JOGJA - Realisasi luas panen padi di DIY sepanjang bulan April ini mencapai 35.557 hektar.
Capaian luas panen itu menurun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2023 lalu.
Hal ini karena dampak fenomena El Nino, yang menyebabkan mundur 1 Musim Tanam (MT).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Hery Sulistio Hermawan mengatakan, total luasan panen padi sepanjang April ini mencapai 35.557 hektar.
Dari 5 kabupaten/kota, Gunungkidul memiliki lahan panen padi paling luas yaitu 23.803 hektar.
"Iya Gunungkidul paling luas, disusul Kabupaten Sleman 6.383 hektar, Kabupaten Bantul 3.040 hektar, Kabupaten Kulon Progo 2.321 hektar dan Kota Jogja 9 hektar," katanya Rabu (24/4).
Hery merinci, pada musim panen bulan ini akan menghasilkan produksi padi sekitar 201.876 ton gabah kering giling (GKG). Dengan rata-rata produktivitas 5,8 ton per hektar.
"Itu belum panen raya. Ini mau merangkak naik panen raya bulan Mei, April-Mei sudah mulai banyak posisi optimal," ujarnya.
Pun rata-rata petani sudah ada yang memulai tanam di MT 2 sejak Maret sesuai dengan mereka panen di MT 1 ini.
Menurutnya, setelah MT 1 dipanen rata-rata 2-3 minggu kemudian mulai tanam lagi.
Masa panen dalam setahun beragam, ada yang 2 hingga 4 kali panen.
"Kalau memang irigasinya bagus bisa tiga kali ada yang empat kali tapi masih sedikit. Kalau yang lahan tadah hujan biasanya sekali atau dua kali. Jadi kalau jumlah total produksi kita sebetulnya kalau setahun cukup, memang kalau kebutuhan masyarakat flat sekarang," jelasnya.
Kabid Tanaman Pangan DPKP DIY Andi Nawa Candra menambahkan, jumlah luas panen pada April tahun ini menurun dibandingkan periode yang sama di tahun 2023.
Hal ini karena ada dampak fenomena El Nino yang mengakibatkan adanya mundur tanam 1 MT.
"Kehilangan 1 MT artinya yang seharusnya ada pertanaman di 1 MT karena El Nino jadi tidak tanam karena mundur tanam," tambahnya. (wia)
Editor : Meitika Candra Lantiva