JOGJA - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY memberlakukan aturan baru, pembelajaran waktu di bulan Ramadan 1445 Hijriah.
Terutama untuk jenjang menengah atas SMA/SMK/SLB, jam pembelajaran hanya 35 menit per mata pelajaran.
Wakil Kepala Disdikpora DIY Suhirman mengatakan, aturan tersebut tertuang dalam surat edaran 400.3.14.1/6802 tentang libur awal dan akhir Ramadan 1445 hijriah serta kegiatan selama bulan Ramadan di SMA/SMK/SLB se-DIY.
"Iya sudah ada edarannya, ada pengurangan 10 menit (setiap mata pelajaran). Dari 45 menjadi 35 menit," katanya Senin (18/3).
Hirman menjelaskan, dari semula normalnya 45 menit, alokasi waktu pembelajaran selama bulan Ramadan menjadi selama 35 menit satu mata pelajaran.
Selain pemangkasan alokasi waktu pembelajaran, selama bulan Ramadan peserta didik yang beragama Islam diimbau rnemperbanyak aktivitas yang lebih bersifat religius baik di sekolah maupun di masyarakat.
Kemudian juga menciptakan suasana kondusifdi sekolah dengan tetap menjaga sikap toleransi.
"Banyak kegiatan di ramadan, guru-guru memonitor siswa, kami menyampaikan ke orang tua untuk mengawasi anak selama bulan ramadan. Kegiatan ramadan dan rohis, pesantren Ramadan," ujarnya.
Pun kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di sekolah agar tetap menjaga protokol kesehatan.
Mengoptimalkan peran rohis dalam kegiatan Ramadan di sekolah.
Orang tua atau wali siswa juga diminta melakukan pendampingan atau pengawasan intensif terhadap aktivitas anak selama libur sekolah atau pada saat berada di rumah.
Sehingga tidak melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat atau merugikan orang lain.
"Sekolah pertama situasi ramadan betul-betul situasi rohani yang berbeda dengan bulan yang lain. Monggo sekolah mengisinya dengan kegiatan kerohanian, kajian kitab, aksi sosial memang harus berbeda nuansa rohani dengan bulan yang lain," jelasnya.
Kepala SMAN 10 Jogja Sri Moerni mengatakan, aturan tersebut telah diimplementasikan sejak memasuki pertama bulan Ramadan.
Ada pembiasan-pembiasan baru selama pembelajaran di bulan puasa ini.
"Kalau sebelum pembelajaran, anak muslim memulainya dengan imtaq tadarus bersama, yang non-is (Nasrani) di ruang sendiri untuk doa bersama," katanya.
Peserta didik juga dibiasakan melakukan kegiatan rohani di luar sekolah. Sehingga diwajibkan mengisi Google Form sebagai catatan siswa selama berkegiatan di luar sekolah.
Hal ini juga sebagai salah satu upaya, agar para siswa tidak melakukan kegiatan di luar rumah yang tidak bermanfaat. Maka diberikan tugas dan tanggung jawab.
"Jadi untuk sekolah itu sudah mengirimkan catatan kegiatan selama ramadan dan pekan pertama sudah dikumpulkan ke guru agama, untuk malam anak diminta mengikuti kegiatan di rumah masing masing taraweh, tadarusan, kalau pas ada kegiatan salat fardhu berjamaah diminta untuk membuat catatannya," jelasnya.
Selain itu, upaya ini juga untuk membangkitkan semangat anak didik melakukan kegiatan kerohanian.
Tugas ini implementasi dari mata pelajaran pendidikan agama islam sekaligus menjadi penilaian tambahan.
"Karena kalau tidak terpantau kan semangat anak kurang optimal, kalau dilaporkan secara periodik anak-anak lebih giat untuk mengikuti kegiatan positif. Dikirim lewat format gform, tingkatkan kegiatan spiritual ketaqwaan mumpung ramadan," pesannya. (wia)
Editor : Amin Surachmad