RADAR JOGJA - Sebaran daging kambing atau sapi yang diduga terpapar antraks menyebar hingga wilayah Klaten Jawa Tengah. Penanggulangan pun dilakukan lintas wilayah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten Jawa Tengah Widiyanti menyebut, daging yang sempat dibawa ke Klaten merupakan anak dari pemilik ternak yang ada di Kalinongko Kidul, Gayamharjo Prambanan, Sleman.
"Memang ada balungan daging tapi balungan sudah dimasak dimakan oleh keluarga," katanya usai Rapat Koordinasi Penanggulangan Antraks di DIY di Kantor DPKP DIY Rabu sore (13/3).
Widiyanti menjelaskan kemudian pada 12 Maret pihaknya melakukan penguburan pemusnahan daging yang masih ada di frezer kulkas milik keluarga tersebut. Pun daging hingga kulkasnya dilakukan penguburan sesuai SOP.
Selain itu juga dilakukan pengambilan sampel baik swab di kulkas, swab daging serta pengambilan sampel darah si anggota keluarga yang mgkonsumsi daging yang sudah dimasak.
Wilayah Gantiwarno Klaten itu lokasinya berdekatan dengan kasus yang ada di dua lokasi Sleman dan Gunungkidul. Hanya berjarak sekitar 200 meteran dan berbatasan dengan sungai.
"Mbuh guyang ternak atau mencari pakan apapun pokoknya diimbau tidak beraktifitas di sana, minimal satu bulan sejak kasus terakhir," jelasnya.
Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates drh Hendra Wibawa mengatakan, sejauh ini dari sampel ternak, tanah, pakan, yang diambil yang terkonfirmasi positif berada di dua pemilik.
Satu pemilik di Kalinongko Kidul, Gayamharjo Prambanan, Sleman serta satu pemilik lagi di Kayoman, Serut, Gedangsari, Gunungkidul. Dua kabupaten ini hanya berjarak radius tidak lebih dari 200-an meter. Adapun ternak yang terkonfirmasi positif hanya satu yakni sapi milik S warga Kayoman Serut Gedangsari Gunungkidul.
"Kemudian lainnya adalah tanah. Mungkin dulu pernah terjadi (antraks) karena sifatnya antraks dia sporanya bertahan di tanah," bebernya.
Dia tak bisa menganalisa pasti penyebab awal antraks muncul di daerah awal kasus yakni Sleman. Memang karena infeksi bakteri antraks, namun tak mengetahui pasti asal mulanya.
Padahal daerah tersebut dianggap belum ada riwayat sebelumnya. "Biasanya penyebaran itu faktor risikonya mungkin dari rumput yang tercemar spora," ujarnya.
Kepala DPKP DIY Hery Sulistio Hermawan menambahkan, meski tak berstatus kejadian luar biasa (KLB) walaupun melihat cakupan, ternak, hingga suspek sudah bisa dikatakan KLB.
Imbas sapi yang mati mendadak positif antraks di Padukuhan Kayoman, Kalurahan Serut, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul memberlakukan kebijakan lockdown terhadap seluruh hewan ternak di wilayah itu.
Kepala DPKH Gunungkidul Wibawanti Wulandari mengatakan, pihaknya memperketat akses keluar masuk lalu lintas hewan ternak di sejumlah pasar hewan.
Kebijakan itu diberlakukan usai satu sapi yang mati mendadak di Padukuhan Kayoman positif antraks. "Semua hewan ternak yang ada di Padukuhan Kayoman untuk sementara lockdown pascatemuan kasus antraks," ujar Wibawanti.
Apalagi, dua kambing menyusul mati mendadak usai sapi yang positif antraks di kuburkan. Setidaknya, terdapat 89 sapi dan 185 kambing ternak di Padukuhan Kayoman.
"Kami telah memberikan suntikan antibiotik dan vitamin terhadap hewan-hewan ternak di sana (Padukuhan Kayoman), untuk vaksinansi 12 hari setelah pemberian antibiotik," jelasnya.
Tak hanya itu, akses lalu lintas di sejumlah pasar hewan di Gunungkidul juga diperketat. Hewan ternak yang akan masuk di pasar hewan, kata Wibawanti, harus dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) serta disinfeksi baik hewan masuk maupun keluar. "Kebijakan itu menyasar pasar hewan Munggi dan Siyono," sebutnya.
Pihaknya juga akan melakukan upaya koordinasi dengan Pemprov DIY agar menginsentifkan pengawasan lalu lintas hewan ternak di setiap pos perbatasan.
"Karena kami belum memiliki pos lalu lintas untuk proteksi hewan untuk wilayah Kabupaten Gunungkidul," paparnya.(cr6/wia/pra)