RADAR JOGJA - Dinas Kesehatan (Diskes) DIY mencatat sebanyak 53 orang dari dua Kabupaten yakni Gunungkidul dan Sleman suspek antraks sejak awal bulan Maret. Angka ini didapat dari hasil penyelidikan edpidemiologi (PE) tanggal 8-9 Maret, dan satu orang dinyatakan meninggal dunia.
Kepala Diskes DIY Pembajun Setyaningastutie mengatakan, satu orang meninggal dunia belum bisa dinyatakan antraks atau bukan. Sebab, yang bersangkutan meninggal dunia sebelum diambil sampelnya. "Gejala bisa sama, tapi hasil lab-nya belum tentu," katanya ditemui usai Rapat Paripurna Istimewa di Kantor DPRD DIY Rabu (13/3).
Pembajun menjelaskan total 53 suspek antraks didapat berdasarkan hasil PE 8 hingga 9 Maret lalu. Penelusuran dilakukan menyusul dugaan munculnya antraks di wilayah perbatasan Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Kapanewon Prambanan, Sleman dengan Kayoman, Serut, Gedangsari Gunungkidul.
Mantan Dirut RSJ Grhsia itu menyebut, kronologisnya pada 7 Maret Dinkes Gunungkidul menerima informasi via WA, dugaannya kasus antraks, dari Dinkes Sleman. Kemudian ada pasien mondok di RS Prambanan. “Seterusnya Dinkes Gunungkidul koordinasi untuk info lebih lanjut dengan puskesmas Gedangsari 2 dan RSUD Prambanan untuk memastikan,"ujarnya.
Kemudian 8 Maret bersama Satgas one health bersama Dinkes Gunungkidul dan Sleman, puskesmas Gedangsari serta puskesmas Prambanan dilakukan epidemiologi gabungan ke lokasi perbatasan Dusun Kayoman, Serut Gedangsari Gunungkidul dan Kalinongko Gayamharjo Prambanan Sleman.
Pada 12 Februari ada satu orang penduduk punya satu kambing mati dikubur, tiga ekor lainnya disembelih. “Dan dibagikan kepada warga sekitarnya," jelasnya.
Selanjutnya, hari berikutnya ada satu sapi mati malam hari, kemudian dikuliti, dagingnya dibagi. Menurut dia pada 24 Februari, ada orang yang sama kambingnya mati, kemudian disembelih dikuliti di rumah tetangganya, daging dibagi ke warga. “Setelah itu banyak warga sekitar yang mengalami gejala panas muntah," terangnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman Khamidah Yuliati mengatakan, pihaknya sudah melakukan pengambilan sampel terhadap 26 warga Padukuhan Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan. Metodenya berupa 26 pengambilan sampel darah dan satu dari sampel diambil dari kerok kulit.
Namun meski sudah bergejala dan sempat melakukan kontak dengan daging hewan yang sakit. Dia menyebut, kalau ke-26 warga itu belum dapat dikatakan suspek antraks. Lantaran harus dipastikan dahulu hewan yang sakit atau mati mendadak di Padukuhan Kalinongko Kidul, terinfeksi bakteri antraks atau tidak.
“Tapi karena kontak dengan daging penyebab dan dengan gejala yang mendekati, kita pastikan dari hasil binatangnya dulu,” ungkap Yuli.
Dia menerangkan, sebelumnya memang ada sebagian warga Padukuhan Kalinongko Kidul yang memiliki gejala mengarah ke antraks. Bahkan ada beberapa orang di antaranya yang harus mendapatkan perawatan di RS Prambanan. “Sudah lebih tenang atau mendingan, terutama yang dulu bergejala diare, muntah,” ungkapnya. (inu/wia/pra)
Editor : Satria Pradika