Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Budi Daya Talas di Sleman Miliki Keuntungan Besar tapi Jarang Dilirik, Sentuh 30 Persen Dibanding Padi

Delima Purnamasari • Selasa, 20 Agustus 2024 | 16:10 WIB

Ketua Kelompok Sedyo Rukun, Degolan, Umbulmartani, Ngemplak Sardi di tengah kebun talas.Delima Purnamasari/Radar Jogja
Ketua Kelompok Sedyo Rukun, Degolan, Umbulmartani, Ngemplak Sardi di tengah kebun talas.Delima Purnamasari/Radar Jogja

 



RADAR JOGJA - Di tengah hiruk-pikuk dunia pertanian di Sleman, ada satu komoditas yang jarang mendapatkan perhatian meski memiliki potensi besar, yakni tanaman talas. Umbi-umbian ini terbukti memiliki keuntungan 30 persen lebih besar dibandingkan padi. 

"Talas ini gampang. Satu batang bisa tiga kilo," ucap Ketua Kelompok Sedyo Rukun, Degolan, Umbulmartani, Ngemplak Sardi. 

Menurutnya, budi daya talas juga cukup mudah. Tidak seperti padi yang butuh banyak air, talas hanya memerlukan kelembaban saja. Bibitnya juga didapat dari tanaman kala berkembang biak. Semisal beli, harganya juga terjangkau, yakni sekitar Rp 2 ribu. 

Selama dua tahun menanam talas, Sardi mengaku belum pernah mengalami kegagalan. "Tantangannya itu uret. Jadi kalau ada langsung dikasih obat saja," tambahnya. 

Sardi menjelaskan, masa panen talas memang cukup lama, yakni mencapai 8-9 bulan. Sementara pada masa itu, padi sudah bisa panen hingga dua kali. "Tapi tetap untung talas. Sekitar 30 persen," tambahnya. 

Pengawas Mutu Hasil Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Sleman Suroso membenarkan potensi talas ini. Menurutnya, tantangan dalam pengembangbiakan talas ini hampir tidak ada. "Hampir semua lokasi di Sleman berpotensi ditanami talas," jelasnya. 

Meski demikian, Sleman sendiri mencanangkan diri sebagai lumbung pangan dengan komoditas utama padi. Untuk itu, Suroso menyarankan talas hanya ditanam di wilayah marginal saja. Yakni yang wilayahnya kurang bagus untuk ditanami padi. 

"Misal di Kapanewon Cangkringan, Turi, Pakem yang daerah atas dan pinggiran. Juga Prambanan dan sebagian Gamping yang pegunungan," jelas Suroso. 

Dia menuturkan, pada 2023, Sleman hanya memanen 86 hektare talas. Suroso menilai tahun 2024 ini jumlahnya akan meningkat. Suroso menghitung, setiap satu meter lahan bisa memproduksi 4 kilogram talas. Sehingga tiap satu hektare bisa menghasilkan 40 ton. 

"Kisaran harga Rp10 ribu tiap kilo sudah dapat 400 juta. Cukup menggiurkan juga dibanding padi," jelasnya. 

Baca Juga: Azar Anas Ragawi, Mantan Guru Honorer Yang Kini Sukses Budi Daya Ayam KUB, Omzet Puluhan Juta Rupiah Per Bulan

Dia menuturkan, program pengembangan talas memang ada setiap tahun, tetapi hanya untuk beberapa lokasi. Sementara pada 2024, Kabupaten Sleman hanya mencanangkan satu lokasi, yakni di Maguwoharjo. 

"Di kedinasan kami arahkan supaya padinya tidak menurun. Bisa padi sekali lalu tanam talas. Jadi satu tahun cukup dengan dua jenis tanaman," terangnya. 

Bagi mereka yang ingin membudidayakan talas, Suroso menyarankan untuk mencoba dengan lahan yang kecil dahulu. Ini sebagai upaya uji coba serta pengembangbiakan benih. "Setelah itu baru meluas sembari melihat pangsa pasar yang sudah ada," tambahnya. (cr1/eno) 

Editor : Satria Pradika
#Khasiat Talas #Budi Daya Talas #Pertanian #kebun talas