JOGJA - Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) mengeluhkan mahalnya biaya tiket penerbangan menuju Indonesia. Itu lantaran faktor tingginya ongkos penerbangan membuat wisatawan mancanegara (Wisman) enggan berkunjung ke DIJ. Akibatnya, jumlah Wisman yang berwisata di DIJ jumlahnya beranjak menurun setiap harinya.
Pelaksana tugas Ketua ASITA DIJ Edwin Ismedi Himna membeberkan, Wisman dari Thailand yang sangat menurun sekali. Dia mensinyalir itu terjadi karena mahalnya biaya penerbanhan dari Thailand ke Indonesia. Kondisi itu diperparah lagi karena tidak ada penerbangan langsung dari negeri Gajah Putih itu ke DIJ.
"Ternyata setelah kami coba cari informasi pengaruh tiket ini memang sangat mempengaruhi untuk kedatangan para wisatawan," bebernya, Kamis (21/3/2024). Selama ini Wisman dari Thailand ketika hendak ke DIJ melalui Bali ataupun Jakarta. Kondisi itu karena tidak adanya penerbangan langsung ke NYIA, Kulon Progo. Itu pun harga tiketnya dari Thailand untuk menuju ke Indonesia gila-gilaan dan sangat tinggi.
Edwin mengaku, sudah melakukan investigasi ke asosiasi di Thailand perihal menurunnya kunjangan ke Indonesia. Menurutnya, Wisman Thailand lebih memilih ke Jepang karenau lebih murah tiket akomodasinya dan tidak ada transit lagi. Sebetulnya, apabila tiket pesawatnya murah tidak ada hambatan lagi.
Dia mengutarakan, dipelajarinya saat sebelum pandemi Covid-19 lalu kunjungan Wisman Thailand ke DIJ masuk 10 besar yang terbanyak. "Harga tiket yang tinggi jadi sangat berpengaruh sehingga memilih ganti destinasi. Padahal magnet adanya Candi Borobudur kuat," ucap Edwin. Menurutnya, menurunnya market dari Thailand menjadi tantangan tersendiri bagi ASITA DIJ.
Sementara itu, kondisi Ramadan yang low season membuat kunjungan Wisman dari negara lainnya juga menurun. Edwin mengaku, tidak ada solusi untuk mengatasi kondisi tersebut. Itu lantaran, kondisi low season ini tidak hanya berlaku di Indonesia tetapi juga di sejumlah negara asal para Wisman yang sering ke DIJ.
Oleh karena itu, menurutnya, meskipun disiasati dengan adanya sejumlah promo tidak akan berdampak. Otomatis akan sia-sia upaya promo itu sehingga tidak menghasilkan apapun untuk menarik Wisman. Sedangkan untuk wisatawan domestik Edwin menuturkan, libur Lebaran akan mulai terlihat geliatnya.
Kondisi itu akan terus berlangsung hingga sampai awal Mei karena sudah ada yang booking agenda gathering perusahaan. Sedangkan selama Ramadan ini wisatawan domestik juga masih sangat minim.
Sementara itu, Plh Kepala Dinas Perhubungan DIJ Sumariyoto mengatakan, 10% warga yang mudik ke DIJ di antaranya juga merupakan wisatawan domestik. DIJ menjadi tujuan wisata yang banyak pilihannya sehingga diminati untuk dikunjungi. Dia berpesan, agar memantau destinasi yang akan dikunjungi sebelum berangkat.
Jangan sampai terjebak macet sehingga antisipasi dengan memantau Lalin di destinasi yang akan dikunjungi. "Kecenderungannya dari 11,5 juta orang yang diprediksi mudik ke DIJ hanya 10% sekian yang murni untuk liburan ke DIJ. Sisanya silaturahmi," tuturnya. (rul)
Editor : Iwa Ikhwanudin