Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kenalkan Benthik, Latih Saraf Psikomotorik Anak, Rangkaian Perayaan Warisan Budaya Takbenda oleh Disbud

Gregorius Bramantyo • Rabu, 29 Mei 2024 | 02:15 WIB
LATIH SPORTIVITAS: Pelajar tingkat SD mengikuti lomba permainan tradisional Benthik dalam acara perayaan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) bertajuk Ajur Ajer Mbanyu Mili, di Ndalem Pakuningratan.
LATIH SPORTIVITAS: Pelajar tingkat SD mengikuti lomba permainan tradisional Benthik dalam acara perayaan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) bertajuk Ajur Ajer Mbanyu Mili, di Ndalem Pakuningratan.


 
RADAR JOGJA – Dinas Kebudayaan (Disbud) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar lomba benthik untuk siswa sekolah dasar di Ndalem Pakuningratan, Kraton, Kota Jogja, Selasa (28/5). Kegiatan ini termasuk dalam rangkaian acara Perayaan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) bertajuk Ajur Ajer Mbanyu Mili.
 
Perlombaan ini diikuti oleh 14 tim dari sejumlah sekolah dasar. Beberapa SD mengirimkan lebih dari satu tim. Seperti SDN Kraton yang mengirim empat tim dan SDN Timuran yang mengirim tiga tim. SDN Timuran 3 menjadi juara 1 di perlombaan ini usai mengalahkan SDN Timuran 1. Kuara ketiga diraih oleh SDN Kraton.
 
Ketua Dewan Kebudayaan Kota Jogja Ki Priyo Dwiarso mengatakan, kegiatan lomba ini dilakukan sebagai bentuk inventarisasi permainan benthik kepada masyarakat. Sebab, permainan tradisional tersebut secara resmi belum didaftarkan sebagai warisan budaya takbenda.

Perlombaan ini dilakukan sebagai pengenalan akan permainan tradisional terhadap generasi muda. Benthik dapat mendidik anak dan melatih saraf psikomotorik. Seperti keterampilan, disiplin dan sportivitas. “Lalu solidaritas akan terbentuk sekaligus berolahraga,” ujar pria yang juga bertindak sebagai dewan juri ini.

GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA


Menurutnya, benthik dapat bermanfaat bagi generasi Z. Sebab dimainkan secara bersama-sama atau kolektif di alam terbuka. Hal itu berkaca dari mayoritas generasi Z saat ini yang terpaku pada gadget, menimbulkan sikap individualistis.

 

Sementara permainan benthik mengharuskan adanya interaksi sosial dan dapat mengenal alam serta lingkungan. “Banyak sekali yang dipelajari, bukan hanya permainan benthik saja. Semuanya saling terkait,” katanya.


Permainan benthik merupakan suatu dolanan tradisi yang lebih banyak ditularkan secara tutur. Sehingga membuat sering ada perbedaan aturan dalam suatu wilayah dengan wilayah lain. “Tidak ada literasi tertulis dan baku tentang aturan benthik. Sejak dulu memang jadi dolanan tradisi,” tuturnya.


 Guru olahraga SDN Kraton Rama Yudha Pratama mengaku, para siswanya sebelumnya belum mengenal permainan benthik. Ia lalu mengenalkan benthik kepada para siswa lewat Youtube. “Terus langsung eksekusi latihan di sekolah, mulai dari H-3 perlombaan ini,” ungkapnya.


Anak didiknya cukup antusias saat mengikuti perlombaan ini. Meskipun mereka hanya mampu menjadi juara ketiga. Ia menilai, permainan ini bisa menumbuhkan jiwa kompetitif pada anak. 
 
Ia berharap, perlombaan seperti ini bisa digelar lebih masif lagi. Rama menyarankan agar perlombaan seperti ini digelar secara rutin.  Karena buat anak-anak kenal dulu sama permainan tradisional.”Biar tidak main gadget terus,” harapnya. (tyo/din)

Editor : Satria Pradika
#Benthik #Kota Jogja #disbud #kraton #Yogyakarta #lomba permainan tradisional #Saraf Psikomotorik #Warisan Budaya #DIY #Ndalem Pakuningratan #Latih Saraf