RADAR JOGJA - Jamasan pusaka Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat khususnya kereta dilakukan di Museum Wahanarata, Jumat (12/7). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, prosesi jamasan dilakukan tertutup. Ini atas perintah Sultan Hamengku Bawono Ka 10 yakni barang kagungan dalem yang dianggap pusaka tidak diperbolehkan untuk didokumentasikan.
Wakil Penghageng KGD Wahanarata RM Pradiptya Abikusno/KRT Condrokusumo mengatakan, setelah tahun 2023 memang khusus siraman Kanjeng Nyai Jimad dilakukan tertutup. Namun untuk siraman kereta penderek masih bisa disaksikan. Dilakukan tertutup karena sesuai peraturan baru untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan.
"Untuk alasannya saya tidak tahu pasti, tapi karena ini merupakan hak beliau Ngarso Dalem selaku pemilik pusaka," ujarnya saat dikonfirmasi Jumat (12/7).
Ritual jamasan, lanjutnya, rutin dilaksanakan pada waktu tertentu yang dianggap sebagai hari baik. Ritual ini dilaksanakan pada bulan Sura (Muharam) yakni bulan pertama dari penanggalan Jawa. Hari yang dipilih biasanya Selasa Kliwon atau bila pada bulan itu tidak dijumpai weton tersebut, maka dipilih hari Jumat Kliwon.
Pemilihan hari Selasa Kliwon dianggap sebagai hari yang sakral karena dipercaya sebagai turunnya wahyu Keraton Jogja. "Kalau Jumat Kliwon dianggap sebagai hari baik bagi umat Islam," tuturnya.
Jamasan pusaka merupakan ritual rutin ini untuk membersihkan atau memandikan pusaka yang dimiliki. Tidak hanya senjata keris maupun tombak, namun juga kereta dan tandu pusaka yang pernah digunakan para sultan dan kerabatnya. "Kalau di Museum Wahanarata sendiri dilakukan jamasan khusus kereta," jelasnya.
Prosesi jamasan kereta dimulai setelah Sultan memulai siraman pusaka yang ada di dalam keraton. Pertama dilakukan sugengan ageng, kemudian kereta dikeluarkan dari gedung utama museum dan yang pertama disirami adalah Kanjeng Nyai Jimad.
Setelah itu baru kereta pendamping yang hari itu adalah Kyai Wimono Putro. "Kita akan bersihkan kereta dengan lap kain mori (kafan) basah dari air perasan jeruk nilis dan air bunga," terangnya.
Setelah dibersihkan, kereta akan dikeringkan dengan kain mori kering. Khusus untuk bagian kulit, ia mengatakan akan digosok menggunakan minyak kelapa.
"Uba rampe lebih untuk sugengan ageng seperti kemenyan, jadah, kerupuk, ingkung, rengginang/criping, tumpeng, panggang, peyek, kolak, serundeng, mihun, gudangan, lalapan, jenang baro-baro, panjang ilang, pisang raja, kembang setaman, pala kependhem, jenang sengkala, jajan pasar, nasi gurih dan lainya," jelasnya.
Ia menyampaikan setiap tahun hanya ada dua kereta yang dijamas. Satu kereta yang wajib adalah Kanjeng Nyai Jimat sebagai kereta tertua yang dimiliki keraton . Sementara untuk kereta kedua atau pedamping akan dipilih bergantian setiap tahunnya. "Tahun ini kereta pendampingnya Kyai Wimono Putro," katanya. (oso/laz)