Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Resmi! Muhammadiyah Tetapkan Puasa Pertama pada 11 Maret 2024

Fahmi Fahriza • Minggu, 21 Januari 2024 | 02:37 WIB
HAKIKI: Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir bersama pimpinan Muhammadiyah di kantor PP Muhammadiyah Jogja Sabtu (20/1).
HAKIKI: Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir bersama pimpinan Muhammadiyah di kantor PP Muhammadiyah Jogja Sabtu (20/1).
JOGJA -  Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara resmi telah menetapkan bahwa awal Ramadhan 1445 Hijriah yang ditandai dengan puasa pertama akan dilakukan pada tanggal 11 Maret 2024 mendatang.
 
Sekretaris PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti mengatakan, penetapan yang dilakukan tersebut diperoleh melalui hasil hisab hakiki wujudul hilal yang turut serta dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
 
"Dari hasil tersebut maka Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1445 jatuh pada hari Senin 11 Maret 2024," katanya dalam sesi konferensi pers di kantor PP Muhammadiyah Jl Cik Di Tiro Jogja Sabtu (20/1).
 
 
Dengan penetapan tersebut, selanjutnya Idul Fitri 1 Syawal 1445 Hijriyah disebutnya akan jatuh pada 10 April 2024.
 
Lebih lanjut, dalam kesempatan tersebut selain maklumat penetapan awal Ramadhan dan Syawal, PP Muhammadiyah turut menetapkan awal Dzulhijah 1445 H yang mana hal ini juga menetapkan Hari Raya Idul Adha 2024.
 
Sayuti menerangkan, bahwasanya untuk wilayah Indonesia tanggal 1 Dzulhijah 1445 H jatuh pada  Sabtu Legi 8 Juni 2024.
 
 
Dari situ maka dapat disimpulkan bahwa, Hari Arafah 9 Dzulhijah 1445 H jatuh pada hari Ahad Wage atau 16 Juni 2024.
 
"Sementara Idul Adha (10 Dzulhijah 1445 H) jatuh pada hari Senin 17 Juni 2024," terangnya.
 
Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir menuturkan, adapun maklumat tersebut disampaikan sebagai panduan bagi umat muslim agar bisa melaksanakan ibadah puasa sebagaimana yang telah dimaklumatkan. Terutama Muhammadiyah. 
 
"Kami sangat menghargai jika ada perbedaan metode hisab, kita juga sudah terbiasa dengan perbedaan itu," lontarnya.
 
 
Lebih lanjut, Prof Haedar turut berpesan kepada seluruh kaum muslimin untuk bisa menyikapi perbedaan tersebut secara bijak dan toleran.
 
Dikatakannya, boleh jadi akan ada perbedaan awal mula puasa. Misalnya, di kelompok-kelompok kecil. 
 
Maka, persamaan atau perbedaan itu harus menjadikan semua pihak terbiasa untuk toleransi termasuk dalam memulai bulan puasa.
 
"Ini akan memperkuat niat kita beribadah, selama ada perbedaan dalam metode maka selalu ada perbedaan dalam penentuan awal Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha," terangnya.
 
 
Ia berharap, perbedaan tidak perlu sampai ribut yang membuat nilai ibadah justru berkurang.
 
Dia meyakini semuanya punya niatan baik untuk memperkaya relasi hubungan sosial yang damai dan membawa umat dan bangsa semakin berkemajuan.
 
"Ada persamaan atau perbedaan tidak kalah pentingnya memaknai ibadah untuk mengamalkan keislaman yang lebih baik," tandasnya. (iza)
Editor : Amin Surachmad
#puasa #Muhammadiyah #Pimpinan Pusat #ramadhan #ramadan #1445 hijriah