JOGJA - Jika dulu saat zaman penjajahan Belanda gauk atau sirine digunakan sebagai tanda bahaya, gauk sekarang justru dialih fungsikan sebagai penanda waktu berbuka puasa di Jogja. Gauk peninggalan Belanda tersebut masih dirawat oleh takmir masjid Nurul Islam, sehingga masih berdiri kokoh di atas Plengkung Nirboyo, Jalan Gading No 7, Panembahan,Kraton, Jogja.
"Seinget saya, difungsikan sebagai penanda waktu buka puasa sejak saya kecil sekitar tahun 1970an. Bahkan mungkin sebelumnya," ujar Ketua Takmir Masjid Nurul Islam, Patehan Mohamad Sofyan saat ditemui di lokasi gauk, Rabu (20/3/2024).
Sofyan mengenang semasa kecilnya ketika mendengar suara gauk yang melengking, spirit perjuangan para pendahulu seperti bisa dirasakan olehnya. Maka dari itu, gauk juga akan dibunyikan ketika ada peringatan hari besar.
"Sebagai pengingat sejarah, nanti akan dibunyikan juga ketika Hari kemerdekaan, Hari Pahlawan dan lainya," tuturnya.
Menurutnya, peninggalan Belanda tersebut tidak hanya ada di Jogja. Khusus di Jogja, Gauk tersebut menjadi suara yang tidak bisa dijauhkan dari kisah heroiknya pahlawan Indonesia dalam mengusir penjajah yaitu di Serangan Umum 1 Maret.
"Berdasarkan sejarah Gauk itu dimanfaatkan oleh pejuang kita untuk mengkonsolidasikan ssrsngan umum 1 Maret," jelasnya.
"Setelah masa itu, sirine gauk ini di manfaatkan untuk tanda waktu berbuka puasa," imbuhnya.
Fungsi gauk sebagai tanda waktu buka puasa tersebut sempat macet dan tidak dibunyikan hingga puluhan tahun. Karena dinilai perlu dan penting, gauk tersebut kembali dinyalakan kembali oleh Sofyan pada tahun 2012.
"Karena mungkin tidak ada yang meneruskan dari generasi lama ke generasi baru," tandasnya.
"Jadi saya berkoordinasi pihak terkait izin menafaatkan gauk sebagai tanda buka puasa seperti yang kita rasakan dulu," imbuhnya.
Awal puasa tahun ini, gauk sempat mengalami kerusakan sehingga menyebabkan tidak bisa dibunyikan selama kurang lebih tiga hari. Hal tersebut dikarenakan terdapat komponen yang rusak/terbakar.
"Konon katanya dulu ini suaranya terdengar bisa sampai Pabrik Madukismo, Bantul," ujarnya.
Karena nilai sejarah dari gauk tersebut, Sofyan berencana untuk melakukan kegiatan perawatan secara berkala. Hal tersebut dilakukan ke seluruh gauk yang ada di Jogjakarta.
"Kita juga akan komunikasi dengan warga atau masjif sekitar gauk. Minimal dibunyikan pada saat ramadan," pungkasnya.
Sementara itu, Sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Silverio Raden Lilik Aji Sampurno menambahkan bahwa gauk difungsikan untuk tanda bahaya di kawasan Kraton Jogja. Ia mencontohkan apabila ada serangan udara, gauk akan segera dibunyikan.
"Kalau pada masa lalu itu, bangunan tidak semasif sekarang. Menurut data, itu (radius bunyi) sampai 5 kilometer," ujarnya.
"Kalau sekarang kan kolusi udaranya udah gilani, jadi bunyinya hanya di daerah situ saja. Bahkan untuk sampai ke Tugu Jogja saja sudah tidak kedengaran," imbuhnya. (oso)