RADAR JOGJA - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIJ terus berupaya melakukan stabilisasi harga dan pasokan beras. Ini dilakukan karena harga beras hingga saat ini masih tergolong relatif tinggi.
Kepala Disperindag DIJ Syam Arjayanti mengatakan, harga eceran tertinggi (HET) beras masih bertahan tinggi untuk beras premium di angka Rp 16 ribu per kilogram. Sementara beras medium Rp 13 ribu sampai Rp 14 ribu per kilogram. "HET beras yang masih bertahan karena produksinya kan juga belum sesuai dengan yang diharapkan," katanya belum lama ini.
Syam menjelaskan, harga beras yang masih tinggi juga dimungkinkan karena adanya bencana banjir yang terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah yaitu Demak dan Kudus. "Salah satunya di Kudus banjir. Beberapa distributor ada yang ngambil pasokan beras dari sana, makanya cukup terganggu," ujarnya.
Dengan begitu, pihaknya terus mengupayakan stabilisasi harga dan pasokan dengan menggencarkan pasar murah dan operasi pasar di seluruh DIJ selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Hal ini agar sejumlah kebutuhan pokok dapat dijangkau oleh masyarakat. "Stok terjaga, kalau harga turun khusus premium, harga barangnya susah jadi lebih ke stok pangan. Kalau stok Bulog cukup untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan," jelasnya.
Instansi ini akan menggandeng lagi para distributor, jika memang harga beras tak kunjung turun.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIJ Hery Sulistio Hermawan mengatakan, potensi panen raya padi di wilayah DIJ pada April dan Mei mendatang mencapai angka 305.369 ton. Sementara potensi beras pada panen raya di dua bulan itu mencapai 192.993 ton.”Memang sudah ada yang panen tapi belum semua," katanya.
Dia menjelaskan, pada April potensi panen padi mencapai 103.493 ton dan di bulan Mei 201.876. Sementara potensi produksi padi dari panen itu di April mencapai angka 65.407 dan Mei 127.586 ton. Menurutnya, mundurnya panen raya padi di wilayah DIJ tak lepas dari dampak El Nino akhir tahun lalu. Pihaknya sudah mendata luasan lahan panen yang ada di wilayahnya dan terus dilaporkan setiap bulannya.
Ada sejumlah tantangan yang membuat potensi panen raya padi itu menurun yakni berupa luas lahan yang terus menurun setiap tahunnya, kemudian dampak El Nino yang mengakibatkan masa tanam dan panen jadi mundur, selanjutnya masa penyiapan lahan yang harus dioptimalkan petani. "Kami juga sudah mulai inventarisasi lahan tadah hujan utamanya yang dekat sungai, embung, dan sumber air lain," tambahnya. (wia/din)
Editor : Satria Pradika