JOGJA - Film Ir H Djuanda Kartawidjaja sudah mulai diproduksi mulai 30 Oktober 2023. Produksi film Djuanda diprakasai oleh Production House (PH) Mixpro, dinaungi oleh Lembaga Seni dan Budaya (LSB) Pimpinan Pusat (PP) Muhammdiyah.
Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mereka ialah Bintang Irfan Syahda sebagai Asisten Sutradara, Ibnu Sabtyo Nur Pangestu sebagai Talent Coordinator, dan Muhammad Kevin Adam sebagai Script Report.
"Senang tentunya, ada pengalaman baru dan cukup kewalahan juga karena jumlah talent dan extras-nya (pemeran figuran, red) lebih dari seratus orang,” ujar Ibnu, Senin (27/11/2023).
Baca Juga: Event Tahunan Sumonar 2023 Kembali digelar, Kali Ini Berani Tampil Beda di Museum AffandiDjuanda ialah pencetus Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957. Deklarasi tersebut menyatakan bahwa perairan yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia ialah bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah yurisdiksi Republik Indonesia.
Pada saat itu, Djuanda menjadi Perdana Menteri Indonesia. Dengan adanya deklarasi, batas wilayah perairan Indonesia menjadi jelas dan menjamin keamanan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Nama Djuanda memang sudah membumi di masyarakat Indonesia. Nama Djuanda dijadikan nama bandara di Surabaya, nama jalan dan bendungan. Bahkan, sosoknya juga ada di mata uang Rp 50 ribuan.
Baca Juga: Gara-Gara Bom di Medsos, Yoga Pratama Putra Diamankan Polisi: 'Enak Dijatohin Bom Kayaknya Nih!Meski namanya sudah akrab di telinga, namun tidak banyak yang tahu kiprah dan sepak terjangnya. Djuanda yang lahir di Tasikmalaya pada 14 Januari 1911 bukanlah politisi, orator atau frontliner.
Tapi, dia adalah sosok pahlawan di belakang layar dalam membangun Republik Indonesia. Djuanda diketahuuli hanya pernah mengikuti dua organisasi yakni Muhammadiyah dan Paguyuban Pasoendan.
Sebelumnya, UMY menjadi lokasi casting film. Kemudian produksi dan shooting film Djuanda berada di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah dan SMK Muhammadiyah Prambanan.
Manager Operasional PH Mixpro Era Sugiarso mengatakan proses produksi film Djuanda menggunakan teknologi Unreal Engine. Teknologi tersebut diketahui juga digunakan oleh Marvel dan Disney.
Baca Juga: Mitos Atau Fakta? Klaim Mengenai Efek Nonton Film Horor untuk Menurunkan Berat Badan"Teknologi Unreal awalnya biasa digunakan pada game. Teknologi ini menggunakan green screen atau blue screen. Aktor dan aktris akan berakting di depan blue screen dengan set up unreal yang telah dibuat sesuai kebutuhan shooting. Pada teknologi ini yang bergerak adalah unreal engine dan kamera,” jelasnya.
Di sisi lain, dia berharap dengan terlibatnya mahasiswa UMY pada pembuatan film dapat memberikan pengalaman berharga. Sehingga ke depan, UMY bisa membuat film layar lebar sendiri.
“Kami mendorong mahasiswa untuk terjun langsung magang dan ikut produksi ini. Harapan kami UMY bisa membuat film layar lebar sendiri,” imbuhnya. (lan)