Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pendapatan Penjual Kuliner Menurun, Pedagang Pasar Sentul Baru Juga Keluhkan Biaya Sewa

Agung Dwi Prakoso • Kamis, 2 Mei 2024 | 11:25 WIB
MASIH SEPI: Suasana zona kuliner di Pasar Sentul, Kota Jogja,(1/5). Penjual kuliner di lokasi tersebut mengeluhkan menurunnya pendapatan mereka dan ditambah biaya sewa kios yang relatif tinggi.
MASIH SEPI: Suasana zona kuliner di Pasar Sentul, Kota Jogja,(1/5). Penjual kuliner di lokasi tersebut mengeluhkan menurunnya pendapatan mereka dan ditambah biaya sewa kios yang relatif tinggi.

 



RADAR JOGJA – Para penjual kuliner di Pasar Sentul lantai tiga mengeluh, karena penjualannya menurun drastis pasca renovasi. Selain itu, setelah dua minggu berjualan, mereka mendapatkan informasi biaya sewa dan lainya di kios baru relatif tinggi dibandingkan tempat mereka jualan sebelumnya. 


Zona kuliner Pasar Sentul berada di lantai tiga atau rooftop. Untuk ke zona ini, pengunjung harus berjalan kaki dan naik eskalator atau tangga sebanyak dua kali. Kondisi di lantai paling atas Pasar Sentul sangat tertutup. Dari jalan atau luar pasar sama sekali tidak terlihat bahwa di lantai paling atas merupakan pusat kuliner. Tembok tinggi mengelilingi area kuliner tersebut.


Selain itu, terdapat sekat kaca ditengah-tengah area yang memisahkan antara pedagang sisi Timur dan sisi Barat. Kaca tersebut juga dipasangi stiker iklan dari salah satu perusahaan yang menyebabkan pandangan terbatas. Sekitar pukul 12.30 beberapa pedagang kuliner bahkan sudah tutup.

 

Sekitar lima kapling toko juga terlihat belum ada penghuni, tetapi telah terpasang nama penghuni di bagian depan atas.
Ponijo, penjual nasi rames masakan ndeso menilai lokasi area kuliner kurang prospektif karena terlalu tertutup.

Selain itu, pintu keluar masuk di lantai tersebut dinilai masih minim yaitu berjumlah tiga di pojok sisi barat, timur dan tengah.”Saya usul s ditambah pintu keluar dan ditambah emperan biar dari jalan bisa liat ada kulineran di atas,”ujarnya.


Mantan penjual di Lapangan Sewandanan itu juga mengatakan, selama delapan hari buka warungya tidak begitu ramai pembeli. Omzet warungnya per hari hanya sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu. Itu pun belum dikurangi biaya modal. Dia juga khawatir sewa mahal.”Kabar saat rapat terakhir per hari Rp 24 ribu," bebernya.


Penjual lotek dan gado-gado Murji Utomo juga mengeluhkan turunnya pendapatan. Saat menempati pasar baru omset di warungnya menurun hingga tiga kali lipat. Dulu di Sewandanan bisa tiga kali lipat pembelinya. Sehari bisa lebih dari Rp 500 Ribu sampai Rp 700 Ribu. Sekarang sekitar hanya sekitar Rp 200 Ribu.


Harga sewa dan lainya saat di Sewandanan Rp 500 Ribu sebulan. Biaya tersebut tekah termasuk listrik, air, dan sampah.  Di Sewandanan karcis Rp 10 Ribu, sampah per minggu Rp 10 Ribu, air Rp 80 Ribu per bulan dan listrik Rp 15 ribu per bulan.”Kurang lebih sebulan Rp 500 ribu," tuturnya. (oso/din) 

 

Editor : Satria Pradika
#rooftop #Kuliner #pedagang kuliner #Pasar Sentul #Lapangan Sewandanan