Menyemarakkan Hari Santri Nasional 2023, Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) menyelenggarakan Sosialisasi Pancasila di Pondok Pesantren Pandanaran, Sleman, Minggu ( 22/10/2023).
Acara ini dihadiri Kepala BPIP Prof KH Yudian Wahyudi, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIJ) Dr KH Ahmad Zuhdi Muhdlor MHum. Dewo Wisnu Broto dari Kesbangpol DIJ, Deputi Bidang Hubungan Antarlembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP Ir Prakoso MM.
Pembicara lain Wakil Rektor 2, Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan UIN Sunan Kalijaga, yang juga Pengasuh Pondok Pesatren Baitul Hikmah dan Ketua Asosiasi Ilmu Alquran dan Tafsir se-Indonesia Prof Kiai Sahiron, dan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Hj Fany Rifqoh SPd MPsi.
Yudian Wahyudi menjelaskan, banyak hal istimewa yang diberikan oleh Allah SWT kepada bangsa Indonesia.Diantaranya penjajahan Belanda dan Jepang 350 tahun dan 3,5 tahun, Bangsa Indonesia diberikan anugerah kecerdasan untuk menyerap keilmuan dunia dari penjajah Belanda maupun Jepang. Bangsa Indonesia juga diberi anugerah Allah SWT, sehingga dapat melaksanakan proklamasi sebagai revolusi tidak berdarah yang terjadi dalam waktu kurang lebih 59 detik, yang menyatukan 58 negara tanpa pertumpahan darah. Hal tersebut terjadi karena nikmat yang diberikan oleh Allah karena bangsa Indonesia beriman kepada Allah dan Bersatu “ wa’tasimu bi hablillahi jamiia wala tafarroqu”(nikmat iman dan persatuan).
Proklamsi Indonesia adalah yang terhebat dalam sejarah umat manusia karena terjadi di fase perang dunia ke dua yang melibatkan lima benua. Ini bisa juga dikatakan sebagai Mu’jizat kedua dari Allah SWT. Karena sebelumya Indonesia juga pernah menerima Mu’jizat yang pertama, yakni peristiwa Sumpah Pemuda. Kalimatnya yang sederhana berhasil menyatukan kaum pemuda dan membungkam kaum penjajah Hanya ada di Indonesia para pemuda mendeklarasikan diri dalam berbangsa, berbahasa dan bertanah air satu Indonesia, yang membuat para raja, para sultan tunduk memilih negara Indonesia yang belum merdeka. Semua bersatu, berjuang bersama hingga setelah 30 tahun kemudian dapat meraih kemerdekaan tanpa pertumpahan darah.
Namun setelah merdeka umat Muslim di Indonesia tertinggal dari kemajuan peradaban. Hal itu dikarenakan umat Islam telah membuang ilmu-ilmu ilmiah dasar dari kurikulum madrasah yang waktu itu diterapkan dalam kurikulum madrasah Andalusia. Umat Islam belum serius dalam mempelajari ilmu-ilmu murni (biologi, kimia, fisika) kalangan Islam dan hanya mempelajari ilmu agama tidak seperti ibnu rusyd yang mempelajari kedua kajian tersebut.
Dari semua kebaikan yang dianugerahkan Allah SWT kepada Bangsa Indonesia itu, terumuslah Pancasila yang mengandung nilai-nilai yang luhur dari lima silanya. “Intinya dengan nilai falsafan Pancasila ini , kita adalah bangsa yang paling di ridhoi Allah SWT,” ungkap Prof. Yudian Wahyudi. Oleh karena itu pihaknya mengajak para santri untuk bersyukur. Yaitu dengan cara belajar yang sungguh-sungguh. “Silahkan memilih tempat belajar yang paling cocok dan ideal dengan keilmuan santri, ihtilafu ummati rohmatun, dan mengamalkan nilai –nilai luhur yang terkandung dalam sila-sila Pancasila dalam kehidupan para santri sehari-hari,” ajak Prof. Yudian Wahyudi.
Ir, Prakoso MM menambahkan, Mengapa hari santri diperingati setiap tanggal 22 Oktober, karena pada tanggal tersebut sekutu masuk wilayah Indonesia, dimana dawuhnya KH, Hasyim mempertahankan negara adalah jihad, dan ulama mengambil peranan dan memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam merebut kemerdekaan. Tidak mudah mempertankan kemerdekaan dan mengisinya karena harus menjaga sebuah peradaban dan itu hanya dapat dilakukan dengan bertambahnya ilmu serta ketaqwaan. Santri menjadi solusi dalam meningkatkan ilmu dan ketaqwaan serta dalam mengawal ideologi bangsa yang akan memberikan dampak positif dalam mengisi kemerdekaan. Santri yang berideologi Pancasila, memiliki ilmu dan ketaqwaan akan berdaya saing nasional maupun global.
K.H. Ahmad Zuhdi Muhdlor dalam paparannya bertajuk Peran Strategis Santri Dalam Menjaga Pancasila Dan NKRI menyampaikan, Pancasila adalah ideologi bangsa yang telah disepakati bersama. Bagi santri dan kalangan nahdliyin, Pancasila bukanlah barang baru, karena nilai-nilai dan falsafah luhur yang ada di dalam Pancasila telah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada satupun nilai-nilai dalam Pancasila yang bertentangan dengan nilai-nilai dalam agama. Perumus Pancasila adalah orang yang sangat cerdas yang berhasil merumuskan nilai-nilai luhur agama sebagai tuntunan hidup masyarakat Indonesia kedalam lima sila Pancasila. Pancasila bukan hanya sekedar fakta, akan tetapi Pancasila sebagai norma. Di negara Indonesia banyak agama dan kepercayaan dan perbedaan yang muncul didalamnya dapat dipersatukan dengan Pancasila. Meskipun Pancasila bukanlah agama, akan tetapi Pancasila mengakomodir para pemeluk agama untuk menjalankan agamanya, jelas Kiai Muhdlor.
Hj. Fany Rifqoh dalam paparannya bertajuk Jihad Santri Sunan Pandanaran Jayakan Negeri, melalui Penguatan Ideologi Pancasila dan Moderasi Beragama menambahkan, Santri Pandanaran dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dapat dilihat dari itiked dan juga toleransi yang dimiliki terhadap pemeluk agama lain. Pesantren adalah Lembaga Pendidikan yang mendidik santri tentang agama dan moral hal teesebut senada dengan kepercayaan diri para santri dengan keyakinan dalam melaksanakan sikap toleransi kepada pemeluk agama lain. Santri tidak hanya mengkaji kitab-kitab klasik. Akan tetapi harapan besar yang di amanahkan untuk para santri adalah setelah kembali dalam kehidupan bermsyarakat, para santri dapat menerapkan ilmu-ilmu umum yang telah dipelajari waktu dipesantren."Santri diajarkan untuk melawan ketidaksetaraan, dalam kemanusiaan,"jelasanya.
Dewo Wisnu Broto menyampaikan, Hari Santri menjadi tonggak penting bagi pengakuan peran santri dalam perjuangan kemerdekaan nasional. Penanaman ideologi Pancasila bagi santri dengan tema “ jihad santri jayakan negeri” memiliki arti yang sangat mendalam terkait peran dan sumbangsih santri dalam menjayakan negeri. Santri memiliki tanggung jawab atas perintah dan maklumat dari kyai dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila pada kehidupan sehari-hari, dan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Prof Sahiron melalui makalahnya berjudul Peran Santri Dalam Implementasi Nilai Pancasila di Era Kontemporer menegaskan bahwa Nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila (sila pertama-sampai sila ke lima) sudah sesuai dengan ajaran dalam agama Islam. Oleh karena itu pihaknya mengajak para santri untuk membela dan mendukung Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menolak segala gerakan yang tidak sejalan dengan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Para santri juga hendaknya dapat berperan sebagai agen yang dapat memberi contoh kepada masyarakat luas dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Santri juga harus dapat berperan memajukan bangsa dan negara dengan gigih belajar menguasai ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu umum dalam bidang tertentu yang ingin ditekuni. “Jadi para santri hendaknya dapat meraih predikat sebagai ulama yang ilmuwan,” tegas Sahiron.
Editor : Din Miftahudin