RADAR JOGJA - Fenomena hujan di tengah musim kemarau kerap terjadi di wilayah Jogjakarta dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi seperti itu dapat memicu berbagai potensi bencana hidrometeorologi.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, pada Juni dan Juli wilayah Jogjakarta masih memasuki periode La Nina. Sehingga, kondisi tersebut dapat menyebabkan turun hujan meski sudah memasuki musim kemarau.
Di samping itupotensi bencana hidrometeorologi pun juga masih sangat mungkin bisa terjadi walaupun kini mulai jarang turun hujan. Bahkan tingkat ancamannya sama seperti ketika musim penghujan.
“Selain itu juga patut diwaspadai kemungkinan bencana kekeringan,”ujarnya. Terlebih bagi wilayah-wilayah yang selama ini sudah menjadi langganan selama musim kemarau. Potensi bencana selama musim kemarau ini juga tidak hanya berupa kekurangan air bersih saja. Namun juga kebakaran lahan hingga gagal panen jika para petani salah menerapkan pola tanam.
Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu juga meminta agar masyarakat mewaspadai penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD). Sebab tidak menutup kemungkinan nyamuk aedes aegypti dapat berkembang biak selama musim kemarau.
Endang membeberkan, hingga pertengahan Juni pihaknya mencatat jumlah kasus DBD mencapai 149 kasus. Dari data yang dimiliki instansi tersebut, temuan penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti itu juga merata pada seluruh kalurahan di Kota Jogja.
Menurut dia, banyaknya kasus DBD di Kota Jogja dapat disebabkan karena mulai jarangnya kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Sehingga dia pun menghimbau agar kegiatan PSN seperti 3M Plus kembali digiatkan.Sangat mungkin PSN-nya pas kurang aktif sehingga terjadi kasus DBD,” terang Endang. (inu/din)