RADAR JOGJA - Berbagai langkah diupayakan Dinas Petanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, untuk menjamin ketersediaan bahan pangan beras di tengah potensi gangguan produksi akibat dampak dari fenomena El Nino. Beberapa bantuan pun diberikan ke petani. Mulai pupuk sampai dengan pestisida.
Musim panen raya mundur, akibat tanam yang terlambat, produksi padi tahun ini pun turut menurun dibanding tahun lalu pada periode Januari-April. Kepala DPKP DIY Hery Sulistio Hermawan mengatakan, upaya menambah cadangan beras yang dilakukan dengan cara mengawal terus para petani untuk memastikan mereka menanam padi pada musim penghujan ini.
Luas tanam masyarakat yang biasanya dimulai September, Oktober mundur sampai November-Desember akibat sebelumnya ada fenomena El Nino musim kemarau berkepanjangan. Akibatnya karena hujan mundur masyarakat tanam mundur otomatis panen raya juga mundur, yang biasa Februari-Maret itu mundur di April-Mei. “ Kami selalu menguatkan ke petani untuk segera lahan sawahnya ditanam padi," katanya, kemarin (17/3).
Hery menjelaskan untuk menekan biaya produksi petani tahun ada bantuan benih, pupuk kimia, pupuk hayati dan juga pestisida bagi petani. Bantuan ini juga untuk mendorong petani bisa menghasilkan lebih banyak produksi padi. Petani juga didorong melakukan tanam benih tak hanya sekali dalam setahun. Bantuannya adalah ketika mereka musim tanam setahun bisa lebih dari satu kali. Kalau menanam tiga kali, bisa dapat bantuan tiga kali. “Kalau dulu setahun sekali, karena ini memamng untuk menghadapi darurat pangan diantisipasi seperti itu," ujarnya.
Berdasarkan kalkulasi perhitungan panen raya April-Mei, pihaknya memastikan stok cadangan beras DIJ cukup. Saat ini pun diklaim masih cukup. Sebab ada mekanisme distribusi dan rantai pasok beras dari beberapa wilayah. Terlebih, daerah sisi barat sudah lebih awal datang musim penghujan. Hasil panennya pun juga sudah masuk ke wilayah Jogja. "Kami selalu mengupayakan masyarakat menanam padi, kalau kurang biasanya dari disperindag atau dari bulog mereka mencoba mendistribusikan dari luar daerah masuk ke sini. Termsuk Bulog mungkin melakukan mekanisme impor," jelasnya.
Selain itu, instansi ini juga berupaya setelah panen petani bisa segera menyiapkan tanam lagi. Masa dari panen ke tanam harus dipercepat. Masyarakat hqrus segera mengolah menyiapkan dan nanti segera bisa tanam lagi," terangnya.
Upaya lain juga akan ada perluasan areal tanam menggunakan pola pompanisasi. Utamanya di potensi lahan tadah hujan sekitar 25 ribu hektare di DIJ ini yang bisa menggunakan pola pompanisasi.
Perluasan areal musim tanam berikutnya itu sudah dikoordinasikan dengan kabupaten maupun kelompok tani. Sehingga, ketika musim kemarau tiba atau musim penghujan sudah habis maka lahan-lahan tadah hujan akan dioptimalkan dengan pompanisasi. “Beberapa waktu lalu bantuan pompa yang kita sampaikan ke masyarakat kita inventarisasi lagi biar bisa disiapkan ketika diperlukan bisa segera dimanfaatkan," tambahnya.
Kepala BPS DIJ Herum Fajarwati memperkirakan ada penurunan produksi padi pada periode Januari-April sebanyak 48,94 ribu ton atau 16,71 persen. Ini akibat adanya masa tanam dan panen raya yang mundur karena dalam fenomena El Nino.
Pada periode Januari-April 2023, produksi padi mencapai 292,98 ribu ton. Sedangkan estimasi untuk periode Januari-April 2024 produksi padi di DIJ sekitar 244,03 ribu ton.
Pada periode Januari-April 2023 luas panen padi mencapai 57,28 ribu hektar. Sedangkan estimasi luas panen padi pada periode Januari-April 2024 sekitar 48,48 ribu hektare. Jumlah itu ada penurunan luas panen padi 15,37 persen. "Penurunan luas panen dan produksi padi juga mempengaruhi estimasi produksi beras di DIJ," katanya. (wia)
Editor : Satria Pradika