Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dukung Kawasan Sumbu Filosofi Rendah Emisi, Becak Listrik Di-Launching

Winda Atika Ira Puspita • Minggu, 24 Desember 2023 | 14:00 WIB
MEMANUSIAKAN MANUSIA: Wagub DIJ Paku Alam X saat melaunching Becak Kayuh Bertenaga Alternatif (Berkreatif) di Taman Parkir Ketandan, Kota Jogja, kemarin  (23/12).
MEMANUSIAKAN MANUSIA: Wagub DIJ Paku Alam X saat melaunching Becak Kayuh Bertenaga Alternatif (Berkreatif) di Taman Parkir Ketandan, Kota Jogja, kemarin (23/12).

RADAR JOGJA - Pemprov DIJ me-launching Becak Kayuh Bertenaga Alternatif (Berkreatif) di Taman Parkir Ketandan, Gondomanan, Jogja, kemarin (23/12). Becak listrik ini untuk mendukung kawasan sumbu filosofi yang telah ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage City pada tahun 2023. Peluncuran becak listrik ini juga perwujudan penerapan low emision zone berupa pengaturan moda transportasi tradisional di kawasan sumbu filosofi.

"Saya mengapresiasi diluncurkannya becak kayuh dengan tenaga alternatif beserta sarana prasarana pendukungnya ini," kata Wakil Gubernur DIJ Paku Alam (PA) X saat membacakan sambutan Gubernur Hamengku Buwono (HB) X.

PA X menjelaskan, apresiasi itu terutama kepada Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT) DIJ atas keseriusan dalam membangun prototipe becak yang paling layak dari segi teknis. Tentunya juga secara langsung maupun tidak langsung turut mempengaruhi kelayakan segi non-teknis.

 "Sedangkan kepada BPTTG DIJ, Dinas Perhubungan, serta pihak-pihak lain yang telah turut berkontribusi, saya juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kesediaannya untuk urun pikir, urun tenaga, dan urun sumber daya, dalam menemukan solusi atas isu terkait becak kayuh serta isu penurunan emisi di DIJ," ujarnya.

Menurutnya, becak kayuh merupakan salah satu ikon Jogja dan bagian tak terpisahkan dari nostalgia tentang Jogja. Agar tetap hidup, tradisi atau budaya dinilai tidak boleh stagnan. Ada dinamika zaman yang harus diikuti, tanpa menghilangkan esensi tradisi atau budaya dimaksud. Ada pula kewajiban untuk memanusiakan manusia yang harus terus diupayakan, terlebih karena ini sudah menjadi komitmen jangka panjang DIJ.

Kepala Dinas Perhubungan DIJ Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan, selama ini keberadaan becak motor yang ada di kawasan sumbu filosofi tidak mencerminkan penerapan low emision zone, sehingga perlu dilakukan pengaturan dan penyesuaian. Penyesuaian yang dapat dilakukan yaitu dengan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan pada becak kayuh dan dapat meningkatkan performa becak tersebut.

"Sebenarnya ide sejak 2017 memang banyak proses harus dilalui. Dulu namanya pedal axis, ternyata itu masih berat ketika dikayuh. Ini tahun 2022 kami membuat prototipe sempat dipirsani Ngarsa Dalem, salah satu merekomendasikan becak wisata menjadi varian. Becak kayuh sementara ini becak kayuh tradisional secara bentuk,"  katanya.

 Ni Made menjelaskan becak kayuh bertenaga alternatif ini sebagai bagian menata kawasan sumbu filosofi yang lebih baik, terutama dari sisi transportasi kendaraan tidak bermotor. Sebab, keberadaan becak motor selama ini dalam undang-undang tidak masuk kategori apa pun sebagai kendaraan bermotor, sehingga perlu ditertibkan.

  "Jadi kita menertibkan semuanya. Maka harus ada solusi pilihan, ini pilihannya. Kami sudah melakukan pendekatan cukup lama dengan teman-teman becak," ujarnya.

Pada tahap pertama di tahun 2023 Dishub DIJ melaksanakan pengadaan sebanyak 50 unit becak kayuh dengan tenaga alternatif mengambil model desain prototipe dari BLPT DIJ. Becak yang diproduksi memiliki kemampuan maksimal daya angkut sebesar 250 kg dengan kapasitas penumpang.

Kemudian untuk membantu pengemudi becak dalam mengoperasional becak didukung dengan sistem pedal assits  motor mid drive 48 volt 750 Watt dan battery lithium 48 Volt 20 AH sebagai energi tambahan.  "Target kita sekitar 400 unit tapi bertahap, tidak bisa sekaligus. Ini tidak serta merta dilepas, ada pembinaan pendampingan karena ini sesuatu yang baru, apalagi ada mekanikal maka harus didampingi," jelasnya.

Sehingga uji coba penggunaan direncanakan dilakukan tahun 2024 mendatang, setelah seluruh pengemudi becak dilakukan pembinaan dan pendampingan cara pemakaiannya.  Namun demikian, becak kayuh kendaraan tradisional diharapkan dapat memperingan pengemudi becak dalam mengayuh becaknya dan kendataan tradisional tetap terjaga.

Penggunaan teknologi listrik pada becak kayuh ini berbeda dengan konsep yang ada pada motor listrik. Teknologi listrik (pedal assist) yang digunakan pada becak kayuh ini bertujuan untuk memperingan kayuhan dan tidak menghilangkan kegiatan mengayuhnya.

"Kami juga bangun charging station untuk mendukung operasional, sehingga jika daya listrik di becak sudah habis dapat dilakukan pengisian daya listrik di charging station secara gratis, tanpa dipungut biaya," terangnya.

Charging station dibangun di area Tempat Khusus Parkir (TKP)  Ketandan yang memiliki letak strategis dan dekat dengan Jalan Malioboro. Charging station saat ini memiliki kapasitas daya tampung untuk pengisiaan daya becak sebanyak lima unit.

Dirlantas Polda DIJ Kombes Pol Alfian Nurrizal mengatakan, diskresi moda transportasi itu perlu didukung. Apalagi memiliki legalitas terhadap UU Keistimewan dan Transportasi. Ke depan diharapkan Jogja menjadi destinasi wisata yang ramah lingkungan zero dari polusi.

"Ya tetap ini adalah transportasi publik. Ini adalah diskresi daripada moda transportasi dan ini tidak menghilangkan ketradisionalan, sehingga Kota Jogja adalah kota berbudaya,"  tambahnya. (wia/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Pemprov DIY #Becak Listrik #Sumbu Filosofi