RADAR JOGJA – Pelajar SD-SMP ikut menyemarakkan HUT ke-267 Kota Jogja 7 Oktober mendatang. Mereka turun ke jalan dengan mengenakan beragam kostum unik dan pakaian adat kemarin (4/10). Gelaran Karnaval Budaya Pelajar ini pun semakin meriah dengan adanya maskot dan tabuhan alat musik oleh pasukan drum band.
Salah satu sekolah yang turut meramaikan karnaval ini adalah SD Negeri Vidya Qasana. Sekolah yang beralamatkan di Jalan Tentara Pelajar 23 Kota Jogja ini mengerahkan seluruh siswa kelas 1-6.
Kepala SD Negeri Vidya Qasana Dewi Rakhmawati menyebut, masing-masing kelas diminta untuk memakai kostum yang berbeda. Ada yang memakai kostum bertema flora dan fauna, tema profesi, hingga pakaian adat nusantara.
“Agar anak-anak juga tahu hari lahirnya Kota Jogja, sejarahnya seperti apa kemudian anak-anak bisa mencintai budaya Jogja,” kata Dewi saat ditemui kemarin (4/10).
Dewi menjelaskan, pelestarian budaya terbilang gencar dilakukan di SD Vidya Qasana. Misalnya, dengan penggunaan pakaian adat Jawa dan bahasa Jawa setiap Kamis Pahing. Meski belum sepenuhnya lancar berbicara bahasa Jawa, setidaknya ini menjadi langkah pembiasaan siswa untuk melafalkan bahasa Jawa.
Selain itu, siswa juga diminta untuk menerapkan unggah-ungguh. Contohnya, setiap pagi sebelum memasuki kawasan sekolah siswa harus menyapa guru terlebih dahulu dengan bahasa Jawa.
“Dua atau tiga guru menyambut anak-anak, sambil anak-anak salam, cium tangan, kemudian mengucapkan salam sugeng enjing, sugeng rawuh, itu kita biasakan. Jadi dari hal-hal seperti itu pembiasaan setiap hari, budaya ngajeni namanya,” jelas warga Pandeyan ini.
Wali murid kelas 3 Nurhayati mengaku, anaknya senang dan antusias mengikuti Karnaval Budaya Pelajar. Putranya mendapat jatah untuk mengenakan kostum bertema flora dan fauna. Kostum dibuat secara gotong royong bersama anggota paguyuban orang tua.
Menurutnya, ini menjadi langkah yang baik dalam rangka melestarikan kebudayaan Jogjakarta. Apalagi, dikemas dengan nuansa yang menyenangkan. Sehingga, anak-anak senang hati mengikuti gelaran dari awal hingga selesai.
“Saya berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan karena ini sebagai upaya untuk pelestarian budaya,” ungkap Nurhayati. (isa/eno)
Editor : Satria Pradika