Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Daya Beli Tinggi, Okupansi Hotel Sampai 90 Persen, Long Weekend Imlek dan Isra Mikraj Berdampak Positif bagi Pariwisata

Agung Dwi Prakoso • Senin, 12 Februari 2024 | 04:18 WIB

 

 

ISTIMEWA  OBJEK WISATA FAVORIT: Wisatawan menikmati suasana Tebing Breksi saat long weekend bersamaan dengan Tahun Baru Imlek dan Isra Mikraj.
ISTIMEWA OBJEK WISATA FAVORIT: Wisatawan menikmati suasana Tebing Breksi saat long weekend bersamaan dengan Tahun Baru Imlek dan Isra Mikraj.
 

 

JOGJA - Long weekend momen libur Tahun Baru Imlek dan Isra Mikraj memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap industri pawisata di Jogjakarta. Data dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ)menunjukkan, terjadi kenaikan okupansi hotel dan sektor penjualan yang signifikan. "Paling tinggi ada di 9 Februari," ujar Ketua PHRI DIJ  Deddy Pranowo Waryono, kemarin (11/2).

Kenaikan okupansi hotel tersebut diambil dali seluruh hotel dan penginapan di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Lebih spesifiknya lokasi hotel dan penginapan tersebut berada di wilayah tengah dan sebagian utara. "Periode kenaikanya pada 8-10 Februari. Rata rata sampai 75 persen. “Di tengah dan sebagian Utara ada yang sampai 90 persen," tuturnya.

Wisatawan yang terdata berasal dari dalam kota hingga luar kota Jogja. Kebanyakan berasal dari wilayah Jawa Tengah. "Kebanyakan wisatawan keluarga, ada dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, yang terbanyak Jawa Tengah," jelasnya.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIJ Bobby Ardiyanto menambahkan dampak dari long weekend Imlek dan Isra Mikraj sangat positif bagi industri pariwisata di DIJ. Selain menaikan okupansi hotel, daya beli wisatawan juga meningkat. Daya beli bagus. Rata-rata penyedia jasa akomodasi memasang rate di high season. “Basanya Januari-Maret adalah low season tapi karena ada momen liburan ini menjadi berdampak positif," ujarnya.

Sektor yang paling laris adalah jasa akomodasi karena dinilai merupakan aspek penting wisatawan. Selain itu, kuliner juga terdongkrak tinggi pendapatanya. "Destinasi dan transportasi juga ikut naik, walaupun tidak setinggi akomodasi karena banyak wisatawan menggunakan kendaraan pribadi," tandasnya.

Tingginya daya beli wisatawan juga dipengaruhi oleh banyaknya potongan harga yang diberikan oleh bisnis retail di DIJ. Trend potongan harga tersebut memang sudah biasa dilakukan setiap tahun pada sast momen Imlek. "Diskon itu cukup membantu bagi wisatawan, karena wisatawan luar harus pinter membagi uang untuk akomodasi, makan, dan lainya," jelasnya. (oso/din)

 

 

 

 

Editor : Din Miftahudin
#wisata jogja #perhotelan di DIJ