RADAR JOGJA - Salah satu toko roti dan kue yang kondang di Jogja yakni Bakery & Shop Djoen Lama. Toko ini terletak di utara gapura Kampung Ketandan.
Toko spesialis roti dan kue ini sudah eksis sejak 1935.
Tak sulit menemukan toko ini. Papan nama besar berwarna hijau bertuliskan Bakery and Shop Djoen Lama.
Berdasarkan arsip Radar Jogja, mengunjungi lokasi Djoen Lama seakan diajak melihat Jogja tempo dulu. Bangunan masih bercirikan arsitektur lawas.
Baca Juga: Viral Konsumsi Pelantikan KPPS Tidak Layak dan Seperti Snack Lelayu, Begini Penjelasan KPU Sleman!
Langit-langit berjarak cukup tinggi dari lantai. Rak-rak lawas berjajar di sisi kanan dan kiri.
"Tidak tahu pastinya kapan (berdirinya) tidak sempat tanya, tapi sekitar 1930-an. Lalu saya jadi mantu tahun 1959. Itu sudah jualan roti," jelas sang pemilik Djoen Lama, Hadinah, ditemui di tokonya, saat Radar Jogja berkunjung sekitar tiga tahun lalu.
Dia adalah penerus utama Roti Djoen. Warisan ini tetap dipertahankan bersama salah seorang anak perempuannya yakni Widowati.
Beragam jenis kue dan roti yang sejak awal diproduksi tetap bertahan hingga saat ini. Sebut saja roti tawar, roti sobek aneka rasa, roti sus beraneka rasa, hingga bagelen.
Baca Juga: Viral Snack Sripah saat Pelantikan KPPS di Wilayah Kabupaten Sleman
Pelanggannya tak hanya dari Jogja. Ada pula pembeli asal Magelang, Solo, bahkan Jakarta.
"Dulu banyak yang dari luar kota, sekarang tidak. Sekarang paling cuma dari Jakarta, Magelang, dan Solo. Biasanya beli roti kering untuk oleh-oleh," katanya.
Bertahan dengan ciri tentu bukan tanpa konsekuensi. Satu persatu pelanggannya terus berkurang. Ada beragam penyebabnya.
Baca Juga: Begini Satpol PP Kota Jogja Menangani Fenomena Gelandangan dan Pengemis, Termasuk Manusia Silver
Namun, tak bisa dipungkiri berputarnya jaman turut menggerus selera pecinta kuliner roti.
"Pelanggan lama ada yang datang tapi yang tua-tua sudah engga kelihatan. Yang muda ini tidak tahu siapa, mungkin sudah anak sama cucunya," ujar generasi kedua Djoen Lama ini.
Hadinah memilih untuk tetap bertahan dengan tetap mempertahankan resep asli Djoen Lama. Baginya Djoen Lama bukan sekadar bisnis roti semata. Dimatanya ada sebuah semangat dalam setiap roti racikan rotinya.
Baca Juga: Jejak Sejarah UGM Cabang Magelang, Dibangun Tahun 1962, Begini Kondisinya Sekarang
Begitupula harga setiap roti yang tak banyak berubah. Salah satunya adalah roti tawar.
Dulu untuk roti tawar ukuran besar seharga Rp 7 ribu kini menjadi Rp 15 ribu. Bahkan, harga terakhir ini sudah bertahan selama 10 tahun.
"(Resep) Masih sama, terus rotinya yang kuno gitu. Tapi harus dipertahankan. Anak sempat bilang tutup saja, tapi saya masih belum mau. Inginnya lanjut terus, nerusin nama Djoen ini," ujarnya.
Perempuan ini pun menceritakan sejarah Djoen Lama. Usut punya usut, nama ini ternyata bukanlah warisan keluarga.
Baca Juga: Gelombang Tinggi di Laut Selatan, Produksi Ikan Tangkap di Bantul Menurun
Sosok di balik nama ini adalah Tan Po Djoen. Dia adalah pemilik pertama bangunan yang kini menjadi toko dan dapur Djoen Lama.
Selang waktu berganti, mertua Hadinah akhirnya membeli bangunan tersebut. Tak sekadar itu, transaksi ini juga meliputi beragam peralatan pembuat roti.
Lalu, disepakatilah penamaan unit usaha tetap mengusung nama Djoen.
"Iya itu dulu yang punya rumah ini sebelum dibeli mertua sak oven pembuat rotinya. Dia orang Temanggung. Dulunya juga pembuat roti," ceritanya.
Generasi kedua penerus Djoen Lama ini lalu bercerita masa kejayaan, tepatnya era Presiden Soeharto.
Kala itu dia memiliki pegawai cukup banyak. Hampir setiap hari produksi roti dalam jumlah banyak. Tak hanya untuk kebutuhan toko, tapi juga diedarkan hingga pedesaan.
Sayangnya semua itu kini tinggal kenangan manis. Satu persatu pegawainya mulai berkurang hingga tersisa tiga orang.
Imbasnya produksi roti juga tak bisa maksimal. Disamping memang berkurangnya jumlah pelanggan setia.
Tentang berhentinya penjualan roti keliling ada alasan tersendiri. Ternyata Hadinah kerap merugi karena banyak pedagang yang menunggak pembayaran. Adapula yang pindah tanpa memberi kabar.
"Soalnya banyak yang enggak bayar. Jadi sistemnya ambil dulu bayarnya nanti. Tapi ternyata malah itu, tidak dibayar. Jadi sekarang enggak keliling lagi sejak tahun 2000," kenangnya.
Radar Jogja sempat melihat dapur pembuatan roti. Cara mengolah masih tergolong tradisional. Beragam alat tua terlihat di beberapa sudut ruangan.
Salah satunya adalah oven batu yang terletak di belakang rumah.
Kini diusianya yang tak lagi muda, Hadinah berharap ada penerus dari bisnisnya. Berharap warisan Djoen Lama tetap bertahan hingga masa kedepannya. Walau dia juga menyadari dunia persaingan kuliner roti semakin ketat.
"Akan diturunkan ke anak, tapi belum tahu juga. Katanya mau dikembangkan, tapi ingin saya resep kuno tetap dijaga," katanya.
Sang penerus Widowati mengaku ingin meneruskan warisan ibunya. Hanya saja dia sedang mencari konsep yang tepat.
Baca Juga: Catat, Khasiat Tersembunyi Cuka Apel Yang Jarang Diketahui, Yuk Simak
Salah satunya mengubah wajah Djoen Lama layaknya sebuah kafe.
Cara ini untuk masuk pangsa pasar yang baru. Diakui olehnya tren pecinta kuliner roti terus berubah.
Apabila tak mampu mengikuti, maka berimbas pada eksistensi Djoen Lama.
"Penginnya seperti kafe itu ada mejanya. Pelanggan tentu terus berganti. Ini sekarang saja yang datang sudah suruhan, entah anak, cucu atau apanya pelanggan lama," katanya.
Teknik tradisional juga menjadi ciri khas dari toko roti ini. Namun inipula yang menjadi kendala dalam produksi harian.
Baca Juga: Ingin Detoks Pencernaan Tanpa Obat ? Terapkan Enam Cara Ini
Untuk satu kali pemanggangan harus dalam jumlah banyak. Padahal tidak semua roti harus diproduksi dalam jumlah banyak.
"Sehari produksi untuk roti tawar besar sampai 16, kalau kecil 7, tawar wijen 3. Itu saja tidak mesti habis. Ovennya masih konvesional tidak bisa bikin sedikit. Kalau bikin sedikit malah gosong rotinya," ujarnya.