RADAR JOGJA - Pentas teater dengan judul "Megatruh" yang dipersembahkan Masa Art Community (MAC) di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu malam (23/9), berlangsung sukses. Sebanyak 800 kursi di Concert Hall tak kuasa menampung penonton, sehingga tak sedikit yang harus rela duduk lesehan di depan panggung.
Para penoton yang sebagian besar anak-anak muda itu bahkan belum beranjak dari tempat duduknya ketika pementasan berakhir sekitar pukul 21.00. Mereka memberi aplus tepuk tangan panjang saat tirai panggung ditutup. Penonton terus menunggu ketika master of ceremony (MC) memanggil kembali para pemain dan pentolan kru yang terlibat pementasan ke panggung, untuk diperkenalkan.
Begitu selesai diperkenalkan, para penonton pun berhamburan ke panggung untuk menyalami sutradara, produser, para aktor dan kru karena dinilai sukses pada pentas dalam rangka Milad Ke-3 MAC ini. Selain memberikan ucapan selamat dan apresiasi, para penonton juga berebut foto bersama dengan para pemain.
Selain sukses dalam hal mendatangkan penonton, pementasan teater malam itu juga tidak lepas dari penampilan semua yang terlibat. Tidak saja oleh 12 aktor yang beberapa di antaranya harus berganti beberapa peran, tapi juga seluruh pendukung. Bagian musik, properti, lighting, sound system dan kru lainnya, semua bekerja apik dan profesional. Semuanya total.
Pentas juga tidak monoton dengan panggung utama yang selalu berada di depan. Tapi, dalam beberapa adegan para pemain juga ada di tengah-tengah penonton. Alur ceritanya juga menjadikan penonton tegang, penuh penasaran, tapi beberapa kali juga dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh tingkah dan dialog para pemain.
Tak berlebihan kalau pementasan itu mendapat acungan jempol dan apresiasi dari penonton yang hadir. "Luar biasa pementasan teater malam ini. Semua bermain total. Tidak saja para pemainnya, tapi juga seluruh kru yang terlibat. Lihat saja, penonton sampai belum mau beranjak saat pentas sudah berakhir," ujar Slamet Agus, salah seorang penonton.
Guru Ilmu Komputer MAN 1 Jogja ini menilai pentas "Megatruh" oleh Masa Art Community sukses. Dan yang membanggakan, pentas ini mampu menarik perhatian kalangan muda untuk menonton meski harus membeli tiket. "Ini menandakan bahwa kalangan milenial juga tertarik oleh seni teater," ujar pembina seni di sekolahnya itu.
Penonton lain dari kalangan muda juga mengamini jika pementasan teater dengan produser Hadimas, writer & director Arif Billah, dan stage manager Imam itu apik dan enak ditonton. "Iya, bagus banget penampilan para pemainnya. Semua total dan penuh penghayatan," ungkap Cacha yang mengaku datang jauh-jauh dari Tempel, Sleman, untuk melihat pementasan ini.
Para pemain juga menyampaikan rasa senangnya bisa tampil total malam itu sehingga mendapatkan banyak diapresiasi dari para penonton. "Ya, ini berkat kerja keras semua yang terlibat pementasan. Semuanya semangat dan bekerja keras agar pentas ini bisa sukses," ujar Zia Fauziah yang tampil penuh penghayatan dengan peran ibu itu.
Pemain lain, M. Khadafi Irkhami juga mengaku lega dan senang bisa tampil maksimal dalam pementasan itu. Apalagi, ia merupakan pemain paling muda dan belum lama bergabung ke MAC. "Ini membuat saya makin semangat berlatih dan menyelami dunia teater," ujar siswa MAN 1 Jogja yang bermain dengan peran warga dan pocong itu.
"Megatruh" sendiri adalah proses pencabutan nyawa dari tubuh manusia, mengandaikan perpisahan antara jasad atau tubuh dan ruh. Hal ini juga dianalogikan dengan keadaan sebuah negara yang kehilangan esensi demokrasi sebagai fondasinya. Analogi yang kuat ini mengajak kita merenungkan pentingnya demokrasi dalam kehidupan sebuah bangsa.
Baca Juga: Masa Arts Community Akan Pentaskan Megatruh, Analogi Sebuah Negara yang Tinggal Jasadnya Saja
Pementasan ini juga menggambarkan perasaan ibu yang kehilangan anaknya. Rasanya seolah-olah nyawa ibu juga ikut dicabut bersamaan kehilangan anak tercinta. Namun dalam kesedihan itu, sang ibu terus mencari anaknya dengan harapan bisa bersatu kembali. Sehingga, tubuh dan ruh kembali utuh, hidup kembali, seakan mengalami “mati suri” yang penuh makna.
Pentas produksi MAC kali ini merupakan proses kreatif penyaduran dari naskah lakon "Roh" karya Wisran Hadi. Di mana dalam cerita berbicara tentang pencarian seorang ibu terhadap anaknya melalui mediumisasi ke dalam tubuh manusia.
Naskah "Roh" sendiri sebenarnya menggunakan metode-metode mediumisasi budaya minang. Namun, kali ini naskah tersebut diadaptasi oleh Arif Billah dengan menggunakan mediumisasi metode Jawa. (laz)
Editor : Satria Pradika