Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dhaup Ageng Pakualaman 2024, Masuki Prosesi Siraman Kedua Calon Penganten, Libatkan Siapa Saja?

Winda Atika Ira Puspita • Selasa, 9 Januari 2024 | 21:30 WIB
BERSIH: Laily Annisa Kusumastuti menjalani siraman pada Selasa (9/1) sebelum melangsungkan akad nikah pada Rabu (10/1) pagi. (Dok Media Center Dhaup Ageng Pakulaman 2024)
BERSIH: Laily Annisa Kusumastuti menjalani siraman pada Selasa (9/1) sebelum melangsungkan akad nikah pada Rabu (10/1) pagi. (Dok Media Center Dhaup Ageng Pakulaman 2024)

JOGJA - Putra bungsu KGPAA Paku Alam X Bendara Pangeran Harya (BPH) Kusumo Kuntonugroho dan calon istrinya Laily Annisa Kusumastuti menjalani siraman pada Selasa (9/1) sebelum melangsungkan akad nikah pada Rabu (10/1) pagi.

Tim Pranatan Adat Dhaup Ageng Pakualaman 2024 Kanjeng Raden Nganten Tumenggung Retno Sumbogo menjelaskan, upacara siraman dilakukan sebagai bentuk pembersihan diri secara lahiriah dan batiniah bagi calon penganten perempuan.

Pertama-tama caten putri disengker atau dipingit di Kagungan Dalem (KD) Kepatihan.

Kedua penganten melaksanakan tradisi siraman di dua tempat terpisah.

Caten putri mengikuti siraman di KD Kepatihan. Sementara caten kakung mengikuti siraman di KD Gedhong Parangkarsa.

"Tadi jam delapan lebih Gusti Putri mengeluarkan beberapa sarana yang dipakai untuk siraman caten putri dan kakung dari dalem ageng Maerokoco. Ada lima abdi dalem putri yang kemudian membawa beberapa perlengkapan dibawa ke kepatihan, abdi dalem kakung membawa perlengkapan siraman kakung dan ditemlatkan di Gedhong Ijem di mana Mas Bhismo lenggah," katanya saat Jumpa Pers usai prosesi Siraman di Media Center Pura Pakualaman Selasa (9/1).

Dia mengatakan, yang melaksanakan siraman kepada caten putri di antaranya ayahanda Tri Prabowo 

Selain  itu, ada bude dan eyang dari caten putri. Termasuk, Gusti Putri atau ibunda dari caten kakung dan beberapa keluarga ceten putri.

"Setelah jumlah ganjil sembilan ibu yang nyirami, kemudian terakhir bapak (KGPAA Paku Alam X) maringi toyo (air) klenthing kemudian untuk wudhu Laily, setelah selesai dipecah klenthingnya," ujarnya.

Pecah klenthing yang dilakukan oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X tersebut sembari mengucap "niyat ingsun mecah klenthing dadi sarana pecah pamore Laily Annisa Kusumastuti".

Ucapan tersebut adalah harapan pada saat calon penganten perempuan dirias akan memancarkan aura sehingga terlihat semakin cantik.

Baca Juga: Kasus Kekerasan Seksual Terhadap 15 Murid SD di Kota Jogja, Ini Langkah Lanjutan Polisi

"Selanjutnya, calon penganten perempuan diberi pakaian kain batik bermotif Indra Widagda Jatmika yang merupakan varian motif Indra Widagda dengan paduan motif tradisional 'nitik'," jelasnya.

Adapun kain motif Indra Widagda Jatmika mengandung harapan akan hadirnya ketenangan dan keharmonisan dihati kedua calon penganten.

Sebelum dirias, caten putri diawali dengan Ngerik yang dilakukan oleh Gusti Putri dilanjutkan perias penganten.

Ngerik mengandung arti mencukur sinom atau rambut halus yang ada di dekat dahi. Prosesi ini dilakukan usai siraman.

Setelah rambutnya kering, calon pengantin wanita mulai dirias dengan membuat cengkorongan paes, baru kemudian penata rias mulai ngerik.

"Kenudian Gusti Putri nindaki kondur ke Puro Pakualaman dilanjutkan siraman calon penganten kakung," terangnya.

Menurutnya, pranatan siraman kakung ini sebagian besar sama. Hanya ada perbedaan yang melaksanakan siraman caten kakung.

Sementara, yang melaksanakan siraman atau yang nyirami caten putra di antaranya Permaisuri KGPAA PA X yaitu GKBRAA Paku Alam selaku ibunda.

Kemudian, Permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X yaitu GKR Hemas.

Ada pula eyang dari caten kakung atau ibunda Gusti Putri yakni Harnadi, beberapa bendara dari Kasunanan, dan para pejabat di pemerintahan Jogjakarta.


"Setelah siraman berjumlah ganjil, Gusti Putri yang mengakhiri dengan berwudlu dan pecah klenthing sambil mengucap niyat ingsun mecah klenthing dadi sarana pecah pamore BPH Kusumo Kuntonugroho," tambahnya.

Kemudian caten putra ini berganti busana di KD Gedhong Ijem dengan mengenakan nyamping batik bermotif Indra Widagda Jatmika yang merupakan varian motif Indra Widagda dengan paduan motif tradisional nitik.

"Setelah itu calon penganten laki-laki kembali menuju ke KD Gedhong Parangkarsa," katanya.

Adapun seluruh pranatan yang dilakukan kedua calon penganten pada Dhaup Ageng Pakualaman 2024 ini hampir sama dengan Dhaup Ageng Pakualaman 2019 lalu di mana ketika putra sulung KGPAA PA X menikah.

Hanya, perbedaannya terlihat pada kain motif batik yang diciptakan oleh sang ibunda.

Pun uniknya dari pernikahan agung di lingkungan kerajaan ini karena ada caten putri yang disengker. Hal ini, yang tidak terjadi di masyarakat.

Biasanya, di masyarakat yang terjadi caten kakung berada di lingkungan caten putri.

"Sebetulnya siapapun kakung atau putri tetap masuk dalam sengker. Kalau di Keraton ada Kasatriyan, kalau di Puro masuk dalem Kepatihan calon penganten putri disengker disini sudah tidak keluar-keluar sampai hari H," imbuhnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#paku alam #siraman #Dhaup Ageng