Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ironi Perdagangan Beras di DIY, Seleranya Beras Delanggu, Beras Lokal Dijual ke Luar Daerah

Heru Pratomo • Kamis, 29 Februari 2024 | 15:05 WIB

 

GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

RADAR JOGJA - Meski wilayah DIY mampu memproduksi beras secara mandiri, namun masih harus mendatangkan beras dari luar daerah. Hal ini karena beras dari luar daerah Delanggu Klaten Jawa Tengah lebih disukai masyarakat. 

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setprov DIY Tri Saktiyana mengatakan, warga Jogja menyukai komoditas beras hasil pertanian dari daerah timur seperti Delanggu Klaten Jawa Tengah. Sehingga Pemprov DIY melakukan kerjasama antardaerah dengan melakukan perdagangan antardaerah untuk mendatangkan komoditas pokok itu. “Yang namanya beras tidak punya KTP dan selera orang makan tidak bisa diberikan intruksi, kamu harus makan (beras) ini enggak bisa," katanya ditemui di Ruang Kerjanya Kompleks Kepatihan Rabu (28/2). 

Padahal di saat bersamaan DIY mampu memproduksi beras sendiri. Tapi malah dijual ke luar daerah. Bahkan sudah ada pasarnya sendiri di luar daerah. Sehingga justru banyak terserap ke luar daerah. Menurutnya, fenomena itu bukan diartikan warga Jogjakarta tidak mampu membeli beras hasil produksi lokal. Hanya, tingkat selera masyarakat yang berbeda. "Seleranya ingin dari Delanggu, bukan karena tidak mampu membeli beras DIY. Untuk selera berasnya beda," jelasnya. 


Pemprov DIY, kata dia, tidak bisa mengintruksikan masyarakat untuk mengkonsumsi beras tertentu, termasuk buatan lokal sendiri. Sebab, selera makan warga berbeda-beda.  "Kami inginnya bisa makan beras sendiri tapi kalau seleranya berbeda kendalinya sulit. Jadi muter,” kata mantan Kepala Bappeda Bantul itu.

Terkait harga beras saat ini, mantan Penjabat Bupati Kulon Progo itu menyebut, aada dua faktor penyebab dasar harga beras tinggi. Karena situasi keamanan global akhir 2023 awal 2024. Yaitu perang masih berlangsung di Ukraina, Palestina, sehingga pun kapal-kapal pengangkut bahan pangan tidak lancar seperti gandum, beras, maupun energi. 

Faktor kedua iklim global. Yakni fenomena iklim El Nino dan siklon tropis anggrek yang berlangsung sampai saat ini. Hal ini berimbas pada hasil pertanian yang tidak maksimal. Hampir sulit, kata dia, dipastikan terkait cuaca dan iklim tersebut, dan menyebabkan kemudian panennya juga bergeser waktunya, berkurang kualitas dan kuantitasnya. "Itu tidak mudah pagi petani, bahkan di Gunungkidul dua bulan yang lalu sudah semangat ngawu-awu menanam benih ternyata hujannya nggak berlanjut," terangnya. 

Pun kenaikan harga beras juga ditentukan oleh harga gabah baik gabah kering giling maupun gabah kering pungut yang tinggi dari petani. Sedangkan untuk kenaikan dari gabah ke beras ini relatif sama dengan sebelum kejadian ini.  "Dari angka yang didapat oleh BPS yang kemarin, sementara ini yang menikmati lebih ke petani karena kenaikan harga gabah kering giling dan kering pungut. Prosentase naiknya luar biasa," tambahnya. 

Berdasarkan hasil koordinasi dengan Bulog Jogjakarta, ketersediaan beras saat ini mencapai 15 ribu ton. Dan segera masuk sebanyak lebih dari tujuh ribu ton. Jumlah ini diklaim aman hingga lebaran Idul Fitri nanti. Upaya operasi pasar pun akan dilakukan di beberapa titik di DIY untuk stabilisasi harga beras. 

Sementara Ketua Komisi B DPRD DIY Andriani Wulandari menambahkan, sejatinya beras DIY surplus. Prognosa antara produksi dengan konsumsi, lebih banyak produksinya. Sehingga beras Jogja yang keluar kualitasnya relatif baik, maka harga jualnya relatif tinggi. 


"Nah sementara di masyarakat itu daya belinya tidak sama, maka masyarakat banyak mendatangkan beras yg lebih murah misalnya beras Delanggu, dari daerah Klaten," katanya. 

Dia menyebut hal tersebut bukan masalah selera atau tidak selera melainkan lebih kepada daya beli dan preferensi atau pilihan tertentu. Ada yang senang beras pulen, ada yang senang beras lepas dan sebagainya. “Sementara beras-beras organik seperti di resto yang mendukung sektor pariwisata banyak didatangkan dari Magelang dan Muntilan," ujarnya. 

Sehingga dalam sektor pangan, sudah hal wajar terjadi pertukaran komoditas antardaerah. "Seperti cabai Jogja itu bagus maka banyak yang lati ke Jakarta, akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan Jogja malah ambil dari Magelang dan sekitarnya," imbuhnya. (wia/pra)

Editor : Satria Pradika
#Perdagangan Beras DIY #Pemprov DIY #beras delanggu #iklim el nino #DIY