JOGJA - Dalam adat tradisi budaya masyarakat Jawa ketika acara atau resepsi pernikahan, penggunaan janur sangat identik dan tidak dapat dipisahkan. Baik janur yang digunakan pada mantenan ataupun untuk kembar mayang dan lain sebagainya.
Itu sudah kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun dari dahulu hingga sekarang. Layaknya warisan nenek moyang yang terus dilestarikan menembus berbagai lintasan zaman.
Penggunaan janur dalam pernikahan adat Jawa masih tetap eksis hingga abad ini.
Pengamat budaya Jawa Prof Dr Suwarna Dwijonagoro MPd membeberkan, penggunaan janur manten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam resepsi pernikahan sampai sekarang masih bertahan.
Diungkapkan, menurut sejarah memang DIY adalah trah Mataram.
Menurutnya, dilihat dari sejarahnya, penggunaan janur ini dimulai ketika Ki Ageng Tarub menikahkan putranya atau mantu di Dusun Tarub.
Ki Ageng Tarub adalah putra dari Syekh Maulana Maghribi, yang merupakan sahabat dari Kanjeng Sunan Kalijaga.
Oleh karena itu, ketika mantu, meminta Sunan Kalijaga membuatkan tarub.
"Nah, tarub itu antara lain menggunakan janur. Janur adalah daun kelapa yang masih muda berwarna kuning. Itu sampai sekarang," bebernya, Jumat (19/1).
Dia mengungkapkan, keberadaan tarub sekitar tahun 1365. Tapi, sampai sekarang masih ada.
Artinya, janur tetap eksis selama kurang lebih 600 tahun.
Suwarna menuturkan, tarub memiliki makna simbolik kearifan lokal sehingga sampai sekarang masih dipelihara dan dilaksanakan di upacara pengantin.
Menurutnya, itu terjadi karena sejak Ki Ageng Tarub diteruskan secara turun-temurun hingga ke masa Kerajaan Mataram Islam yang menjadi cikal bakal Keraton Jogja.
"Bahkan, sekarang di tempat-tempat resepsi pernikahan yang berada di gedung di hotel, restoran, auditorium, atau balai desa menggunakan janur sebagai salah satu unsur dekorasi dan properti," imbuhnya.
Dia menambahkan, orang Jawa penuh dengan simbol. Oleh karena itu, semua cita-cita orang Jawa dilambangkan dalam bentuk barang ketika belum ada tradisi tulis seperti sekarang ini.
Simbolisme kebudayaan atau semantik kultural satu di antaranya terletak pada janur. Semantik kultural maksudnya makna semantik yang bermuatan budaya.
Suwarna menuturkan, dilihat dari asal katanya yakni "jan" berarti sesungguhnya atau sejatinya.
Sedangkan nur itu artinya adalah cahaya. "Cahaya yang sejati itu cahaya yang muncul dari Allah SWT atau dari Tuhan. Artinya, pencerahan yang sesungguhnya yang hakiki itu adalah dari Tuhan yang maha kuasa," tuturnya.
Sedangkan dari segi bentuk visual, janur yang warnanya kuning melambangkan kejayaaan atau kemenangan.
Menurutnya, itulah sebabnya ketika Serangan Umum 1 Maret di Jogja, Letkol Soeharto dan para tentara mengenakan kalung janur kuning.
Suwarna mengakui, pergeseran penggunaan janur pada manten sekarang memang terjadi. Tapi, tidak begitu frontal dan revolutif.
Dia mencontohkan, dahulu janur digunakan untuk dekorasi di pelaminan, pajegan, dan ornamen-ornamen.
Tetapi, sekarang dekorasi sudah berkembang menjadi lebih modern.
Dekorasi modern lebih didominasi oleh bunga-bunga.
Tetapi, fungsi janur masih tetap ada seperti untuk kembar mayang dan pasang bleketepe di rumah.
"Pergeseran-pergeseran itu karena adanya pengaruh perkembangan format bentuk upacara pengantin," tuturnya.
Penggunaan janur yang berkurang sekarang bisa terjadi karena adanya model pernikahan nasional ataupun internasional.
"Kalau dekorasinya Jawa, janur tetap berperan walaupun tidak maksimal. Tetapi, kalau dekorasinya modern nasional atau internasional, tentu hampir tidak akan menggunakan janur," ungkapnya. (rul)