Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

DIY Siaga Darurat Bencana Kekeringan, Terutama di Sleman, Gunungkidul, dan Kulonprogo, Begini Langkah Penanganan Pemprov

Agung Dwi Prakoso • Selasa, 6 Agustus 2024 | 00:35 WIB
KEKERINGAN : Warga di Desa Krakal, Kecamatan Alian merasakan krisis air bersih di musim kemarau. Mereka rela antre demi mendapatkan bantuan air bersih dari BPBD Kebumen.
KEKERINGAN : Warga di Desa Krakal, Kecamatan Alian merasakan krisis air bersih di musim kemarau. Mereka rela antre demi mendapatkan bantuan air bersih dari BPBD Kebumen.

JOGJA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIJ) Hamengku Buwono (HB) X menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan di DIY. Tertulis dalam Surat Keputusan (SK) Gubernur DIY 286/KEP/2024 berlaku 1-31 Agustus 2024.

"SK Gubernur DIY sudah keluar (berlaku) untuk 1 Agustus sampai 31 Agustus 2024, waktunya sebulan," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Noviar Rahmad saat dikonfirmasi, Senin (5/8/2024).

Terbitnya SK tersebut merupakan respons akibat beberapa wilayah di DIY yang mulai mengalami kekeringan. Tiga wilayah di DIY telah mengeluarkan SK siaga darurat kekeringan, yakni Sleman, Gunungkidul, dan Kulon Progo.

"Selama 30 hari berturut-turut di sini juga tidak diguyur hujan," ujarnya

Berdasarkan catatan BPBD DIY seluruh wilayah di Gunungkidul telah terdampak kekeringan. Hal tersebut karena daerah Gunungkidul mayoritas mengandalkan resapan air hujan, sedangkan intensitas hujan sangat jarang.

"Otomatis, sumur di sana kering dan bak penampungan sudah kering juga," tandasnya.

Sampai saat ini, BPBD DIY belum melakukan bantuan penyaluran air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan. Penanganan masih dilakukan oleh tingkat kabupaten dibantu Palang Merah Indonesia (PMI) dan pihak swasta terkait lain.

"Semoga dalam waktu dekat, permintaan droping air sudah disetujui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) karena dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sampai September 2024 masih akan berlanjut kekeringannya," jelasnya.

Noviar menjelaskan, status siaga darurat itu akan menjadi dasar dalam pengajuan permintaan droping air bersih dan modifikasi cuaca kepada BNPB Pusat. Dengan upaya itu, diharapkan kekeringan tidak berkepanjangan dan mengganggu aktivitas warga.

"Baru diajukan untuk droping air dan modifikasi cuaca, dasarnya SK itu tadi. Namun disetujui atau tidak, sepenuhnya kewenangan dari BNPB," ujarnya.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas menyebut antara Juli-Agustus 2024 wilayah DIY diprediksi puncak musim kemarau.

Puncak musim kemarau 2024 di DIY diprediksi berlangsung antara Juli sampai Agustus 2024. Selanjutnya, akhir musim kemarau diperkirakan tiba pada September 2024 dasarian pertama.

"Dimulai di Kabupaten Kulon Progo bagian utara," ujarnya. (oso)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kekeringan #kemarau #Sleman #BNPB #BPBD Jogja #Kemarau Panjang