RADAR JOGJA - Dari enam target capaian program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Banggakencana) di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIY), lima di antaranya tercapai maksimal.
Satu masih belum tercapai, yaitu iBangga atau capaian Indeks Pembangunan Keluarga. Capaian target iBangga terjadi disparitas jauh dengan provinsi lain.
Kepala Perwakilan BKKBN DIY Andi Ritamariani mengatakan, lima program sukses ada pada program Angka kelahiran (Total Fertility Ratio/TFR) di angka 1,81.
Disusul modern Contraceptive Prevalence Rate (mCPR) di angka 8, Median Usia Kawin Pertama Perempuan (MUKP) 23,5, Persentase Perkiraan Kebutuhan Ber-KB yang Tidak Terpenuhi (Unmet Need) terpenuhi, dan Angka Kelahiran Remaja Umur 15-19 Tahun (Age Specific Fertility Rate/ASFR 15-19) terpenuhi.
"Sedangkankan untuk iBangga, tidak terlampaui, namun tetap berada di atas rerata nasional," katanya usai bertemu Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam (PA) X di Kompleks Kepatihan, kemarin (25/3).
Andi telah menyampaikan kondisi capaian ini ke pusat, dan pusat informasinya akan memberikan koreksi terhadap kebijakan penetapan target. Dicontohkan, pada angka TFR DIY yang berada di angka 1,81, sementara terjadi disparitas di provinsi lain dengan angka 2,7. Bahkan ada yang di angka 3,4. Hal ini diklaim menjadi cakupan angka yang terlampau jauh dengan DIY.
Selain itu, ada hal yang perlu diperhatikan kembali pada MUKP DIJ yang targetnya dinaikkan menjadi usia 23,5. Menurutnya, meskipun tercapai, hal ini akan menjadi bumerang bagi DIY sendiri terkait dengan angka kelahiran yang bisa jadi menurun. Tentu hal ini perlu koreksi pula dari pusat untuk mengubah target MUKP DIY.
“Kami ingin mereka menikah tidak terlalu dini, tapi tidak juga terlambat. Karena ini nantinya akan mempengaruhi kesehatan reproduksi. Makin berisiko, orang akan memilih tidak hamil. Ini masalah juga nantinya,” jelasnya.
KGPAA PA X mengatakan, meski indikator yang saat ini masih belum tercapai targetnya yaitu iBangga namun pihaknya tetap optimistis dapat mencapai target. Apalagi, iBangga DIY pada tahun lalu menjadi yang terbaik nasional.
Tahun 2023, target iBangga yang harus diraih tidak sama dengan provinsi lain, dan ditetapkan jauh di atas provinsi lain. Meskipun begitu, DIY tetap meraih 20 terbaik nasional atas iBangga, dengan capaian di atas rerata nasional.
Dengan demikian, diperlukan kerja sama antar stakeholder untuk mewujudkan kesuksesan pada semua indikator utama tersebut. Melalui kerja sama dari berbagai pihak, maka akan dicapai hasil yang maksimal. Harus ada pendekatan yang bersifat local wisdom. “Masyarakat itu bagaimana adat budayanya,” tambahnya. (wia/din)