RADAR JOGJA - Proses pembangunan tol Jogja-Solo Seksi 2 Paket 2.2 menyimpan sisi lain. Salah satunya proses relokasi Makam Kyai Kromo Ijoyo. Cagar budaya yang kerap disebut Situs Mbah Celeng itu memiliki kekuatan mistis dan dipercaya sebagai kerajaan jin. Oleh karena itu, perlu ritual khusus untuk memindahkannya.
IWAN NURWANTO, Sleman
Situs Mbah Celeng terletak di Padukuhan Ketingan, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati. Adapun Kyai Kromo Ijoyo sendiri dipercaya oleh warga sekitar sebagai sosok yang mendirikan Padukuhan Ketingan.
Lokasi Situs Mbah Celeng pun dipercaya memiliki kekuatan mistis dan kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk bersemedi. Namun seiring berjalannya waktu, situs itu harus direlokasi karena terdampak pembangunan tol Jogja-Solo.
Lurah Tirtoadi Mardiharto mengakui warga setempat percaya bahwa situs Mbah Celeng merupakan kerajaan jin. Sehingga di lokasi itu kemungkinan banyak roh-roh halus penunggu makam, termasuk yang tinggal pada pohon pule di area itu.
Ia menyebut, sosok Kyai Kromo Ijoyo juga dipercaya masih memiliki hubungan dengan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Oleh karena itu, dalam proses pemindahan makamnya ke lokasi baru perlu koordinasi dengan pihak Keraton Jogja.
Menurut Mardiharto, masyarakat juga mempercayai sosok Kyai Kromo Ijoyo merupakan salah satu sesepuh kampung yang harus dimuliakan. Oleh karena itu dalam proses pemindahan makamnya perlu menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.
Berbagai tahap pemindahan makam Kyai Kromo Ijoyo memang tengah dilakukan oleh pihak kalurahan. Dalam prosesnya, sudah disiapkan lahan pengganti yang lokasinya tidak jauh dari makam. Selain itu juga telah ada komunikasi antara pihak kalurahan, Keraton Jogja, serta pelaksana proyek tol.
"Memang perlu berbagai ritual, karena hal itu (mistis di situs Mbah Celeng) juga yang menjadi salah satu kendala (dalam proses relokasi). Tapi mudah-mudahan bisa diatasi," ujarnya saat dikonfirmasi Radar Jogja Selasa (21/5).
Sebagaimana diketahui, Situs Mbah Celeng menjadi salah satu lokasi yang terdampak pembangunan tol Jogja-Solo. Lokasi situs itu merupakan salah satu titik pembangunan box culvert atau bangunan berupa terowongan yang menjadi akses kendaraan di bawah jalan tol.
Mardiharto menerangkan, jika proses yang tengah berjalan saat ini adalah penghitungan nilai bangunan atau appraisal. Penghitungan itu perlu dilakukan agar bisa disiapkan biaya untuk proses pemindahan situs Mbah Celeng ke lokasi baru.
Dia mengaku, biaya yang diperlukan untuk pemindahan situs Mbah Celeng kisaran Rp 250 juta. Biaya itu tidak hanya digunakan untuk pembangunan makam baru, namun juga dialokasikan untuk prosesi ruwatan agar hal-hal buruk tidak terjadi selama proses pemindahan. "Untuk ruwatan nanti ada wayangan dan bregada yang mengiringi pemindahan ke lokasi baru,” terang Mardiharto.
Sementara itu, Humas PT Adhi Karya Pembangunan Tol Jogja-Solo Seksi 2 Paket 2.2 selaku pelaksana proyek Agung Murhandjanto menyampaikan, proses relokasi Situs Mbah Celeng sudah menempuh semua mekanisme prosedur pemindahan. Mulai penilaian appraisal lahan hingga nilai tegakan pada situs itu.
Selain itu titik relokasi Situs Mbah Celeng juga sudah disiapkan dengan lokasi yang masih berada di Padukuhan Ketingan. Artinya dengan sudah dilaluinya prosedur itu, pemindahan situs Mbah Celeng bisa segera dilakukan.
"Untuk target relokasi kami upayakan secepatnya. Kemungkinan setelah proyek di Ring Road Utara. Nanti pihak kasultanan akan membantu untuk relokasi," beber Agung. (laz)