JOGJA - Sebagai momentum peringatan Hari Jadi DIY, Pemprov DIY melakukan ziarah dan tabur bunga di makam-makam para raja, adipati, serta leluhur yang telah berjasa untuk DIY. Ada tiga lokasi ziarah yang disasar.
Sekprov DIY Beny Suharsono mengatakan, perjuangan belum selesai terutama untuk meneruskan membangun DIY agar memberikan dampak yang luas kepada masyarakat.
Semangat perjuangan dan keberanian melawan penjajah yang ditunjukkan para raja dan adipati pendiri Mataram, Keraton Yogyakarta, dan Kadipaten Pakualaman merupakan cikal bakal pemerintahan DIY melalui peringatan Hari Jadi DIY setiap 13 Maret harus diteladani dan wariskan kepada anak dan cucu.
"Kegiatan ziarah yang dilakukan di tiga astana ini merupakan salah satu rangkaian acara peringatan Hari Jadi DIY ke-269, sebagai upaya kita untuk mengenang semangat dari leluhur kita, yang gigih berjuang menentang kolonialisme," katanya di Bangsal Pengapit Astana Kuthagede.
Beny menjelaskan, ziarah ini dimaksudkan untuk menguatkan kebanggaan, rasa memiliki atau handarbeni, loyalitas, identitas kewilayahan, dan kecintaan terhadap pendiri Mataram, Keraton Yogyakarta, dan Kadipaten Pakualaman yang merupakan cikal bakal pemerintahan di DIY.
Berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan sebuah perjuangan panjang Pangeran Mangkubumi melawan penindasan dan kekuasaan VOC, serta menentang adanya campur tangan VOC Belanda terhadap Mataram.
Di saat Kerajaan Mataram Islam melemah karena pengaruh VOC, Pangeran Mangkubumi tampil menjadi sosok yang memperjuangkan kedaulatan Mataram melawan penindasan VOC.
Perlawanan bersenjata tersebut berlangsung selama 9 tahun, hingga terjadinya Perjanjian Giyanti, yang kemudian disusul dengan peristiwa Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat.
Peristiwa tersebut terjadi pada hari Kamis Pon, tanggal 29 Jumadilawal tahun Be 1680, bertepatan dengan 13 Maret 1755.
"Lalu Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I memproklamirkan Hadeging Nagari Dalem Kasultanan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat (separo Nagari Mataram). Peristiwa tersebut yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi DIY," ujarnya.
Dalam perjalanan sejarahnya, Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman menghadapi berbagai tantangan.
Terutama, dalam menghadapi penjajahan bangsa asing yang berupaya menguasai kembali Republik Indonesia, yang saat itu baru berdiri.
Di awal kemerdekaan Republik Indonesia, Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah kepemimpinan Sri Sultan HB IX dan Kadipaten Pakualaman di bawah Sri Paku Alam VIII memberikan sumbangsih yang besar, dalam memberi dukungan bagi kemerdekaan.
Keduanya menyatakan bergabung ke dalam Republik Indonesia serta mempertahankan eksistensi Republik yang saat itu masih berusia sangat muda.
"Semangat perlawanan atas penindasan dan kolonialisme yang ditunjukkan oleh raja dan adipati tersebut atau loro-lorone atunggal merupakan warisan Sultan Agung, Semangat perjuangan dan keberanian dalam melawan penjajah, mengalir dalam darah kedua pemimpin, yang merupakan keturunan dari Raja Mataram tersebut," jelasnya.
Lebih lanjut, Beny menambahkan peristiwa proklamasi Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat ini dipandang bisa memberikan inspirasi bagi generasi muda.
Sementara bagi Pemprov DIY bisa melakukan reposisi untuk meningkatkan pelayanan yang lebih kekinian kepada publik sehingga berdampak kepada masyarakat.
Selain ziarah, kegiatan lain akan dilakukan mensinergikan dengan kegiatan yang sudah ada. Jadi ini bukan kegiatan baru tetapi kegiatan yang sudah direncanakan yang dirangkum memperingati Hari Jadi DIY.
"Kita juga meluruskan penggunaan pakaian adat Jawa gaya Yogyakarta dari Kamis Pahing menjadi Kamis Pon karena kita belajar dari sejarah," tambahnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad