RADAR JOGJA - Belalang di Gunungkidul telah bertahun-tahun menjadi komoditas yang tidak saja memenuhi kebutuhan pangan, namun juga memenuhi kebutuhan ekonomi. Menyoroti fenomena ini, pakar serangga yang juga kepala Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM Hari Purwanto mengatakan, meski banyak dilakukan pemburuan dan pengolahan, populasi belalang di Gunungkidul diyakini tidak akan punah.
"Jumlahnya naik turun itu wajar. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti cuaca dan kelembaban daerah. Tapi kalau punah, saya yakin itu tidak akan," katanya kepada Radar Jogja (24/2).
Keyakinan itu datang dari pengamatan serta pemetaan Hari terhadap pola hidup dan perkembangbiakan belalang itu. Ia menuturkan meski jumlahnya banyak, belalang itu tidak bisa diasosiasikan sebagai hama langsung yang merusak tanaman layaknya hama wereng.
"Jenisnya belalang kayu. Meski jumlahnya banyak, itu bukan hama yang merugikan seperti merusak padi atau tanaman budi daya. Walaupun makannya tetap daun," tambahnya.
Selain itu yang membuat Hari juga yakin populasi belalang di Gunungkidul akan selalu terjaga adalah kontur wilayah dan tanah yang memang mendukung untuk proses pertumbuhan serta perkembangbiakan. "Belalang itu akan selalu ada. Kecuali hutan atau daerah sana diratakan dan dibangun gedung, itu mungkin bisa punah belalangnya," ujarnya.
Sementara jika menilik dari sisi kelayakan sebagai sebuah makanan, Hari memaparkan belalang kayu di Gunungkidul itu memang termasuk layak karena memiliki beberapa kandungan. Salah satunya protein.
"Memang bisa dan layak dimakan. Kalau ada yang alergi, itu hal wajar. Seperti pada makanan lainnya, pasti ada saja yang alergi makanan tertentu," terangnya.
Spesifik di Gunungkidul sendiri, Hari memetakan ada beberapa jenis belalang yang memang hidup dan berkembang di sana. Banyaknya populasi dan jenis belalang tersebut tidak selalu dibarengi dengan pemahaman masyarakat terkait jenis-jenisnya.
Hari pernah meneliti sekaligus menjadi narasumber ketika ada kasus sebuah belalang di Gunungkidul bernama belalang setan yang dikonsumsi oleh warga dan akhirnya menyebabkan kematian. Ia merasa ironi dan cukup menyesalkan kejadian itu.
Dikatakan, secara pemahaman harusnya warga Gunungkidul bisa dan tahu untuk membedakan jenis-jenis dan kategori belalang apa saja yang layak dan bisa dikonsumsi.
"Jenis dan populasinya beragam, tapi pemahaman masyarakat itu masih minim. Ini harus jadi perhatian dan disosialisasikan terus menerus," pesannya.
Ke depan ia menilai belalang kayu di Gunungkidul masih jadi entitas pangan yang diminati banyak orang. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terus dikembangkan sebagai olahan pangan, baik dari segi rasa atau jenis makanan.
"Sepengatahuan saya di Indonesia yang paling terkenal soal belalang ya Gunungkidul. Jadi ke depan ini masih potensial," tandas Hari. (iza/laz)