Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Seekor Sapi Mati Mendadak Positif Antraks di Gunungkidul, Minimalisasi Wabah Serupa DPKP DIY Bakal Kumpulkan Stakeholder Bahas Penanganan

Winda Atika Ira Puspita • Senin, 11 Maret 2024 | 20:34 WIB

 

Ilustrasi: Hewan ternak sapi dapat menjadi perantara penyebaran wabah antraks. (Dok. JawaPos.com)
Ilustrasi: Hewan ternak sapi dapat menjadi perantara penyebaran wabah antraks. (Dok. JawaPos.com)

JOGJA - Seekor sapi yang mati di Dusun Kayoman, Serut, Gedangsari, Gunungkidul dinyatakan positif antraks.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY telah menerima tembusan hasil sampel darah yang diambil dari Balai Besar Veterinari (BBVet) Wates kepada beberapa ternak yang mati di Gunungkidul.

Kepala DPKP DIY Hery Sulistio Hermawan mengatakan, seekor sapi milik warga berinisial S di Kayoman, Serut, Gedangsari, Gunungkidul, terinfeksi antraks setelah diambil sampel darah oleh Balai Besar Veterinari (BBVet) Wates.

Sebelumnya tiga ekor hewan ternak berupa satu sapi dan dua kambing milik salah seorang warga Dusun Kayoman, Serut, Gedangsari, Gunungkidul, DIY itu mati mendadak diduga karena terpapar antraks.

"Hasil sampel darah di BBVet memang terinfeksi bakteri antraks yang pada tanggal 8 Maret pada sampel seekor sapi limosin milik pak S yang di Kayoman, Serut, Gedangsari," katanya kepada Radar Jogja Senin (11/3).

Hery menjelaskan, asesmen telah dilakukan dengan pengobatan dan pemberian vitamin utamanya terkait dengan daerah zona merah.

Juga sudah melakukan disinfeksi utamanya di daerah yang ternaknya mati dan lain-lain.

Kemudian berkoordinasi intensif dengan BBVet Wates, dan pengambilan sampel darah, sampel pakan, sampel lahan untuk ternak di Gunungkidul dan Sleman.

Sebab, satu warga Kayoman yang suspek antraks satu minggu sebelumnya membawa daging kambing dari Kabupaten Sleman kemudian dikuliti dan dikonsumsi beberapa orang di rumahnya.

"Laporan kemarin yang Gunungkidul udah keluar positif antraks. Yang di Sleman memang datanya belum keluar, kami harus memastikan itu supaya langkah kita jelas," ujarnya.

Instansi ini juga sudah mengirim logistik berupa obat-obatan, alat pelindung duri (APD), disinfektan ke Kabupaten Sleman yang diketahui minim kebutuhan tersebut. 

Berikutnya, pihaknya akan melakukan  pencegahan dan penanganan di lini lapangan terkait penyakit zoonosis penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

Rencananya, semua stakeholder lintas sektor akan dikumpulkan pada Rabu (13/3) untuk mendiskusikan tindak lanjut penanganan antraks tersebut.

Beberapa instansi yang diundang meliputi dari jajaran Pemprov DIY, Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, BBVet Wates, Kementerian Pertanian, jajaran kabupaten/kota, fakultas kedokteran hewan UGM, Dinas Kesehatan DIY.

"Paling tidak kita pengen secara formal memahami progress update status yang terakhir untuk langkah ke depan. Kita tahu statusnya, kemudian tindakan yang perlu kita lakukan hingga menginventarisir kebutuhan," jelasnya.

Pertemuan itu juga untuk mendiskusikan ke depan untuk meminimalisir risiko wabah serupa.

Sebab, Kasus penyebaran antraks pernah merebak di Kabupaten Gunungkidul pada pertengahan 2023 lalu. Tepatnya di Dusun Jati, Candirejo, Semanu.

Kala itu ada 12 ekor ternak mati karena antraks dalam rentang bulan April-Juli.

Pemerintah kabupaten setempat saat itu menyebut ada 87 warga positif terpapar berdasarkan tes serologi dan satu pasien meninggal usai terjangkit antraks. Hingga ditetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks.

"Kamisnya memang kita koordinasi untuk mengkaji penyakit menular strategis utamanya antraks, PMK, sama lato-lato bagaimana upaya ke depan agar ini bisa tertangani dengan baik. Memang ini maraton mengupayakan antisipasi perilaku masyarakat kita, untuk merespon utamanya mencegah, menangani agar tidak terulang," tambahnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#Gunungkidul #DPKP DIY #antraks