RADAR JOGJA - Akhir pekan ini momentum yang tepat untuk dolan ke Balai Yasa Jogjakarta. Tempat yang terkenal sebagai bengkelnya kereta api ini sedang menggelar Jogja Spoor Festival.
Selain bisa melihat seluk beluk Balai Yasa, juga menjajal naik jereta rel diesel di kawasan Balai Yasa. Event ini berlangsung dari Jumat (29/9) hingga Minggu (1/10).
Executive Vice President UPT Balai Yasa Jogjakarta Eko Windu Widio Purnomo menuturkan event ini kali kedua diselenggarakan setelah 2022. Pada tahun sebelumnya berhasil menggaet 14 ribu pengunjung.
Sementara untuk 2023 ditargetkan lebih dari 20 ribu pengunjung akan turut meramaikan Jogja Spoor Festival.
“Kami hadirkan kembali open house, namun ada yang berbeda karena tahun ini kami berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kota Jogja. Fokusnya tetap edukasi dengan menghadirkan beragam pengetahuan yang berada di Balai Yasa,” jelasnya ditemui di Balai Yasa Jogjakarta, Jumat (29/9).
Eko berharap open house ini dapat menjadi konsep baru menikmati wisata di Kota Jogja. Terlebih, Kota Jogja memang sentral transportasi kereta di wilayah Daerah Istimewa Jogjakarta.
Ini terbukti dengan keberadaan dua stasiun besar yakni Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Tugu Jogjakarta.
Keberadaan moda transportasi kereta, lanjutnya, perlu adanya sektor pendukung. Dalam hal ini, Balai Yasa yang berperan penting merawat gerbong dan lokomotif. Sehingga dapat menjamin keamanan dan kenyaman para penumpang kereta jarak dekat maupun jauh.
“Ini jadi konsep baru dan keunikan dalam edukasi. Serta dapat menjadikan salah satu destinasi ukuran pariwisata yang berkelanjutan secara rutin. Para orangtua dapat mengajak anak-anaknya untuk mengenal seluk beluk kereta api,” katanya.
Penjabat Wali Kota Jogja Singgih Raharja berharap open house berlangsung secara rutin. Tak hanya dengan Jogja Spoor Festival namun juga kegiatan lainnya.
Menurutnya, kegiatan serupa dapat menjadi edukasi sekaligus paket wisata yang menarik di Kota Jogja.
Singgih menilai konsep wisata di Balai Yasa sangatlah tepat.
Terlebih dengan target pengunjung siswa sekolah. Tujuannya agar edukasi tentang perkeretaapian tidak sekadar di stasiun tapi juga bengkel kereta.
“Pas untuk konsep wisata edukasi. Saya merekomendasikan untuk diteruskan reguler entah itu per weekend atau sebulan dua dua minggu atau satu minggu sebulan dua kali. Saya kira peminatnya sangat luar biasa terutama anak-anak,” ujarnya.
Singgih menambahkan, gelaran ini juga menjadi ajang edukasi pentingnya transportasi publik. Terlebih lagi untuk mengurai kemacetan di wilayah Jogjakarta pada umumnya.
Dengan demikian, tak akan terjebak kepadatan volume kendaraan saat akan berwisata ke Jogjakarta.
“Nah saya kira ini kesempatan yang baik untuk mempromosikan transportasi publik. Ini harus kita promosikan agar kemacetan yang ada di Kota Jogjakarta semakin berkurang. Salah satunya dengan kereta api ini,” pesannya. (dwi)