RADAR JOGJA - Garebeg Besar 1445 H/1957 Jimawal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dilaksanakan di Kompleks Masjid Gedhe Kauman Jogja, Selasa (18/6). Prosesi Garebeg Besar tahun ini dikembalikan seperti dulu, yakni lima gunungan dibagikan oleh abdi dalem dan tidak dirayah oleh masyarakat.
Ribuan orang mulai terlihat memadati kawasan Masjid Gedhe Kauman sekitar pukul 09.00. Terik matahari pagi itu seakan tidak melunturkan niat masyarakat untuk menyaksikan prosesi Garebeg Besar Keraton Jogja itu.
Salah seorang abdi dalem Masjid Gedhe Keraton Jogja MB Muhammad Abror mengatakan, acara itu merupakan bentuk sedekah dari raja dengan membagikan hasil bumi yang dikemas dalam bentuk gunungan.
Penyelenggaraan Garebeg Besar tahun ini dikembalikan seperti semula, yakni hasil bumi langsung dibagikan oleh abdi dalem dan tidak diperebutkan seperti tahun sebelumnya.
"Mulai tahun ini Garebeg Besar mulai dibagikan dan tidak dirayah," ujarnya saat ditemui di depan Masjid Gedhe Kauman , kemarin (18/6).
Ia menyebutkan jumlah gunungan yang akan dibagikan kepada ke masyarakat lebih sedikit dibandingkan dengan prosesi Garebeg Besar zaman dulu. Jumlah gunungan pada tahun ini lima gunungan, sedangkan dulu bisa lebih dari 10 gunungan. "Dimulai pada era HB IX jumlah gunungan berjumlah lima untuk mewakili gunungan lainya secara simbolis," tuturnya.
Lima gunungan itu terdiri tas Gunungan Kakung berwarna hijau berisi sayuran, Gunungan Estri, Gunungan Dharat, Gunungan Gephak dan Gunungan Pawuhan. Sekitar pukul 11.00, gunungan mulai dibagikan kepada masyarakat. Namun pada kenyataannya, banyak warga yang kurang sabar sehingga pada akhirnya mereka berebutan.
Perbedaan Garebeg Besar dari dulu adalah gunungan tidak melewati jalan tengah Alun-Alun Utara dan dua pohon beringin di tengahnya. Hal itu berubah sejak kondisi Alun-Alun Utara yang saat ini sudah di pagar.
"Kami selaku abdi dalem sendiko dawuh (mengikuti), mungkin kalau belum dipagar seperti dulu kita lakukan di sana. Karena jalur prosesi dulu melalui tengah Alun-Alun," ujarnya.
Sementara itu, Penghageng II KHP Widyabudaya KRT Rintaiswara mengatakan, Garebeg Besar untuk memperingati hari besar agama Islam yakni Idul Adha. Ia menjelaskan, garebeg atau yang umum disebut “grebeg” berasal dari kata “gumrebeg”, mengacu kepada deru angin atau keramaian yang ditimbulkan pada saat berlangsungnya upacara.
"Gunungan perwujudan kemakmuran keraton atau pemberian dari raja kepada rakyatnya. Jadi makna Garebeg Besar secara singkatnya adalah perwujudan rasa syukur, mangayubagya Idul Adha, dengan memberikan rezeki kepada masyarakat melalui ubarampe gunungan berupa hasil bumi dari tanah Mataram," ujarnya.
Salah seorang wisatawan asal Semarang, Cipto mengaku sangat antusias ikut mendapatkan hasil bumi yang ada di gunungan. Ia menyebut masyarakat yang datang sangat banyak. "Prosesnya dibagikan abdi dalem agar tidak berebut," ujarnya.
Ia mengungkapkan hasil bumi yang didapatkan akan disimpan di rumahnya. Ia sangat senang bisa mendapatkan meski tidak banyak. "Ini pas liburan bertepatan dengan acara garebeg, jadi mampir ke sini dan lihat acaranya,"katanya. (oso/laz)