JOGJA - Meski wilayah DIY mampu memproduksi beras secara mandiri, ternyata masih harus mendatangkan beras dari luar daerah.
Hal ini karena beras dari luar daerah Delanggu Klaten, Jawa Tengah, lebih disukai masyarakat.
Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Tri Saktiyana mengatakan, Pemprov DIY tidak bisa mengintruksikan masyarakat untuk mengkonsumsi beras tertentu.
Termasuk, beras buatan lokal DiY. Sebab, selera makan warga DIY ini berbeda-beda.
"Itu kami tidak bisa mengintruksikan, kita inginnya bisa makan beras sendiri tapi kalau seleranya berbeda kendalinya sulit. Jadi muter, yang namanya beras tidak punya KTP dan selera orang makan tidak bisa diberikan intruksi, kamu harus makan (beras) ini nggak bisa," katanya ditemui di Ruang Kerjanya Kompleks Kepatihan Rabu (28/2).
Tri menjelaskan warga Jogja menyukai komoditas beras hasil pertanian dari daerah timur seperti Delanggu Klaten Jawa Tengah.
Pemprov DIY melakukan kerjasama antardaerah dengan melakukan perdagangan antardaerah untuk mendatangkan komoditas pokok itu.
"Jadi kita membuka seluas luasnya perdagangan daerah untuk pangan termasuk telur. Kita telur dapat dari Blitar, kemarin Sleman kerjasama MOU dengan Blitar, jadi berputar gitu," ujarnya.
Menurutnya, fenomena itu bukan diartikan warga Jogja tidak mampu membeli beras hasil produksi lokal. Hanya, tingkat selera masyarakat yang berbeda.
"Seleranya ingin dari Delanggu, bukan karena tidak mampu membeli beras DIY. Untuk selera berasnya tinggi memang," jelasnya.
Pun Tri menjelaskan ada dua faktor penyebab dasar harga beras tinggi karena situasi keamanan global akhir 2023 awal 2024.
Di mana perang masih berlangsung di Ukraina, Palestina, sehingga pun kapal-kapal pengangkut bahan pangan tidak lancar seperti gandum, beras, maupun energi.
Faktor kedua iklim global yakni fenomena iklim Elnino dan siklon tropis anggrek yang berlangsung sampai saat ini.
Hal ini berimbas pada hasil pertanian yang tidak maksimal.
Tri menyebut hampir sulit dipastikan terkait cuaca dan iklim tersebut, dan menyebabkan kemudian panennya juga bergeser waktunya, berkurang kualitas dan kuantitasnya.
"Itu tidak mudah pagi petani, bahkan di Gunungkidul dua bulan yang lalu sudah semangat ngawu-awu menanam benih ternyata hujannya nggak berlanjut. Ini yang menyebabkan kemudian harga beras naik," terangnya.
Pun kenaikan harga beras juga ditentukan oleh harga gabah baik gabah kering giling maupun gabah kering pungut yang tinggi dari petani.
Sedangkan untuk kenaikan dari gabah ke beras ini relatif sama dengan sebelum kejadian ini.
"Dari angka yang didapat oleh BPS yang kemarin, sementara ini yang menikmati lebih ke petani karena kenaikan harga gabah kering giling dan kering pungut. Prosentase naiknya luar biasa," tambahnya.
Berdasarkan hasil koordinasi dengan Bulog Jogjakarta, ketersediaan beras saat ini mencapai 15 ribu ton. Segera masuk sebanyak lebih dari 7 ribu ton.
Jumlah ini diklaim aman hingga lebaran Idul Fitri nanti. Upaya operasi pasar pun akan dilakukan di beberapa titik di DIY untuk stabilisasi harga beras.
"Tapi, yang jelas perdagangan antardaerah kita buka selebar-lebarnya karena kita lebih banyak memerlukan bahan pangan dari luar walaupun padi kita melimpah, kita kirim ke luar dulu. Nanti dari luar masuk, kita dorong adalah daya sanding daya kerjasama antardaerah ini masalah kita bersama," imbuhnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad