JOGJA - Tiga narapidana terorisme (napiter) di Lapas Wirogunan Jogja menjalani ikrar setia terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kemarin (9/11). Ketiganya adalah Syahrial, Syamsudin, dan Sunaryandoyo yang berasal dari jaringan terorisme berbeda-beda.
Syamsudin kelahiran Medan tetapi bertempat tinggal di Padang. Pria berusia 49 tahun itu termasuk dalam jaringan terorisme Jamaah Islamiyah (JI). Sunaryandoyo merupakan napiter jaringan Jamaah Amar Daulah (JAD). Sedangkan Syahrial juga masuk jaringan JAD. Ketiganya divonis Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur selama 3,5 tahun penjara.
Mengenakan baju putih dan celana hitam, ketiganya juga berpeci hitam. Pengambilan sumpah setia NKRI dilakukan di Aula Lapas Wirogunan. Masing-masing napiter membacakan ikrarnya secara bergantian. Dimulai Syamsudin, dilanjutkan Sunaryandoyo dan diakhiri Syahrial. Ketiganya yang beragama Islam diambil sumpah di bawah kitab suci Alquran. Usai membacakan janji, mereka memberi penghormatan dan mencium bendera Merah Putih dengan penuh haru.
Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham DIJ Agung Rektono Seto mengatakan, ikrar ini menjadi contoh untuk napiter lainnya di Indonesia. Pengambilan ikrar menjadi bukti jika napiter bisa kembali dalam naungan NKRI. Dia berharap ke depan dapat menjadi warga negara Indonesia yang lebih baik.
"Semoga yang sudah dilakukan saat ini dapat menjadi jalan menuju kebaikan dalam menjalani sisa pidana di Lapas Wirogunan," katanya kemarin (9/11).
Agung mengklaim, ikrar setia ini merupakan wujud keberhasilan deradikalisasi Lapas Wirogunan Jogja. Di wilayah Kemenkumham DIJ, ada empat napiter yang dibina. Bisa dijadikan percontohan jika napiter dikembalikan cinta terhadap NKRI. Pembinaan akan jalan terus terhadap ketiganya.
Kepala Lapas Wirogunan Soleh Joko Sutopo menambahkan, sisa masa tahanan ketiganya sekitar satu tahun. Syamsudin dan kawan-kawan masuk Lapas Wirogunan pada 20 September 2023. Menurutnya, ketiganya sudah menjalani pembinaan dengan baik.
"Pertama mengikuti masa pengenalan lingkungan, salat berjamaah, salat Jumat, mengikuti penyuluhan hukum, nanti pada 17 November melaksanakan upacara bendera ketiga napiter akan menjadi petugas pengibar bendera," tuturnya. Saat ini ada 521 warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Selain itu, para napiter sudah menjalani masa pidana dengan kooperatif. Misalnya mengikuti segala pembinaan dengan penuh semangat sehingga mencerminkan perilaku ideologi Pancasila. Oleh karena itu, dapat bersosialisasi dengan WBP lainnya.
Soleh mengaku dari stakeholder pembinaan yang membantu Lapas Wirogunan, ketiga napiter telah menunjukkan perubahan sikap dan perilaku menjadi lebih baik. "Serta mengakui ideologi Pancasila," tandasnya. (rul/laz)
Editor : Satria Pradika