RADAR JOGJA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Halaqah Nasional bertajuk Strategi Peradaban NU, di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Bantul, kemarin (29/1). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Lahir (Harlah) ke-101 NU.
Koordinator Halaqah Nasional Strategi Peradaban NU Nur Hidayat mengatakan, halaqah ini merupakan upaya lanjutan dari halaqah fiqih peradaban yang telah dilaksanakan di lebih dari 400 titik selama dua tahun terakhir. Strategi peradaban menjadi pembahasan dalam upaya mewujudkan peradaban yang dicita-citakan dan diperjuangkan NU.
"Kalau tema-tema sebelumnya terfokus pada substansi, maka fokus halaqah kali ini untuk merumuskan strategi agar substansi yang telah dirumuskan sebelumnya bisa diterjemahkan dalam tataran kenyataan," katanya kemarin (29/1).
Pesantren Al-Munawwir Krapyak dipilih sebagai lokasi Halaqah Nasional Strategi Peradaban NU karena memiliki jejak penting dalam sejarah NU. Di antaranya, Pesantren Krapyak pernah menjadi lokasi penyelenggaraan Muktamar Ke-28 NU pada 1989. Kemudian di pondok pesantren ini pula KH Achmad Siddiq dan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur kembali terpilih sebagai rais ‘aam dan ketua umum PBNU untuk kali kedua.
Halaqah diikuti oleh seluruh Pengurus Pleno PBNU. Termasuk pimpinan lembaga, badan otonom, dan badan khusus PBNU. Hadir pula Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) se-Indonesia, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di wilayah PWNU DIJ dan Jateng. Juga Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) DIJ. Selain itu, hadir para ulama dan pengasuh pondok pesantren di Jogjakarta dan Jateng. Serta para akademisi dari berbagai perguruan tinggi di DIJ.
Kegiatan ini dipandu oleh anggota Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU Ismail Fajrie Alatas dengan menghadirkan empat narasumber. Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menjadi pembicara kunci dan membawakan materi mengenai strategi peradaban NU. Kemudian Wakil Rais ‘Aam PBNU Afifuddin Muhajir membawakan materi tentang strategi peradaban dan perspektif fikih.
Sementara COO Center for Shared Civilizational Values, North Carolina, USA Muhammad Cholil menyampaikan materi pengaruh internasional terhadap strategi peradaban NU. Sedangkan Robert W Hefner dari Boston University mempresentasikan pandangannya soal persepsi masyarakat global terhadap NU.
Dalam momen pembukaan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2024, Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar meminta agar bertabayun atau teliti terhadap seluruh permaslahaan yang ada. "Jangan kita tinggalkan yang namanya At-Tabayyun atau klarifikasi manakala mendengar apa pun," katanya.
Kiai Miftachul Akhyar memandang, hal itu menjadi sebuah amanah yang ditanggung oleh seluruh manusia, terutama seluruh nahdliyin terkhusus pengurus NU secara keseluruhan. "Manakala PBNU melakukan (perbuatan) sesuatu (maka) datang dan tanyakan. (Jangan) belum datang sudah pengumuman," jelasnya.
Menurut Kiai Miftachul Akhyar, At-Tabayun itu merupakan senjata untuk menaklukkan musuh-musuh yang ada. Sehingga jika tidak bertabayun maka akan kalah sebelum berperang. "Sami'na wa atho'na, di situlah Allah memberikan anugerah (yaitu) perilaku ulama dulu, bahkan para nabi juga mengucapkan sami'na wa atho'na (kami mendengar dan menaati)," jelasnya.
Sementara itu, Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus dalam kesempatan ini juga menegaskan bahwa tugas Nahdlatul Ulama adalah memperbaiki kerja dan berupaya memenangkan Indonesia. "Urusannya NU itu memperbaiki kinerja memenangkan Indonesia, bukan memenangkan capres," katanya.
Gus Mus mengaku ketar-ketir Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf berbicara pemilihan presiden (pilpres) dalam pidatonya. Namun, kekhawatirannya itu tidak terjadi.
"Saya ini sudah ketir-ketir. Ketika ketua umum pidato, rais aam pidato, jangan-jangan nyinggung pilpres. Begitu nyebut pilpres, saya keluar. Itu bukan urusannya NU," ucap Gus Mus disambut tawa hadirin. (tyo/laz)
Editor : Satria Pradika