Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Fight Club Jadi Bentuk Ekspresi untuk Menyalurkan Emosi, Dosen Sosiologi UAJY Bambang Kusumo Prihandono Sebut Tetap Perlu Pengawasan

Fahmi Fahriza • Sabtu, 10 Agustus 2024 | 16:00 WIB

 

   Dosen Sosiologi UAJY Bambang Kusumo Prihandono (Dokumentasi Pribadi)
  Dosen Sosiologi UAJY Bambang Kusumo Prihandono (Dokumentasi Pribadi)

RADAR JOGJA - Pertarungan mengadopsi konsep fight club kerap dilangsungkan di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasty). Gelaran tersebut nyatanya memantik animo dan antusiasme yang tinggi dari masyarakat, baik sebagai petarung atau penonton.

Menyoroti fenomena ini, Dosen Sosiologi UAJY Bambang Kusumo Prihandono ikut memberikan tanggapannya. Jika fight club dilihat dari sudut pandang pelaku, kegiatan ini menjadi sebuah ekspresi untuk menyalurkan hasrat pribadi. Baik hasrat yang bersifat emosional, atau adrenalin diri sendiri untuk melampaui batas.

"Disadari atau tidak, fight club itu bagian dari gaya hidup. Itu basisnya sport, dan kita banyak mengonsumsi konten-konten seperti itu," katanya Kamis (8/8).

Bambang juga menyadari, fight club yang berbasis martial arts sudah dikenal lama dan populer di kalangan anak muda. Bahkan menurutnya itu menjadi gaya hidup orang kota. "Fight club juga jadi ruang melepas tekanan yang ada, anak muda hidup di kota itu punya banyak problema," tuturnya.

Selama ini, fight club yang dilangsungkan di Pasty sudah berizin. Hingga dilakukan medical check up dalam prosesnya. "Usia, kesehatan, mental, itu semua berpengaruh, jangan hanya fokus ke pemain," ucapnya.

Penonton, lanjutnya, juga harus dilakukan penyaringan. Sebab fight club merupakan olahraga ekstrem dan penuh risiko. “Kalau terlalu kecil jangan dibolehkan nonton. Jadi harus dipikirkan juga etika, rules, hingga mitigasi risiko," sambungnya.

Menurutnya, keberadaan fight club jadi gerakan yang kreatif. Sebab kota selalu membutuhkan aktivitas untuk saling bertemu, melampiaskan, bahkan untuk menunjukkan sisi maskulinitas dan juga agresivitas. "Namun hal-hal itu harus dilakukan dengan aturan dan dikontrol," serunya.

Saat disinggung soal tujuan fight club yang disinyalir bisa meminimalisasi kejahatan jalanan atau klithih, Bambang tak sepenuhnya setuju. Menurutnya, dua hal tersebut adalah hal yang berbeda. "Ini semangatnya pertandingan, dan kemungkinan besar pesertanya juga beda," tuturnya.

Adanya fight club, juga tidak serta merta bisa mengurangi jumlah pelaku atau kasus klithih. Sebab, motivasi, argumen, dan tujuan antara petarung fight club dan pelaku klithih juga berbeda. "Ini kan ada aturannya. Itu selaras dengan hasrat maskulinitas lelaki," lontarnya.

"Kalau klithih kan cenderung mau menyakiti tanpa tujuan jelas, dan itu jelas melampaui batas," sambungnya. (iza/eno)

Editor : Satria Pradika
#PASTY #Bambang Kusumo Prihandono