Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Makin Banyak Wisatawan ke DIJ, Dampak Negatifnya Harus Diantisipasi sejak Sekarang

Agung Dwi Prakoso • Selasa, 2 Januari 2024 | 06:10 WIB
Ikaputra, Ketua Pustral UGM
Ikaputra, Ketua Pustral UGM

RADAR JOGJA - Pembangunan jalan tol dan jalur jalan  lintas selatan (JJLS) di DIJ hampir selesai. Dampak positifnya, sektor perekonomian di wilayah Jogjakarta diperkirakan akan meningkat. Akan tetapi setiap pembangunan akan ada dampak negatifnya. Salah satunya, polusi dan kepadatan jumlah pengunjung yang masuk.

 "Ini peluang dari segi peningkatan ekonomi. Nanti wisatawan akan banyak datang ke DIJ, hal itu juga harus diimbangi dengan kebijakan atau pengaturan lingkungan yaitu mengurangi karbon atau polusi akibat kendaraan yang banyak datang. Jika tidak dilakukan, akan terjadi perubahan iklim yang artinya kemarau panjang, banjir dan lain-lain. Hal itu harus segera diantisipasi,"  ujar Ketua Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Ikaputra kepada Radar Jogja (29/12).

Pertengahan 2024 jalan tol diprediksi sudah sampai Ringroad Utara. Untuk JJLS sampai saat ini juga hampir tersambung, tinggal sekitar 27 km. "Kalau tidak salah JJLS juga akan terkoneksi dengan jalan Jogja-Solo. JJLS juga nantinya akan berdekatan dengan gerbang keluar di Purwomartani, dekat Stasiun Kalasan,"  tuturnya. 

 Semua jalan itu akan terkoneksi dengan DIJ. Artinya pergerakan barang dan orang akan lebih mudah, cepat dan efisien untuk masuk ke Jogja atau keluar Jogja. "Ekonominya baik. Tapi kalau orang tidak nyaman melakukan perjalanan karena udara jelek, banjir dan lain-lain, kan juga sama saja," ujarnya.

Strategi menanggulangi dalam hal ini adalah pengaturan transportasi yang ramah lingkungan. Salah satunya kebijakan yang pro kepada transportasi umum atau publik. Orang yang nanti akan datang ke Jogja diusahakan harus menggunakan transportasi umum. 

"Contoh rekayasanya adalah disediakanya rest area di luar pintu gerbang tol. Karena itu bisa dimanfaatkan agar bisa terkoneksi dengan tranportasi publik atau shuttle bus ke arah kota, sehingga bisa mengurangi kendaraan pribadi," ujarnya. 

Beberapa inovasi juga sudah direncanakan untuk pembangunan jalan tol. Jalan tol diharapkan tidak hanya digunakan untuk lewat, karena biasanya orang yang mengakses jalan tol hanya sekadar lewat saja, tidak bisa mampir ke DIJ. Tentunya hal itu akan berpengaruh pada sektor ekonomi.

Khusus Jogja, nanti rencananya akan dibuat RAM atau pintu masuk dan keluar. Intinya akan banyak akses masuk dan keluar tol agar pengguna tol bisa mengakses wilayah yang dilewati tol tersebut. "Artinya kita punya inovasi terhadap pemanfaatan jalan tol di suatu kawasan. Walaupun nanti ada perkembangan terkait penerapannya, setidaknya sudah ada upaya," tandasnya.

Dikatakan, JJLS juga akan membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya nilai tambah harga tanah menjadi naik. Dampak negatifnya semakin banyak orang yang akan mengakses lahan di sekitar JJLS, sehingga banyak terjadi perubahan penggunaan lahan.

Oleh karena itu regulasi izin terkait  RDTL atau RTBL kawasan spesifik harus lebih ditegakkan. "Hubungannya transportasi, kawasan hijau, mengatasi polusi dan mengatasi pengembangan kawasan. Tiga komponen itu harus diperhatikan," ungkapnya. 

Pembangunan jalan yang terkoneksi dengan DIJ semua harus terencana dan teratur. Kalau tidak akan percuma karena nanti pasti menimbulkan masalah-masalah baru. Selain itu, banyaknya pembangunan jalur itu juga harus diimbangi pengembangan jalur pedestarian, karena hal itu menjadi daya tarik dan kenyamanan wisatawan yang berkunjung. 

Sementar itu, peneliti senior Pustral UGM Muslich Zainal Asikin menambahkan, secara konsep pembangunan Jogja harus cepat menyelesaikan jalur dari arah selatan. Mestinya Pemprov  DIJ melalui berbagai cara harus mendorong JJLS agar cepat selesai.

 "Momen libur Nataru pengaruh dari utara sangat dominan. Apalagi tol Solo-Karanganom sudah dibuka, meski baru percobaan supaya tidak terjadi kemacetan," tuturnya.

Pembangunan jalan di sisi utara memang sudah dominan. Dominasi pembangunan itu, sisi selatan akan sulit mengejar. Pembangunan jalan dinilai belum berimbang karena di jalur selatan peran pemerintah dinilai terlalu dominan. Sedangkan di sisi utara peranan lembaga non pemerintahan sangat mendukung. 

Pihaknya menilai pembangunan di Jogja agar berimbang maka pintu harus dari selatan.  Kalau tidak, wilayah Bantul dan Gunungkidul akan ketinggalan. Kalau dalam proses penyelesaian pembangunan jalan di area selatan tidak cepat, potensi wisatawan atau pengunjung juga akan banyak ke arah utara. "Itu nanti yang panen area Magelang. Karena di Magelang, khususnya Borobudur sudah sangat potensial," tandasnya.

Muslich juga menyampaikan dalam data penelitian selama ini, penumpang terbanyak untuk wisatawan Jogja ada di utara dan timur. Salah satu efeknya Terminal Giwangan sepi. "Sebaliknya bagian utara yang tidak dipersiapkan malah ramai, seperti Terminal Jombor dan lain-lain," ujarnya. 

Dengan banyak dibangun akses jalan yang masuk ke wilayah DIJ, secara keseluruhan ekonomi DIJ akan bangkit. Tapi bangkitnya bisa potensial jangka panjang dan terus menerus masih tanda tanya. 

 "Misal JJLS sudah jadi,  ya harus total pengawasan dan penataan kawasan di sekitar JJLS itu. Jangan membangun gedung atau bangunan seenaknya sendiri. Berjualan  juga harus diatur dan ditata, karena kalau tidak juga menyebabkan macet di jalan,"  jelasnya.

Pembangunan hotel dan tempat wisata di pinggir jalan utama yang besok potensial menjadi penyakit di masa depan harus diblok merah. Hal itu akan berpengaruh pada kemacetan nantinya. (cr5/laz)

Editor : Satria Pradika
#JJLS #jalan tol #Wisatawan