Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Belum Desentralisasi Sampah, TPST Piyungan Dibuka secara Insidental Tampung Daerah Darurat Sampah

Elang Kharisma Dewangga • Kamis, 25 Juli 2024 | 14:05 WIB
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA

RADAR JOGJA - TPA Piyungan masih dibuka secara insidental untuk menampung sampah-sampah dari daerah yang mengalami darurat sampah. Secara teknis TPA Piyungan memang dinyatakan sudah penuh. Namun karena proses dekomposisi, masih terdapat ruang untuk pembuangan sampah.


Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kusno Wibowo mengatakan karena kondisi mendesak, sampai hari ini TPA Piyungan masih dibuka secara insidental. Hal itu dibuktikan dengan Kabupaten Bantul, Kota Jogja, dan daerah lain yang mendeklarasikan darurat sampah. "Begitu ada tumpukan sampah liar ini jadi bagian yang harus diselesaikan," ujarnya di Kompleks Kepatihan, Rabu (24/7).


Setelah mengecek kondisi di lapangan, pihaknya mengatakan masih ada ruang di TPA Piyungan karena dekomposisi sampah yang mengakibatkan penurunan. Kesempatan tersebut lalu dimanfaatkan setiap daerah yang mengalami darurat sampah. "Seperti kemarin itu ada 150 ton dari Bantul di bawa ke sana. Sleman 180 ton," tuturnya.

Ia mengatakan terakhir menerima informasi sebanyak 12 depo di Kota Jogja telah dikosongkan. Jadi total sampah yang dikirim ke TPA Piyungan dari Kota Jogja sekitar 4.000 ton secara bertahap. "Kalau bicara daya tampung Piyungan umur teknisnya udah penuh. Tapi ada ruang karena dekomposisi tadi," jelasnya.

DLH juga terus memantau kondisi TPA Piyungan khususnya terkait kuota atau ruang penumpukan sampah. Apabila TPA Piyungan sudah benar-benar full maka berarti sudah tidak bisa menampung sampah lagi. Kalau masih ada ruang dan masih darurat bisa dibuka sambil tunggu kesiapan TPS di setiap daerah.


Beberapa daerah yang telah menyurati Pemprov DIY terkait bantuan pembuangan sampah ke TPA Piyungan di antaranya Kota Jogja, Sleman, dan Bantul. Namun, pihaknya belum bisa memastikan maksimal jumlah kuota penerimaan sampah ke TPA Piyungan. Surat bupati Bantul gubermur mintanya 1.000 ton sampai akhir Juli. “Kemarin itu baru 150 ton dari Bantul yang dibuang ke Piyungan," jelasnya.


Kabupaten Sleman meminta kuota yang hampir sama dengan Bantul yakni 1.000-1.500 Ton. Sampai saat ini Sleman baru membuang sekitar 180 ton dan tidak disampaikan sampai kapan. Namun, untuk Kota Jogja tidak disampaikan secara detail berapa kuota pembuanganya. "Kota 4.000 ton (sudah ke TPA Piyungan) tapi tidak minta kuota berapa, hanya sampai depo kosong," tandasnya.


Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyampaikan pembangunan tiga TPST sedang dalam proses penyelesaian. Tiga tempat pengolahan sampah yakni TPST Dingkikan, Modalan dan ITF Bawuran. "Dingkikan kapasitanya 60 ton, Modalan 50 ton dan ITF Bawuran 50 ton dan masih bisa dikembangkan," ujarnya.


Ia menargetkan pada September ketiga TPST di Bantul sudah beroperasi semuanya. Maka dari itu, hingga saat ini pihaknya masih memanfaatkan dibukanya TPA Piyungan. "Sementara waktu saja, karena disana hanya sanitary renfil dan tidak ada pengolahan atau pemilihan sampah," tuturnya. (oso/din)

 

Editor : Satria Pradika
#darurat sampah #DLHK #TPA Piyungan #Sampah #ITF Bawuran