Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bisa Beli Mobil tapi Tak Punya Garasi, Sering jadi Pemicu Konflik dengan Tetangga

Fahmi Fahriza • Jumat, 10 Mei 2024 | 14:25 WIB

 

Photo
Photo

 

RADAR JOGJA - Fenomena garasi mobil bersama yang memanfaatkan lahan kosong, disadari atau tidak kini makin menjamur praktiknya. Hal itu salah satunya juga terjadi di Kota Jogja.


Dosen dan peneliti di Departemen Sosiologi UGM Derajad Sulistyo Widhyharto mengamati, fenomena ini benar banyak terjadi. Di mana orang berlomba-lomba membeli mobil namun tidak memikirkan lahan parkirnya.


"Fenomena itu datang dari perekonomian kita yang berbasis kelas menengah, lalu didorong tingginya angka konsumsi. Banyak yang terjebak di lingkar ekonomi itu," katanya kepada Radar Jogja, Minggu (21/4).


Derajad menjelaskan, jebakan konsumsi kelas menengah memang banyak terjadi. Banyak orang yang merantau dan bekerja di perkotaan, namun sebagian besar dari mereka tidak mampu membeli aset yang layak, termasuk juga rumah sekaligus lahan parkir itu sendiri.


"Banyak yang tidak memiliki aset seperti tanah, rumah. Untuk mengantisipasi konsumsi, mereka justru beli kendaraan, bisa motor atau mobil. Lihat, hampir semua orang motornya lebih dari situ, ditambah beli mobil juga. Padahal mereka tidak memiliki garasi atau lahan parkir," tambahnya.


Sehingga, praktik konsumtif itu yang akhirnya dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk membuka garasi mobil bersama. Namun ia menyoroti garasi mobil yang asal memanfaatkan lahan kosong itu juga banyak yang ilegal dan tanpa sepengetahuan sang pemilik tanah.


"Bisnis memanfaatkan lahan kosong itu kan bukan berarti tidak ada yang punya. Kadang mereka ilegal juga, tanpa izin yang punya. Ketika yang punya mau bikin properti di lahan itu, justru terjadi konflik. Padahal dia tidak salah," ungkapnya.


Konflik-konflik horisontal itu mungkin sekali terjadi, lanjut Derajad, diamati bisnis tersebut juga berkembang luas. "Sekarang banyak RT yang punya lahan itu diobjekkan, dibuat bisnis," tambahnya.


Sementara orang-orang yang memiliki mobil namun tidak memiliki garasi, umumnya juga akan memarkir mobilnya di depan rumah, padahal kawasan itu jalanan umum. Praktik tersebut juga tidak bisa dibenarkan, karena berpotensi memicu konflik dengan tetangga atau warga.


"Orang bisa beli mobil tapi tidak bisa menampung mobil itu, akhirnya parkir di bahu jalan. Itu memicu potensi konflik seperti berseteru atau tidak ngobrol dengan tetangga. Itu banyak terjadi," ujarnya.


Lebih lanjut dosen yang juga mengajar sosiologi ekonomi dan masyarakat industrial itu membeberkan, dalam budaya masyarakat Indonesia secara umum, mobil juga masih menjadi ukuran keberhasilan dan standar sosial seseorang.
Dikatakan, ketika seseorang akhirnya bisa membeli barang yang mahal dan membutuhkan waktu lama dengan jumlah banyak, akan ada tendensi sosial yang menunjukkan bahwa dia berhasil atau sukses.


"Selain rumah, mobil juga menjadi penanda sosial. Itu bagian dari sosial flexing, bisa dianggap berhasil, maju, dan sukses. Pencitraan yang paling mudah itu dilakukan salah satunya dengan membeli mobil," lontarnya. (iza/laz)

Editor : Satria Pradika
#Kota Jogja #UGM #garasi #rumah #Perkotaan #lahan kosong #bangunan