RADAR JOGJA - Meski telah ada larangan study tour dari beberapa daerah, Yogyakarta masih menjadi salah satu tujuan perjalanan wisata bermuatan edukasi atau pendidikan. Ini dilihat dari okupansi hotel di DIY, rata-rata dihuni rombongan pelajar libur dan cuti bersama Waisak.
Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, okupansi hotel se-DIY saat libur Waisak ini mayoritas datang dari berbagai daerah di Jawa seperti DKI Jakarta, Jabar, dan Jateng. "Dan sebagian dari Lampung serta Bali," katanya kepada Radar Jogja Jumat (24/5).
Deddy menjelaskan okupansi hotel saat libur Waisak hingga Jumat (24/5) mencapai 87 persen untuk Sleman dan Kota Jogja. Jumlah ini disebut hampir mencapai target 90 persen. "Tapi kalau okupansi se-DIY baru 82 persen. Rata-rata lama tinggal 2,5 hari," ujarnya.
Deddy menyebut, puncak tingkat hunian hotel di DIY selama libur Waisak prediksinya terjadi Sabtu (25/5). Sebab data reservasi hingga Jumat siang masih berjalan. "Ini data kita terus naik, reservasi ataupun walking in guest (datang sendiri) hari Jumat ini," jelasnya.
Meski rombongan pelajar mendominasi tingkat hunian hotel, dampak larangan study tour mulai terasa mulai akhir Mei dan Juni. Dampak itu yakni adanya penundaan reservasi dan cancel berkisar 10-15 persen di akhir Mei dan Juni sampai dengan Jumat.
PHRI beraharap pemerintah daerah bisa berperan, salah satunya menambah lama tinggal mereka. Salah satunya dengan mengadakan event atau kegiatan yang dapat menarik tamu-tamu hotel maupun wisatasan secara umum. "Ini bukan domain PHRI atau pelaku pariwisata saja, tapi pemda juga harus lebih berperan," tambahnya. (wia/laz)