JOGJA - Prevalensi stunting di Kota Jogja baru turun sebesar 1,2 persen selama satu tahun terakhir.
Sehingga Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) terus berupaya menekan angka prevalensi stunting pada tahun ini.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP3AP2KB Kota Jogja Sarmin mengatakan, prevalensi stunting di Kota Jogja hingga akhir Juni tahun ini menyentuh angka 10,6 persen.
Jumlah itu turun sebesar 1,2 persen dibandingkan tahun 2023 lalu yang angkanya menyentuh 11,3 persen.
Dia mengakui, rendahnya penurunan prevalensi stunting di Kota Jogja karena memang masih ada berbagai kekurangan.
Kendati demikian, pihaknya terus berupaya menuntaskan berbagai permasalahan tersebut agar prevalensi stunting ke depan bisa turun signifikan.
“Kami berharap di akhir tahun 2024 atau awal tahun 2025 prevalensi bisa mencapai di bawah 10 persen,” ujar Sarmin, Selasa (9/7) kemarin.
Menurut Sarmin, untuk mengejar target prevalensi stunting di bawah 10 persen itu, pihaknya terus melakukan evaluasi bersama dengan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Jogja.
Total ada 73 indikator yang akan dievaluasi bersama dalam upaya penurunan stunting di wilayah tersebut.
Dia pun menyampaikan, kalau berbagai upaya itu juga untuk mendukung target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024.
Yakni harus menurunkan prevalensi stunting nasional di angka 14 persen.
“Kami selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk bersama-sama menuntaskan permasalahan stunting di Kota Jogja,” tegas Sarmin.
Sementara itu, Penyuluh Keluarga Berencana (KB) Kemantren Gedongtengen Widyastuti mengungkap, penurunan angka stunting perlu dukungan dari orang tua dan keluarga.
Sebab, masih banyak orang tua yang belum sadar pentingnya pemenuhan gizi pada anak dan pola asuh yang tepat.
Dia pun berpesan, agar para orang tua juga rutin membawa anaknya ke posyandu supaya bisa dilakukan pengecekan tumbuh kembang secara rutin.
Kemudian juga mendatangi puskesmas apabila badan balita tidak kunjung naik sesuai dengan pertumbuhannya.
“Harapannya keluarga ikut memperhatikan untuk memberikan gizi seimbang pada anak mereka,” kata Widyastuti. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin