang sibuk saat dia mau tugas akhir," tambahnya.

Ia kemudian membeberkan, UGM juga sudah memiliki tim khusus berupa satgas penanganan kesehatan mental. Satgas berperan besar dalam konteks edukasi, hingga penanganan.

 "Kalau ada kasus mereka juga turun. Kami juga sudah punya nomor aduan yang disebar di semua fakultas. Saat ini masih pakai nomor reguler yang panjang. Kami sedang usahakan agar nomornya lebih simpel, seperti 911, agar mudah diingat saat keadaan darurat," harapnya.

Yayi juga mengapresiasi karena isu kesehatan mental dianggap secara serius di berbagai fakultas. Salah satu implementasi nyata yang dilakukan fakultas, dengan merekrut tenaga ahli, yakni psikolog profesional untuk membantu persoalan mental di masing-masing fakultas.

"Banyak fakultas sudah punya psikolog nondosen. Di hire full-time untuk menangani dan membantu mahasiswa.  Seperti fakultas psikologi, fakultas kedokteran, dan juga pascasarjana," tandasnya.

Saat dikonfirmasi terkait jumlah kasus yang ditangani UGM selama setahun terakhir, Yayi tidak menjawab secara spesifik. Alasannya untuk menjaga privasi dan kerahasiaan para korban ataupun pelapor.

Namun dalam praktiknya, UGM sendiri beberapa kali melakukan metode jemput bola atau mendatangi langsung ke kediaman para mahasiswa.

"Pernah ada kasus, dia diancam pacarnya, tidak berani keluar kamar, akhirnya itu kami jemput ke sana," kenangnya.

Diakui pihaknya sangat menjaga kerahasiaan dan identitas narasumber atau korban. "Saat menangani kasus, kami tidak menulis nama korban pada kasus, tapi nomor. Contohnya kasus 1, kasus 2, dan seterusnya," tuturnya.

Ke depan Yayi berharap satgas kesehatan mental di UGM bisa terus maju dengan ragam inovasi dan program yang bermanfaat bagi civitas akademika. Selain itu diharapkan juga mahasiswa bisa sepenuhnya transparan soal kesehatan mental mereka.

"Seperti kasus di Pogung, dari skrining KRS menunjukkan dia sehat, dan ini jadi evaluasi kami. Keluarganya kami wawancara dan teliti background penyebabnya apa, meski tidak terdeteksi saat skrining,"  paparnya.

 Apalagi Yayi memetakan bahwa kehidupan mahasiswa tidak hanya berada di kampus. Bisa jadi juga ada masalah yang mungkin dihadapi di luar kampus. Sehingga, keterbukaan mahasiswa jika ada masalah, sangat dianjurkan untuk disampaikan pada satgas yang disediakan UGM.

"Kami sangat mendukung mahasiswa untuk bisa transparan soal apa yang dihadapi," ajaknya.

Selain adanya satgas kesehatan mental, diakuinya, UGM juga memiliki peer educator. Yakni mahasiswa yang dilatih psikolog menjadi psikologi person atau teman mendengar bagi mahasiswa lain yang memiliki masalah.

"Harapannya ini juga bisa membantu teman-teman yang sedang punya masalah," tandasnya. (iza/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#Prof Dra Yayi Suryo Prabandari #Mahasiswa #universitas gadjah mada #civitas akademika