JOGJA - Di Galeri seni yang berada di tengah Kota Jogja tepatnya di Galeri 2 Langgeng Art Foundation, Mantrijeron terpampang 13 karya seni rupa dari dua seniman muda Yogyakarta. Pameran seni rupa tersebut mengangkat tema “Yang Hidup Berharap, yang Mati Tak Terungkap” mempertontonkan imajinasi dari dualitas hidup dan mati yang keduanya saling terhubung.
Saat memasuki ruang pameran, suasana wingit mulai dapat dirasakan pengunjung. Selain melihat lukisan-lukisan dengan konsep surealis dan bentuk yang relatif mengerikan, di salah satu ruang pameran juga terdapat seni instalasi bulatan kain bak rahim yang di bawahnya ditaburi bunga setaman. Tak hanya itu, wangi semerbak bakaran dupa juga tercium kuat ketika memasuki ruangan tersebut.
Salah seorang seniman rupa, Yusda Romi Saputra mengatakan tema 'Yang Mati Tak Terungkap' tersebut mewakili karya-karyanya yang menggambarkan tentang kehidupan atau proses setelah kematian. Selanjutnya untuk tema 'Yang Hidup Berharap' lebih mewakili dari karya-karya partnernya yaitu Antino yang banyak menggambarkan harapan-harapan manusia yang menumpuk dan akhirnya manusia tersebut kebingungan.
"Kematian seperti menemui sebuah rahasia. Fantasi mengenai kematian sangat dekat dengan kegelisahan yang membuat saya berimajinasi, bagaimana nanti setelah saya mati," ujarnya saat ditemui di Lokasi Pameran, Minggu (9/6/2024).
Terdapat 13 karya seni lukis dan satu seni instalasi di pameran tersebut. Satu karya seni instalasi yang berjudul Akhir Dari Kelahiran tersebut merupakan kolaborasi dari kedua seniman itu. Karya seni instalasi yang terlihat seperti rahim tersebut di dalamnya terdapat semacam janin.
"Karya itu menggambarkan fase sebuah kehidupan manusia yang dimulai dari janin dan ketika selamat artinya harus mau menerima kehidupan," tuturnya.
Pameran tersebut diadakan oleh Kelompok kesenian Kolektiv Mantra Serapah dimana arti Mantra Serapah adalah harapan atau doa yang dipanjatkan. Menurutnya, ia tertarik mengambil tema kematian karena proses kematian adalah menuju sebuah kerahasiaan.
"Kegelisahan kematian membuat saya berimajinasi bagaimana setelah kita mati," jelasnya.
Sementara itu, Kurator Pameran, Tomy Firdaus menambahkan judul tersebut berangkat dari pembacaan dua seniman yang terlibat. Ia menilai, dua seniman muda tersebut mempunyai kecenderungan tematik dalam proses pengkaryaannya.
"Keduanya sebenarnya ngomongin dualitas yang satu berbicara kematian satunya berbicara kehidupan atau harapan," ujarnya.
Referensi kehidupan setelah kematian banyak didapatkan dari sumber kitab suci. Kemudian, Yusda (salah satu seniman) mencoba menorehkan imajinasi dan fantasinya perihal kematian.
"Pengunjung bisa merasakan sensasi-sensasi fantasi yang terjadi setelah kematian dari lukisan itu," tuturnya.
Acara pameran tersebut berlangsung dari tanggal 8 Juni hingga 6 Juli 2024. Pembukaan pameran dibuka langsung oleh dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Rain Rosidi. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin