Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kebutuhan Gudeg Melonjak sementara Bahan Baku Masih "Impor", Jadi Penyebab Nangka Muda Sumbang Inflasi Cukup Tinggi di Jogja

Gregorius Bramantyo • Senin, 20 Mei 2024 | 13:00 WIB

 

GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja mencatat inflasi di Kota Jogja dari Maret terhadap April 2024 mencapai 0,36 persen. Yang menarik, komoditas nangka muda (gori) turut menyumbang inflasi cukup tinggi. Bahkan menduduki lima besar hingga 0,03 persen.

Kepala BPS DIY Herum Fajarwati mengakui nangka muda menjadi salah satu komoditas yang harganya dipantau untuk penghitungan inflasi. Kenaikan harganya cukup tinggi dalam beberapa bulan terakhir. "Di atas 50 persen, bahkan sempat naik hampir dua kali lipat,” ujarnya kepada Radar Jogja (12/5).


Ia menjelaskan, rata-rata harga nangka pada April 2024 sekitar 19 persen. Sementara kenaikan harga dari Januari hingga April sekitar 89 persen. Kenaikan harga pada April 2023 sekitar 17 persen.


Nangka merupakan salah satu dari 407 komoditas dalam penghitungan inflasi. Herum mengakui, nangka sudah lama tidak ada pergerakan. Namun tiba-tiba melonjak pada momen Ramadan dan Lebaran. “Kami sempat cross check ke pasar untuk menyelidiki kenaikan nangka yang tinggi," ungkapnya.


Sejumlah pasar di Kota Jogja menjadi tujuan observasi. Seperti Pasar Kranggan, Pasar Beringharjo, dan Pasar Demangan. Dari pantauan lapangan itu, mayoritas pedagang mengakui bahwa harga nangka memang naik.


Menurut Herum, kebutuhan nangka muda semakin meningkat menjelang Lebaran. Sebab banyak orang yang sudah tidak berdomisili di Jogja lantas mengonsumsi gudeg saat liburan ke Jogja. Ditambah gudeg kemasan yang saat ini juga digunakan sebagai oleh-oleh.


Hal itu membuat kebutuhan nangka yang semula disangga oleh daerah di Jawa, kini tidak lagi mampu mencukupi. Selama ini, kebutuhan nangka muda untuk bahan gudeg didatangkan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Ia menyebut, pasokan nangka di DIY saat ini banyak berasal dari Lampung dan Sumatera Selatan. Hal itu membuat naiknya harga nangka yang diakibatkan oleh distribusi yang memakan cost transportasi lebih mahal. "Jadi dari pemasoknya itu sudah menaikkan harga, sehingga ecerannya ikut naik. Toh, berapa pun harganya di Jogja tetap harus bikin gudeg kan,” lontarnya.


Ia mengatakan, jumlah "impor" nangka di DIY memang relatif tinggi. Artinya dari kebutuhan semula, kemudian dalam perkembangannya ke depan akan semakin tinggi. Di sisi lain, gudeg kemasan juga sudah memasok ke luar DIY. “Tidak hanya pengunjung yang masuk ke Jogja yang beli gudeg, tetapi ekspansi dari industri gudeg dalam kemasan memasarkannya ke luar DIY,” katanya.

Baca Juga: 4 Ragam Gudeg Jogja yang Harus Kamu Cicipi Termasuk Gudeg Mercon yang Pedasnya Bikin Ketagihan!


Herum menyampaikan, nilai ekonomis nangka memang tidak seseksi komoditas lain, misalnya cabai. Selain itu, lahan untuk menanam nangka di DIY semakin terbatas. Banyak yang beralih menjadi perumahan dan kawasan industri.


Di sisi lain, tidak ada penanaman nangka besar-besaran di DIY. Juga tidak ada penanaman dalam skala hektare. Rata-rata hanya beberapa pohon yang terkadang tumbuh alami, tidak sengaja ditanam, atau ditanam tetapi tidak khusus untuk kebun nangka.


Faktor lain adalah nangka yang lama berbuah. Sehingga pemilik lahan yang terbatas enggan menanam pohon nangka. “Terus panennya kapan? Kalau butuh duit juga tidak bisa, karena jual pohon nangka juga tidak murah,” sebut Herum.


Ia menjelaskan, setiap komoditas memiliki bobot sendiri dalam penghitungan inflasi. Yang tinggi adalah beras di DIY. Bobotnya pada 2022 mencapai 4,44 persen. Sementara nangka dalam pantauan terakhir hanya 0,12 persen. Nangka tetap masuk dalam komoditas yang dipantau karena bobotnya sudah mencapai 0,1 persen.


"Kami tidak selalu tergantung dengan bobot. Kalau ada kenaikan ekstrem, kami harus tahu di lapangan seperti apa. Harga (nangka) naik tapi tidak terlalu berpengaruh terhadap inflasi,” tandasnya.

Tiap Hari 10 Ton untuk 170 UMKM Gudeg

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Syam Arjayanti mengatakan, kenaikan harga nangka muda memang mendorong dampak inflasi di DIY, meski tergolong kecil sekitar 0,03 persen. Permintaan nangka muda yang meningkat di Yogyakarta ini menjadi salah satu faktor harga menjadi tinggi.


"Jarang nangka muda ada inflasi ya, tapi inflasinya kecil 0,03-an. Tapi memang ada kenaikan permintaan karena pada pengen makan gudeg, terus ada yang oleh-oleh khas gudeg," katanya (12/5).


Syam menjelaskan, kebutuhan nangka muda di Jogjakarta ini sebelumnya dapat dicukupi dari daerah Jawa Tengah. Namun karena permintaan meningkat, kebutuhan gori harus dibeli dari luar Jawa yakni Lampung dan Sumatera Selatan.


"Kebutuhan (nangka muda) di DIY hasil kajian dari universitas sekitar 10 ton per hari, karena ada sekitar 170-an UMKM yang mengolah dan membuat industri gudeg," ungkapnya.
Instansi ini tak dapat melakukan intervensi lebih, karena komoditas nangka muda belum menjadi fokus pantauannya.

Sehingga harga kenaikan nangka muda juga belum terdata di Disperindag DIY. Sementara yang menjadi pantauan selama ini masih bahan pokok utama seperti beras, minyak goreng, tepung terigu, telur, daging ayam ras, gula pasir, dan bapok lainnya.


Namun demikian, Disperindag DIY bersama stakeholder lain berupaya lebih dulu mengembangkan budi daya penanaman nangka muda di Karangmojo, Gunungkidul. Penanaman ini sebagai salah satu bentuk upaya agar mampu memasok bahan baku gudeg di Yogyakarta.

Mengingat kota gudeg ini membutuhkan bahan baku setidaknya 10 ton per hari untuk nangka muda. "Baru tanam 2022, masih lama banget untuk panen, masih butuh waktu," terangnya.


Dia belum dapat memastikan prediksi beberapa tahun ke depan untuk jumlah hasil produksi nangka muda dari yang telah ditanam. Namun setidaknya, hal itu tergantung pemeliharaan, maka dari sisi produktivitas harus tetap dipantau.


Bagaimana pemeliharaan budidayanya apakah dikasih pupuk secara intensif atau cuma dibiarkan saja, ini perlu kita pantau," tambah Syam.


Oleh karena itu diharapkan dengan penanaman yang sudah diinisiasi itu untuk budi daya tanaman nangka muda bisa menjadi salah satu alternatif pemasok bahan baku gudeg.

"Karena kan kita susah di DIY kayak gudeg, bakpia yang bahan bakunya dari luar, sementara menjadi makanan khas oleh-oleh Jogja. Produksi kacang hijau juga di luar DIY. Semoga inflasi itu berdampak positif bagi kesejahteraan IKM dan petaninya," tambahnya. (tyo/wia/laz)

Editor : Satria Pradika
#Badan Pusat Statistik #impor #Khasiat Gudeg #Kota Jogja #Yogyakarta #bps #gudeg #inflasi #gori #DIY #nangka muda #bahan baku gudeg #Disperindag DIY #IKM