Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Okupansi Hotel di DIY saat Libur Lebaran 2024 Belum Capai Target, PHRI DIY: Banyak Wisatawan Menunda Menuju Jogja

Winda Atika Ira Puspita • Senin, 15 April 2024 | 20:26 WIB
Sudah menjadi rutinitas bahwa ketika bulan ramadhan, okupansi hotel pasti mengalami penurunan.
Sudah menjadi rutinitas bahwa ketika bulan ramadhan, okupansi hotel pasti mengalami penurunan.

JOGJA – Tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel di DIY selama libur lebaran secara akumulasi baru menyentuh 85 persen.

Jumlah ini belum mencapai target yang ditetapkan BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DIY sebesar 90 persen.

Hal ini karena alasan adanya kemacetan menuju Jogjakarta hingga wisatawan menunda bepergian.

Ketua BPD PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, okupansi hotel se-DIY belum terpenuhi sesuai target 90 persen.

Secara akumulasi, rata-rata tingkat keterisian kamar pada periode 8-14 April mencapai 85 persen.

Kendalanya karena wisatawan banyak menunda bepergian dengan alasan ada kegiatan di tempat asalnya, juga karena adanya kemacetan menuju ke Jogja.

Terutama arah dari DKI Jakarta dan Jawa Barat menuju Jogja. 

“Secara akumulasi mengapa tidak memenuhi target 90 ya karena dua hal itu, kemudian daya beli masyarakat sekarang juga berkurang. Perlu diketahui bahwasanya dollar sekarang Rp 16 ribu, mereka juga melihat situasi dan kondisi mereka masing-masing,” katanya kepada Radar Jogja Senin (15/4).

Deddy merinci okupansi harian, bahwa peningkatan okupansi hanya terlihat pada periode tanggal 11-13 April. Peningkatan pada 11 April mencapai sekitar 60-70 persen.

Puncak okupansi terjadi pada tanggal 12 April mencapai 97 persen atau rata-rata se-DIY hampir menyentuh 100 persen.

Namun, pada 13 April okupansi kembali turun diangka 90 persen, hingga 14 April turun lagi menjadi 80 persen.

Rata-rata tamu datang dari wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Palembang, Lampung, dan Bali.

“Kita sempat kepleset di tanggal 8, 9, 10 (April) yang tadi kita target 60-70 persen ternyata hanya sampai di sekitar 30-50 persen,” ujarnya.

Namun demikian, data yang dihimpun PHRI tersebut masih bersifat sementara dan belum valid seluruh hotel, penginapan maupun resort yang non keanggotaan.

Deddy meyebut, banyak wisatawan juga yang stay atau tinggal di resort maupun peninapan-penginapan kecil non anggota PHRI. Terlebih kamar-kamar hotel juga makin bertambah di DIY.

“Mungkin bisa lebih (dari target okupansi), karena resort-resort juga penuh, penginapan-penginapan kecil juga terisi tapi belum terakumulasi ke kita karena mereka bukan anggota kita,” tandasnya

Meskipun okupansi sebesar 85 persen tersebut kebanyakan terjadi di hotel-hotel wilayah Kota Jogja dan Sleman, namun keterisiannya hampir merata di semua wilayah.

Lebaran tahun ini keterisian kamar hotel mengalami pergeseran, merata di wilayah Gunungkidul. Hal ini dikarenakan okupansi yang sudah penuh di kota dan Sleman sehingga tersebar ke wilayah lain.

Di samping, Gunungkidul, Kulon Progo, dan juga Bantul.

“Karena yang dari arah timur ke Gunungkidul mereka lewat jalur selatan mengurangi kemacetan sehingga singgah di Gunungkidul, atau yang dari barat di Kulon Progo dan Bantul. Bagi PHRI DIY ini justru menjadi positif karena bisa pemerataan,” jelasnya.

Menurutnya, pemerataan tingkat keterisian kamar di semua wilayah kabupaten/kota di DIY sejatinya perlu disambut baik terutama oleh pemerintah daerah setempat dan asosiasi wisata.

Sebab, rata-rata lama tinggal tamu hotel ini masih berkisar diangka 2 hari, masih jauh dari target PHRI 3 hari.

Event-event yang menasional pun sejatinya perlu digelar untuk mendongkrak lama tinggal wisatawan ini.

“Paling nggak bisa dua koma mendekati tiga tapi belum bisa terpenuhi, ya mungkin evaluasi pemerintah daerah juga perlu mengadakan event mejelang hari lebaran sampai dengan berakhirnya lebaran yang bersifat nasional. Bukan hanya untuk menghibur masyarakat DIY sendiri, tapi bisa untuk wisatwan luar,” terangnya.

Baca Juga: Ini 5 Tips Sekolah Antimalas setelah Menjalani Libur Lebaran

Kendati begitu, PHRI masih berharap ada angin segar pada tingkat okupansi paska lebaran tanggal 15 hingga akhir bulan ini. Sebab reservasi periode tersebut sudah mencapai 50-60 persen.

Didominasi oleh group atau rombongan dari instansi pemerintah maupun swasta atau reuni. Pun kegiatan reuni ini diklaim dapat mensuplai okupansi yang cukup di DIY.

Terlebih, Jogja merupakan pusat pendidikan dari SMP hingga perguruan tinggi. Tamu-tamu hotel yang hendak mengadakan event reuni di DIY cukup mendongkrak target keterisian kamar hotel.

”Periode 15 April sampai akhir bulan kelihaetannya akan meningkat, tapi ini didominasi oleh group bukan keluarga. Kalau yang lebaran periode 8-14 April didominasi oleh wisatawan keluarga,” tambahnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#okupansi hotel #libur lebaran #Jogja