RADAR JOGJA - Lebih 1.500 partisipan, mulai peneliti, akademisi mahasiswa, praktisi dan seniman dari 43 negara mengikuti konferensi international Association for Asian Studies (AAS)-in-Asia bertajuk Global Asias: Latent Histories, Manifest Impacts.
Acara ini berlangsung di kampus UGM, 9-11 Juli mendatang.
Beberapa delegasi yang mengikuti, di antaranya, berasal dari Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Kanada, Jerman, Inggris, Belanda, Korea Selatan, dan Australia.
Rektor UGM Prof Ova Emilia mengatakan, mewakili UGM ia sangat bangga karena bisa dipilih menjadi institusi Indonesia pertama yang menjadi tuan rumah Konferensi AAS di Asia.
"Kami bangga UGM dipilih jadi tuan rumah. Dalam konferensi ini akan dibahas isu keimigrasian, lingkungan hidup dan ragam isu lain," katanya dalam pembukaan di Graha Sabha Pramana (GSP) UGM, Selasa (9/7).
Ova menyadari, keberadaan UGM yang berlokasi di bagian strategis Asia sangat diuntungkan karena Asia adalah rumah bagi peradaban paling awal di dunia. Disebutnya, budaya asli dari Asia menjadi sumber dari banyak praktik yang telah menjadi bagian integral masyarakat selama berabad-abad.
"Seperti pertanian, perencanaan kota, agama hingga geografi sosial dan politik, benua ini terus mempengaruhi seluruh dunia," ungkapnya.
Dikatakan, kekayaan budaya Asia dan sumber daya alam yang melimpah menarik ragam kepentingan dan menempatkan Asia di jantung konflik global. Selain itu juga menjadi tempat masyarakat belajar tentang pembangunan perdamaian dan ketahanan. "Asia kini jadi tempat persaingan strategis yang ketat antarnegara-negara besar," urainya.
Ova memaparkan, persoalan kolonialisme mungkin sudah jauh terlampau dari kita. Namun pada abad 21 ini telah membawa permasalahan kontemporer yang tidak pernah dibayangkan oleh nenek moyang kita dahulu. "Eksploitasi sumber daya alam besar-besaran demi pertumbuhan ekonomi telah membahayakan bumi," tegasnya.
President of the AAS dari University of Iowa Amerika Serikat Hyaeweol Choi mengungkapkan, dipilihnya UGM sebagai tuan rumah karena Indonesia secara umum memang benar lokasi yang strategis untuk studi di Asia. Ditambah Jogja sendiri yang merupakan kota pendidikan, hal itu ideal menjadi tempat produksi dan distribusi ilmu pengetahuan baru.
"Sangat masuk akal menyelenggarakan konferensi di sini, di pusat komunitas intelektual yang dinamis. Ini adalah pilihan yang tepat," terangnya.
Choi menegaskan, konferensi AAS in Asia jadi wadah yang amat penting bagi para sarjana, baik di Asia atau negara lain. Ia juga sangat terbuka dengan kemungkinan peneliti dari berbagai negara untuk bergabung dalam berbagai riset dan pengetahuan terbaru.
"Kita semua yang di sini bahas permasalahan kontemporer berdasar agenda sejarah dan kontemporer. Saya pikir struktur akademis yang berpusat di Amerika Utara akan berubah, Asia telah jadi komunitas intelektual yang berkembang dan dinamis," tandasnya. (iza/laz)